Teman Sejati (Seri Lelaki Pendekar Bag. 6)

by : Bendri Jaisyurrahman (twitter/IG : @ajobendri)

Inilah episode hidup lelaki pendekar yang paling mendebarkan : nikah. Nikah itu nikmat yang bikin gelisah. Sebab di balik kesenangan yang ditawarkan, terdapat tanggung jawab besar yang sekiranya tak ditunaikan, jadilah ia lelaki yang hina di dunia dan akherat. Bagi lelaki pendekar, menikah adalah titik nol perjalanan membangun peradaban lewat keluarga. Karena itu, ia mutlak butuh pasangan sebagai teman sejati yang membantu wujudkan visinya. Tak mungkin membangun keluarga tanpa adanya pasangan. Alih-alih disebut rumah tangga, malah lebih tepat namanya rumah (tanpa) tangga. Belum lengkap isi rumahnya.

Disebut rumah (plus) tangga disini memiliki banyak makna. Dimana pernikahan sejatinya bukan sekedar memberikan kenyamanan layaknya fungsi rumah; namun mampu membantu penghuninya untuk ‘naik’ layaknya tangga. ‘Naik’ untuk menjemput impian dan meraih cita-cita. Itulah kenapa percepatan potensi seseorang dipengaruhi saat ia sudah menikah. Memiliki energi berlipat-lipat untuk maju. Syarat utamanya adalah jangan sampai salah pilih pasangan.

Kita belajar dari kisah Nabi Nuh alaihissalam, yang tak mampu bawa anaknya ke dalam barisannya. Tersebab ibu dari sang anak yang tetap bersikukuh dalam kekafiran. Durhaka terhadap suaminya. Hingga akhirnya nabi Nuh tak mampu membawa seluruh anggota keluarganya kumpul bersama di surga. Mereka tercerai berai di akherat meski di dunia nampak utuh sebagai sebuah keluarga. Inilah hakikat dari keluarga broken home. Yaitu gagal untuk kumpul bersama di surga.

Apa yang dialami nabi Nuh tentu adalah taqdir dari Allah yang tak kuasa dihindari. Sebab memang sejatinya hidayah milik Allah. Kita hanya dituntut untuk berupaya sekuat tenaga membuka jalan hidayah, khususnya bagi orang-orang terdekat. Namun pelajaran pentingnya adalah betapa pasangan hidup amat menentukan kualitas keluarga yang hendak kita bangun nantinya. Salah pilih beresiko menghancurkan pondasi keluarga. Maka Allah pun memuji keluarga Ibrahim dan keluarga Imran dalam surat Ali imran ayat 33 karena mereka memulainya dengan harmonisasi pasangan. Istri-istri mereka adalah wanita mulia yang siap mendukung perjuangan mereka membangun peradaban hebat lewat keluarga.

Lelaki pendekar tahu betul tentang hal ini. Selalu teringat sabda Baginda Nabi. Bahwa wanita dipilih karena empat hal : harta, kecantikan, keturunan dan juga agamanya. Sebagai lelaki normal tentu ia mengharapkan keempat hal tersebut bisa terhimpun dalam satu wanita. Sudahlah ia cantik, bermata biru, kulit putih, hidung mancung, tinggi 170 cm dan ternyata keturunan Raja Arab yang kaya raya. Ditambah status anak tunggal dimana bapaknya terkena penyakit stroke pula. Plus wanita tersebut juga hafal quran, dan juga hafal shahih Bukhari dan Muslim. Subhanallah. Pertanyaannya ia mau gak sama kita? Itu aja. Kalaupun mau, paling mau muntah. Sebab kita pun bisa jadi tak sesempurna itu. Sudahlah, ini realita bukan serial drama korea. Makanya Rasul kasih petunjuk, jika tak mampu dapatkan keempat-empat kriteria tersebut, pilihlah karena agama. “Niscaya kamu beruntung”, ini janji dari Nabi.

Keberuntungan lelaki pendekar ditandai ketika memilih pasangan karena agama. Bukan sekedar seiman. Namun sama-sama punya visi dan tujuan hidup yang mulia. Sehingga pernikahan bukanlah sekedar puaskan syahwat semata. Namun punya target besar : membangun peradaban negeri dengan mencetak generasi rabbani. Dari sini saja sudah jelas, jalan hidup dan lika liku lelaki pendekar. Sehingga sang pendamping hidupnya haruslah sosok yang istimewa. Yang siap memenuhi impiannya. Bukan sekedar istri baginya. Namun juga ibu bagi anak-anaknya nanti.

Tengoklah baginda Nabi. Saat mula-mula dilantik menjadi pembawa risalah kebenaran dengan turunnya wahyu melalui Jibril. Bukan main gemetarnya beliau. Pulang ke rumah dengan tubuh menggigil seraya berucap, “Selimuti aku! Selimuti aku!”. Datanglah sang kekasih tercinta, belahan jiwa beliau, Khadijah binti Khuwailid. Dengan pelukan hangatnya memberikan ketentraman bagi jiwa yang sedang gelisah. Inilah teman sejati. Tahu apa yang dimaui suami. Saat suami pulang ia menyediakan jiwa dan raganya laksana menyambut sang pangeran dengan senyuman cinta. Bukan malah sibuk dengan orderan bisnis onlinenya atau sibuk gonta ganti channel TV. Suami datang malah dikacangin. Ingat, kacang itu gurih. Dikacangin? Perih!

Karena kehati-hatian dalam memilih pasangan inilah, maka seringkali kita dapati lelaki pendekar terkesan menunda-nunda pernikahan. Bukan karena ia tak berani nikah, namun menikah baginya bukan seperti mencari HP di kios elektronik. Yang kalau salah pesan, masih bisa komplain dan ditukar. Mencari istri tak seperti itu. Pertimbangan akan hak anak yang kelak jadi generasi tangguh di masa depan, salah satu alasan kenapa ia begitu selektif. Sebab sejatinya, ibu adalah madrasah pertama seorang anak. Memilih wanita yang salah, berarti mensekolahkan anak di tempat yang salah. Dan hal ini sejatinya menzholimi hak anak yang pada dasarnya punya hak mendapatkan ibu yang baik.

Seperti yang dituturkan oleh Abul Aswad Ad Duali. Beliau menikah di usia yang tak lagi prima, 40 tahun. Ketika hal itu ditanya oleh anaknya, saat sang anak beranjak dewasa, dengan lugas ia menjawab, “Ayah bertahun-tahun sibuk mencari wanita yang layak menjadi ibumu. Bukan sekedar istri bagi ayah”. Allahu Akbar. Sebuah niat mulia yang dibangun sejak awal merencanakan pernikahan. Menunjukkan kepedulian akan generasi masa depan.

Atau kisah yang dialami oleh Najmuddin Ayyub, ayahanda dari Sang Pembebas Kota Suci Palestina, Sholahuddin Al Ayyubi. Berbagai cemoohan dan bullyan ia terima karena di usianya yang sudah layak menikah, tak jua ia memiliki pasangan hidup. Bahkan kawan-kawannya sibuk menjodohkannya dengan wanita-wanita cantik keturunan bangsawan di masa itu. Dengan tegas ia menolak seraya sebutkan visi hidupnya di hadapan teman sejawatnya. “Aku hanya akan menikah dengan wanita yang siap bersamaku mendidik anak yang akan membebaskan kota suci Palestina”. Semua kawannya pun diam. Speechless. Bukan sembarang wanita yang ia cari.

Hingga saat ia melewati sebuah rumah dimana ada seorang ayah yang menasehati anak gadisnya yang kerap menolak pinangan lelaki yang melamarnya, ia tercekat dengan alasan sang wanita, “Aku hanya akan menikah dengan lelaki yang siap bersamaku mendidik anak untuk membebaskan Palestina”. Tanpa ragu, Najmuddin Ayyub buru-buru mengetuk pintu rumah sang wanita dan segera melamarnya tanpa lebih dulu melihat bentuk fisik dan wajahnya.

Pesona visi sang wanita ternyata mengungguli ketertarikan Najmuddin akan parasnya. Baginya, visi yang selaras dalam upaya membangun peradaban adalah nomor satu. Urusan kecantikan bisa cincay lah. Lagi-lagi inilah cara lelaki pendekar dalam mencari pasangan hidup. Tak terburu-buru karena takut dicap jomblo abadi. Namun tak menunda-nunda jika sudah ketemu yang sevisi, meski kuliah masih belum ngerjain skripsi. Baginya mendapatkan wanita terbaik ibarat mendapatkan tambang emas. Jika kau tak segera miliki, maka agen mata-mata dari Amerika bisa aja langsung menguasai. Tinggallah engkau meratap di pojokan, sambil mengacungkan salam gigit jari.

Sekali lagi, bagi lelaki pendekar menikah adalah lepas landas menuju ke pulau harapan yang ia mau. Yaitu peradaban Islam yang hebat ditopang oleh generasi yang kuat. Dan kesungguhannya dapat dilihat saat ia melamar sang wanita. Ia tak lafalkan puisi-puisi gombal seraya memberikan sekotak berlian diiringi kalimat, “Maukah kau menjadi istriku?”. Ini udah basi. Lelaki pendekar cukup bawa proposal pengasuhan di hadapan sang wanita. Kemudian dengan mantap ia berkata, “Maukah telapak kakimu menjadi surga untuk anak-anakku nanti?”. So sweet. Bahkan drama Korea maupun India pun belum bisa seromantis ini (bersambung)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s