Recycle – Reuse – Redefine : Food for Thought

Jusman Syafii Djamal
May 28, 2017

Pagi tadi dihari kedua Ramadhan, saya sempat lihat CNN yang sedang meliput Bisnis di Afrika. Kali ini kisah tentang dua industriawan textile dari India. Yang satu melakukan proses pemindahan pabrik pemintalan nya ke Afrika, yang satu lagi bertahan dan tetap tinggal di India dan export ke Afrika.

Afrika Kini dianggap sebagai surga investasi dan pasar komoditi. Banyak industriawan Tiongkok, India dan jugo dari negara G7 memandang Afrika sebagai tempat Bisnis menarik. Tahun 90 an hingga 2004 saya ingat banyak industriawan tekstil dan produk tekstil dari Indonesia sudah dikenal di Afrika sebagai pengusaha eksportir yang andal. Industriawan dan Pengusaha Indonesia dimasa lalu dikenal tangguh. Orang lain belum ke Afrika , kita sudah. Entah kini.

Pengusaha tekstil dan produk tekstil India yang tetap berada di India mengeluhkan iklim bisnis. Ia bilang repot untuk bersaing. Sebab pajak berlapis, dari pajak pertambahan tilai hingga pajak karyawan, pajak parkir dan juga pajak ekspor. Belum lagi tagihan ini dan itu. Begitu juga ia mengeluhkan soal “cost of capital” yang lumayan tinggi. Tetapi ditengah keluhan sebagai pengusaha dan entrepreneur sejati, ia tak berputus asa. Coba lagi dan coba lagi. Never give up. Kini ia berfokus lakukan “cost reduction” dalam mata rantai produksi nya.

Ia menemukan konsep industri yang biasanya dilakukan di Jepang dalam industri elektronika. Yakni Recycle – Reuse dan Redefine. Mendaur ulang produk usang kadaluarsa, mempreteli satu persati komponen nya dan mengurai setiap komponen menjadi bahan baku. Kulkas dan radio menjadi potongan bahan baku aluminium, tembaga dan juga emas serta besi. Kemudian semua kumpulan bahan baku itu dikelompokkan jadi satu untuk di lebur dalam tungku.

Jadi ada proses recycle untuk menemukan bahan baku yang kadarnya sedikit lebih rendah dibanding raw material. Baru kemudian ditemukan produk baru yang sesuai dengan kondisi bahan baku hasil recycle tersebut. Ini yang mereka bilang sebagai siklus produksi hasil rekayasa ulang. Cyclus tiga proses Recycle-Reuse-Redefine. Di Panasonic Jepang telah dilakukan investasi ratusan juta dollar untuk mendirikan Industry Recycle. Mereka membeli kembali (buy back) semua produk elektronika rumah tangga seperti kulkas,radio,tv, ac yang berusia lebih lima tahun untuk ditukar produk baru dengan tambahan biaya.

Produk tua dipreteli daji komponen, didaur ulang jadi bahan baku. Sebab ada bahan baku yang kini harga nya terus meningkat tajam misal emas yang jadi bagian dari processor. Bahan baku yang terkumpul dikelompokkan jadi satu. Kemudian seorang desainer akan menemukan produk baru yang sesuai dengan bahan baku hasil recycle untuk berkompetisi dengan produk pesaing yang terus menerus banting harga dengan kualitas lebih jelek. Panasonic ingin memberikan proses edukasi bah untuk menemukan biaya kompetitip tidak perlu proses produksi dan kualitas produk dikorbankan. Pelanggan adalah raja.

Dalam siklus seperti ini “creativity” dan “innovation” bertemu dalam kuali. Saya membayangkan jika industriawan Indonesia menggunakan konsep serupa. Kita memiliki teknisi dari Madura yang memiliki keahlian “teardown” atau bongkar produk dan mepretelinya hingga komponen terkecil.

Dulu tahun 1996-1997 saya pernah memimpin kurang lebih 50 engineer IPTN untuk belajar merancang bangun mobil di Australia. Salah satu phase perancangan mobil adalah “teardown”, mempreteli mobil competitor menjadi ribuan part dan komponen terkecil dan mencatat nya satu persatu dengan pemberian nomor part seperti dilakukan di pesawat terbang, Tiap part mempunyai serial number. Kemudian kita memilah mana komponen standard mana komponen yang mengandung “intelectual prorietary rigiht” yang tak bolah diganggu gugat.

Dari tatacara serial number dengan klasifikasi tertentu kita dapat mengukur dan menghitung ulang “cost of production” tiap komponen, sekaligus menjejagi siapa vendor dan bagaimana tatacara proses produksinya. Dengan kata lain menggunakan pendekatan “value engineering” untuk menjejaki keunggulan dan kelemahan tiap mobil competitor. Dan sekaligus menemukan pola dan style of designnya. Phase ini disebut sebagai bagian dari “competitve analysis”.

Yang ingin saya ceritakan dalam proses “teardown” ini ternyata kami ketemu bahwa yang ahli dalam bongkar pasang adalah teman engineer dan teknisi yang berasal dari Madura. Dia sambil ketawa bilang :”bongkar pasang begini sudah jadi mainan sejak kecil” karena sering melihat bagaimana yang tua dapat mempreteli kapal besar dalam tempo satu dua minggu dan begitu juga rumah. Design Engineer senior yang jadi Pelatih kami memuji keunggulan teman kami.

Sejak itu kita membagi tugas tidak saja berdasarkan keahlian yang diperoleh dari sekolah nya melainkan juga “tacit knowledge” yang tersimpan dalam tradisi masing maing anggota. Yang dari Madura difokuskan pada teardown dan rekayasa ulang. Yang dari Bali dipilih manjadi perancang “mock up” dan “clay mobile”. Mobil prototipe yang terbauat dari kayu dan tanah liat untuk mendapatkan “dimensi” dalam proses “digitalisasi” yang kemudian dilanjutkan dalam simulasi computer untuk menemukan konfigurasi mobil yang diinginkan.

Ada keunggulan tradisi engineering dalam proses rekayasa ulang yang jarang dikaitkan dalam mata rantai nilai tambah oleh para industriawan Indonesia. Mutiara terpendam. Mutiara engineering yang menyimpan tacit knowledge.

Definisi Tacit knowledge (as opposed to formal, codified or explicit knowledge) is the kind of knowledge that is difficult to transfer to another person by means of writing it down or verbalizing it.

Kembali ke pengusaha india yang memilih tinggal di kampungnya, ia kemudian menggunakan konsep Recycle dan Reuse serta Redefine untuk membangun “competitiveness” nya. Ia mengumpulkan semua baju bekas berbahan wool dan karyn secara terpisah. Dan kemudian dengan teknik yang ia temui sendiri ia berhasil mengurai bahan baku itu menjadi serat wool yang lumayan baik, untuk dipintal kembali dan diberi warna. Dan bahan serat wool ini kemudian diolah menjadi selimut, bukan baju yang dapat diekspor ke Afrika.

Bersaing dengan pengusaha India lainnya yang memindahkan pabrik nya ke Afrika.

Entrepreneurship dibidang industri manufacture terus menerus dilakukan oleh Industriawan India, Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan. Evolution in the making. Melakukan proses evolusi untuk selalu menemukan cara baru, proses baru dan produk baru untuk bersaing dipasar domestik dan pasar eksport.

Sementara Industriawan di Indonesia terus menerus masuk dalam pusaran involusi. Secara perlahan tapi pasti mundur teratur ketempat dimana tidak ada orang lain yang bisa hidup. Mengapa ? Bukan karena keahlian tidak ada, bukan juga karena spirit tidak munch. Tetapi kita memang tenggelam dalam arus produk import yang tak mampu di bendung.

Seperti Ada Tsunami.Yang lolos hanya mereka yang berada ditengah dan ditempat tinggi. Tidak dipinggir pantai. Menunggu Rescuer, mengirim sinyal SOS, yang ditunggu ora teko, yang teko ora ditunggu.

Meski kita juga harus bersyukur bahwa Industri otomotive dan industri sepeda motor Indonesia dan industri elektronika konsumen nya juga maju. Sudah masuk ketahap 85% local content.

Dan saya juga banyak bertemu dengan industriawan Indonesia yang diam diam telah membangkitkan industri nya dengan cara yang lebih sophisticated. Ada kumpulan industriawan muda yang diam diam bekerja untuk merekayasa dan merancang bangun serta memproduksi mobil 100% buatan Indonesia. Para industriawan tangguh Indonesia, tetap survive ditengah perubahan zaman.

Apa benar begitu ? Wallahu alam.

Advertisement