Berkah Ramadhan : Konversi Energi untuk Tingkatkan Efisiensi dan Produktivitas

Jusman Syafii Djamal
May 27, 2017

Produktivitas Manusia Bersumber daya Iptek Indonesia sering jadi bahan dialog diantara para perancang pembangunan. Apakah tenaga kerja Indonesia ini lebih produktif dibanding negara tetangga seperti Malaysia, Singapore atau Thailand ataukah kita lebih rendah ?

Jika dilakukan studi “comparative advantage” dan “competitive advantage” diantara Negara Asean, kira kira dimana posisi tingkat produktivitas Manusia Bersumber Daya Iptek Indonesia dibanding yang lainnya ?

Dulu tahun 1980 an di Indonesia kita memiliki Dewan Produktivitas Nasional, lembaga di bawah Presiden yang dikelola oleh Menteri Tenaga Kerja Soedomo. Melalui Dewan Produktivitas Nasional tiap tahun selalu ada laporan tentang produktivitas tenaga kerja Indonesia yang diukur melalui standard yang disepakati dalam Asian Productivity Organization.

Dewan Produktivitas Nasional ini memiliki logo semut hitam. Sekumpulan semut bewarna hitam ini jika mengumpulkan bahan makanan selalu berkelompok dalam gugus tugas dan langkahnya selalu sistimatis meningkatkan produktivitas dari waktu kewaktu.

Produktivitas dan Efisiensi adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Mengungkit tingkat produktivitas berarti menekan laju pemborosan untuk menemukan level efisiensi tertentu. Karenanya dikenal istilah Gugus Kendali Mutu ditiap perusahaan dengan jargon 5 R dalam program roadmap to zero waste nya. Gugus Kendali Mutu lahir agar output yang dihasilkan memenuhi standard kualitas baku mutu yang ditetapkan oleh benchmarking tertentu. Lahir gerakan ditiap perusahaan untuk mengembangkan Total Quality Management dengan Sertifikasi ISO dan lain sebagainya.

Dilevel makro ada indikator yang dikenalkan yakni ICOR Input Capital Output Ratio, untuk menemukan apakah dana yang dikeluarkan memperoleh tinkgkat output yang sesuai target. Dalam memberi insentif tenaga kerja juga dikenal istilah Billing Rate.

Tiap keahlian dan title memiliki insentip jam kerja yang sesuai. Engineer level 4 upahnya tak mungkin sama dengan yang level 1. Professor yang dihire sebagai Professional beda insentifnya disbanding Assisten Professor, Doktor atau Sarjana baru lulus. Begitu seterusnya. Ada indikator dan measurement yang dikembangkan agar kata Produktivitas dan Efisiensi tak berubah jadi jargon.

Kini Dewan Produktivitas National itu tidak lagi terdengar suaranya karena kita menganggap bahwa problem Produktivitas Manusia Bersumber Daya di Indonesia dan Produktivitas Kapital yang dideploy dalam setiap program dan proyek sudah tidak perlu lagi jadi “concern”. Sudah selesai dibahas dan tak perlu dimonitor.

Akan tetapi hari ini , diawal puasa Pertanyaan tentang Produktivitas ini muncul sehabis sahur ketika membuka Youtube ada wawancara dengan Nouman Ali Khan seorang ahli linguistic Arab dari Amerika yang melalui keahliannya telah memberikan pemahaman tentang beberapa pengertian yang membuat kita menjadi tergerak untuk belajar Al Quran dibulan penuh berkah ini , bulan Ramadhan.

Ketika ditanya tentang makna Ramadhan ia dengan fasih menjelaskan bahwa keistimewaan bulan Ramadhan adalah diturunkan nya Al Quran. Karenanya beliau merekomendasikan agar dalam bulan Ramadhan ini kita diminta untuk banyak membaca Al Quran dengan perlahan lahan untuk memahami dan meresapi makna nya. Rekomendasi kedua beliau meminta kita sebagai muslim untuk jauh lebih produktive di bulan Ramadhan dibanding bulan lainnya.

Menjadi jauh lebih produktip dibanding bulan lainnya bukan soal mudah. Sebab kita harus bekerja jauh lebih keras untuk menghasilkan output yang lebih tinggi dengan input yang lebih kecil. Paling tidak disiang hari, pasokan makanan ketika sahur memunculkan pasokan tenaga lebih sedikit, energi lebih kecil tetapi tingkat produktivitas lebih tinggi. Input lebih kecil tetapi ada tuntutan agar Output dan Outcome lebih tinggi.

Masalah Produktivitas yang lebih tinggi pada bulan Ramadhan Ini kata Nouman merupakan pesan moral dan berkah Ramadhan yang sering terlupakan, tenggelam dalam kesibukan lainnya. Untuk itu tak ada cara lain kita perlu menata ulang kembali bagaimana kita mampu mengatur waktu 24 jam yang dimiliki untuk lebih produktip. Perlu “time management” berbeda, kata beliau.

Puasa Ramadhan bukan bulan hybernate atau bulan dimana kita mempersedikit kerja untuk menghemat energi, seperti hibernasi beruang kutub di musim dingin. Kita justru diminta lebih efisien dalam memanfaatkan energi untuk memproduksi lebih banyak. Diperlukan keahlian management strategis untuk mengkonversikan energi dan sumber daya yang terbatas untuk jauh lebih efisien dan produktive dibanding bulan bulan sebelumnya. Ramadhan adalah bulan untuk belajar lebih efisien dan lebih produktive. Bulan peningkatan daya saing.

Produktivitas adalah ratio output dibanding input persatuan waktu. Salah satu indikator yang diukur oleh perusahaan adalah Sales/Employee, atau Revenue/Employee. Tiap Manusia bersumber daya iptek memproduksi volume barang berapa banyak tiap hari, tiap minggu atau tiap tahunnya ? Berapa dollar Revenue per tenaga kerja dan berapa dollar Biaya per tenaga kerja yang dihasilkan ?

Ukuran produktivitas yang menarik untuk disimak kembali. Sebab melalui ukuran ini kita pasti akan mampu menemukan akar masalah kenapa Investor kadangkala lebih memilih Negara lain dibanding Indonesia, meski dalam ukuran makro ekonomi kondisi Indonesia jauh lebih tinggi. Siapa tau dalam persoalan mikro economy ini kita memiliki “drawback” yang dapat diperbaiki segera.

Perbaikan tingkat produktivitas suatu perusahaan mungkin saja dapat ditempuh dengan menata ulang postur Manusia Bersumber Daya yang dimiliki. Jika kita mengamati bagaimana Mourinho atau Gardiola pelatih legendaris sepak bola memoles Tim Sepakbola yang sedang terpuruk, apa yang mereka lakukan adalah menata ulang postur teamwork nya. Ia menggeser posisi pemain. Yang tadinya ditempatkan sebagai gelandang tengah, diubah dan digeser menjadi wing back. Yang awalnya ditempatkan sebagai ujung tombak, ditarik kebelakang jadi gelandang tengah. Begitu seterusnya.

Menempatkan manusia bersumber daya manusia pada posisi yang tepat ternyata dapat dijadikan awal pembenahan produktivitas gol yang tercipta.

Apa yang dilakukan Gardiola dan Mourinho ini sebetulnya dikenal dalam teori Management Sumber Daya atau Human Capital Formation. Penataan Ulang Postur Sumber Daya manusia disatu perusahaan menjadi kunci peningkatan produktivitas.

Dengan analogi Mourinho dan Gardiola, kita dapat memetik pelajaran. Jika produktivitas Sales/Employee atau Revenue/employee merosot dari waktu kewaktu dan Cost/Employee meningkat, serta margin EBITDA/Employee menurun terus, berarti Produktivitas memburuk. Ada Early Warning yang perlu diperhatikan. Perlu dilakukan langkah segera melakukan proses rotasi dan mutasi. Ada mismatch antara keahlian dengan posisi. Ada jarak antara “job title” dengan “job value” dan “job skill set yang diperlukan”.

Sebab Manusia bersumber daya iptek bukan kursi atau meja. Bagi Manusia bersumber daya iptek, ekosistem dan environment kerja ikut mempengaruhi semangat untuk bekerja melebihi batas minimum requirement dari tupoksinya.

Manusia Bersumber Daya Iptek memiliki kemampuan “learning capacity” yang tinggi, dan perlu ditempatkan pada posisi yang pas agar kekuatannya yang menonjol bukan kelemahannya. Penataan postur agar talenta yang dimiliki dapat menyumbang peningkatan Revenue yang lebih tinggi dan peningkatan efisiensi biaya. The right man on the right place adalah credo yang perlu dipegang.

Menata ulang postur sumber daya manusia tidak dapat berdiri sendiri. Langkah ini berimplikasi pada upaya menata ulang struktur dan mekanisme organisasi agar gerak perusahaan menjadi lebih lincah dan lebih adaptip terhadap perubahan situasi pasar yang kompetitip.

Secara seksama kita perlu menemukan kembali “company’s core competency – the compound of the firm personality and DNA,untuk kemudian menjejaki “strategi dan tatacara berkompetisi yang selama ini dilakukan”, memperbaiki operational excellence, product leadership, customer intimacy. Diikuti oleh langkah DEE, Decentralize decision making process, Empowering the Manager and Enabling Teamwork.

Dengan kata lain tekad kita dibulan Ramadhan untuk meningkatkan produktivitas sebuah perusahaan memiliki ujung tombak kembar Penataan kembali Postur Sumber Daya Manusia dan Penataan Ulang Struktur dan Mekanisme organisasi.

Apa benar begitu ? Wallahu Alam. Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s