Pendidikan Yang Tak Dibutuhkan

Oleh Johan Wahyudi

Saat SD tahun 80an, guru mengajarkan pendidikan kewirausahaan di sekolah. Bentuknya asyik, yakni beternak ikan, ayam petelor, dan bercocok tanam.

Secara bergiliran, anak-anak diberikan tugas memberi makan ayam dan ikan. Pada musim tanam, anak-anak diajari cara bertanam padi, mulai dari menebar benih, menanam, hingga memanen. Pada kenaikan kelas,sekolah mengadakan pesta bersama hasil kerja bersama tadi.

Saat SMP pada 1985an, sekolah mengajarkan kewirausahaan yang berbentuk keterampilan menjahit dan elektronika. Diawali membuat pola celana dan baju dengan kertas koran, akhirnya dikembangkan dengan kain yang sebenarnya. Keterampilan elektronika pun mampu menghasilkan radio, interkom, lampu hias dan lain-lain.

Tidak hanya itu. Di sekolah juga disediakan lapangan tenis meja, badminton, dan bola. Anak-anak sering menghabiskan waktunya dengan bermain di lapangan. Riuh sekali hingga sore. Pokoknya betah banget anak-anak di sekolah.

Pendidikan di sekolah saat ini sarat dengan teoritis. Puluhan buku mesti diajarkan guru dan anak-anak pun mesti menguasainya. Karena mengejar waktu, guru sering ngebut meskipun anak-anak belum memahami isinya. Lucunya, anak-anak bisa mendapatkan nilai minimal 75 atau KKM.

Beberapa waktu lalu, Irawan Kusuma menuliskan kisah pendidikan di negara maju. Di SMA-nya dan SMA-SMA lainnya di Amerika, sekolah banyak liburnya. Paling tidak setahun kurang lebih 5 bulan.

Di SMA beliau dan SMA-SMA lainnya di Amerika, sekolah masuk jam 08.30 keluar jam 15.50. Di SMA beliau dan SMA-SMA lainnya di Amerika, mapel hanya ada 7 macam. Di SMA beliau dan SMA-SMA lainnya di Amerika, ujian final setahun cuma sekali. Tak pernah ada ulangan tengah semester atau ulangan semester.

Dengan pendidikan yang sedemikian singkat, kok bisa mereka jadi pemimpin-pemimpin dunia? Padahal di Indonesia, belajar sudah paling lama, mata pelajaran sudah paling lengkap, PR dan tugasnya sudah paling meribetkan, dan ujian sudah paling sering. Les pun sudah paling rajin.

Jawabannya ada pada sistem pendidikan dan diri kita sendiri.

Dulu saat TK dan SD kita semua lancar menjawab saat ditanya apa cita-cita kita. Tapi sekarang? Pasti kita jumpai banyak sekali remaja-remaja yang justru bingung akan cita-cita mereka bahkan tidak jarang bagi mereka yang pintar juga bingung atau ragu dengan cita-cita mereka. Apa sebabnya?

Karena sistem pendidikan kita salah. Sistem kita menuntut untuk mempelajari semuanya, tidak mendalami satu pun. Inilah yang membuat mereka yang mengejar nilai dan bingung akan cita-citanya karena sudah dibentuk sejak awal tidak mempunyai tujuan, sudah dibentuk tidak mendalami apa yang mereka cita-citakan.

Apa yg mereka dapatkan dari sekolah, yaitu sukses hanya dengan sebuah kertas ujian and just reading your book to be success. Padahal kalau sudah kerja, kita harus melakukan hal-hal kompleks, seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan membentuk ide, mewujudkan ide, menyelesaikan masalah dan lain-lain.

Apa yang mereka dapatkan dari sekolah adalah materi yang akan mereka lupakan karena tidak terpakai saat mereka bekerja. Apakah seorang atlet sepakbola yang sukses perlu mempelajari strukur sel bakteri untuk menjadi sukses? Apakah seorang dokter ahli bedah yang sukses perlu belajar menghitung percepatan setripetal agar menjadi sukses?

Justru sebaliknya, mereka yang ingin sukses sebagai arsitek seharusnya lebih mendalami ilmu fisika dan bangunan, bukannya malah mendalami sebab revolusi Prancis. Kita ingin bangun rumah, tetapi kok dikasih pensil, penghapus, rautan. Istilahnya kita mau jadi apa, tetapi malah tak mendapatkan yang kita butuhkan. Karena tak dibutuhkan ya pasti dibuang.

Yang membedakan SMA di Amerika dan di Indonesia yaitu keputusan. Sejak SMP, siswa/i di Amerika disuruh menentukan keputusannya sendiri. Dengan sistem moving class, istilahnya kita boleh memilih kelas Fisika atau Biologi pada jam ini. Atau ingin masuk ke kelas Sejarah atau Matematika pada jam selanjutnya. Jadi, disesuaikan dengan minat bakat atau cita-cita.

Jadi, apabila ingin jadi dokter yang sukses, kita bisa ambil kelas biologi lebih sering dari kelas mata pelajaran lainnya. Sejak SMP, orang Amerika sudah terfokus pada bidang yang mereka inginkan untuk kerja di dalamnya. Dan saat kerja mereka sudah punya persiapan sejak kecil.

Kondisi itu juga diterapkan di Jerman, Finlandia, Eropa, Jepang dan negara-negara maju lainnya. Pendidikan diberikan berdasarkan kebutuhan, bukan dipaksakan. Jika sesuatu dilakukan karena kebutuhan, kesadaran berkorban pasti tumbuh. Pada akhirnya, orang tua dan anak-anak akan diuntungkan meskipun harus membayar ini dan itu.

Maka dari itu, mari kita benahi sistem pendidikan dan mulailah fokus terhadap apa yang dicita-citakan mulai dari sekarang kalau kita semua mau Indonesia merdeka secara ekonomi dan budaya. Kita perlu segera merumuskan blue print atau road map pendidikan agar berhasil guna. Jangan sampai gelontoran uang ribuan triliun hanya mencetak pengangguran.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s