Masih Adakah Loyalitas?

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob
KOMPAS, 30 Juli 2016

BELAKANGAN ini, sudah merupakan hal yang lumrah bilamana kita melihat seseorang berpindah dari satu partai ke partai yang lain dan kemudian berpindah lagi. Dalam panggung politik mungkin orang berpikir bahwa sah–sah saja bilamana seseorang berganti peran. Namun, kita mungkin juga berpikir kembali makna loyalitas bilamana perpindahan bisa dilakukan semudah itu. Bukankah alasan bergabungnya seseorang di suatu partai tertentu seharusnya berdasarkan pada prinsip dan nilai tertentu dari partai tersebut yang dirasa memang selaras dengan prinsip dan nilai individunya?

Pada zaman ayah saya, kami dididik untuk menghormati idealisme, peraturan atau organisasi tertentu tanpa sikap kritis yang berlebihan.Hal inilah yang membuat connectivity kita dengan sebuah lembaga menjadi kental. Bahkan, di Jepang, hal ini bisa menjadi kekuatan korps negaranya. Namun, apakah sense of commitment ini masih berlaku di dunia yang sudah global, rata dan nomadik ini? Dan, apakah komitmen memang diartikan pada connection yang tidak pernah boleh terputus?

Loyalitas dua arah

Ada perusahaan yang sangat menuntut, bahkan memaksakan loyalitas karyawan. Mulai dari disiplin absensi tanpa mempertimbangkan keadaan lalu lintas, dan kondisi cuaca, sampai kepada audit media sosial dan juga penyadapan pembicaraan karyawan internal. Suasana yang penuh disiplin ini membuat karyawan menjadi patuh namun diwarnai rasa takut. Bisa kita bayangkan bagaimana bentuk loyalitas yang dihayati para karyawan. Pertanyaannya kemudian, bagaimana sikap pemilik perusahaan dalam menampilkan loyalitas perusahaan kepada karyawannya? Apakah masih menghindari pembayaran uang pensiun, bahkan karyawan yang menderita sakit pun tidak mendapatkan perhatian manajemen dengan layak karena dianggap sudah mendapat hak penggantian kesehatan? Apakah kerap menuntut karyawan bekerja lebih sampai lembur berkepanjangan tanpa memperhitungkan keseimbangan kehidupan sosial mereka? Hubungan antara karyawan dengan manajemen perusahaan seperti itu biasanya lebih diwarnai ketegangan, alih-alih terasa loyalitas.

Adam Cobb, profesor di sekolah manajemen Wharton, membeberkan tentang salah kaprah dalam melihat loyalitas. Loyalitas seharusnya dilihat dari dua arah. Loyalitas saya pada partai, harus sejalan dengan loyalitas partai pada saya. Demikian pula dengan perusahaan dan pemimpin. Pemimpin yang tidak loyal tidak layak menuntut loyalitas bawahan. Perusahaan, lembaga atau partai pun bisa berlaku tidak loyal. Menurut Cobb loyalitas sering berada dalam situasi “telur atau ayam”, mana yang lebih dahulu. Bayangkan suatu situasi manajemen sangat memperhatikan karyawannya, dan karyawan pun sangat peduli pada kelangsungan hidup organisasi. Loyalitas bukan lagi suatu isu yang harus digembar-gemborkan karena sudah berjalan sedemikian wajarnya layaknya udara yang kita hirup.

Loyalitas sebagai ikatan sosial

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan akan keterikatan dengan teman kerja, atasan, atau tempat kita bekerja. Standar hidup manusia bisa berubah dengan berubahnya kemajuan atau merosotnya ekonomi. Namun, keterikatan tidak jadi kendur dengan berubahnya standar tersebut. Cobb mengatakan, “There is something about having a mentor, or someone in your life who helps you see the future in the midst of chaos, that can make a difference.”

Jadi apa yang sebetulnya bisa menurunkan loyalitas, baik individu ke lembaga atau lembaga ke individunya? Profesor Deborah Small mengatakan, turunnya loyalitas biasanya dilunturkan sedikit demi sedikit melalui “procedural unfairness”, yang biasanya berbentuk praktik-praktik kecil sehari hari, yang lama lama dirasakan tidak nyaman. Tidak semua individu egois dan memikirkan kepentingan pribadinya. Setiap orang yang menurunkan tingkat loyalitasnya sebenarnya juga mengeluarkan “biaya sosial” yang tidak sedikit. Ia akan merasa bersalah dan tidak nyaman, dan merindukan engagement dengan institusinya. Di sinilah hubungan kontraktual akhirnya menjadi umum. Loyalitas tidak ada lagi. Asas manfaat yang lebih dikedepankan. Paham “what’s in it for me” belum belum sudah dipertanyakan sebelum kerjasama dicoba. Yang ada hanya loyalitas sebatas panjangnya tangan. Bisakah kita tetap mempertahankan kualitas sebagai manusia di situasi turmoil begini?

Memupuk loyalitas

Ada berbagai cara, yang pimpinan lembaga, atau perusahaan menjaga komitmen anak buah atau followers-nya. Bila di kemiliteran, refreshing mengenai kesetiaan dan bela negara dilakukan secara berkala, di organisasi tertentu, terutama organisasi bisnis, hal ini belum tentu bisa kita lakukan. Beberapa perusahaan membacakan nilai nilai yang dianut perusahaan, dan menyanyikan mars serta himne perusahaan di awal dan akhir pertemuan. Sebuah perusahaan waralaba di Amerika, tiba-tiba membuat pengumuman untuk menutup tokonya pada perayaan Thanksgiving walaupun sebetulnya bisa mencetak keuntungan besar di hari itu, dengan alasan memberi kesempatan pada para karyawan untuk merayakan hari bahagia itu bersama keluarga. Karyawan gembira bukan karena sikap pemurah perusahaan atau pemimpinnya, melainkan karena seluruh karyawan merasakan rasa syukur yang berlebih.

Hal inilah yang bisa membuat karyawan lebih passionate dan tidak usah mempertanyakan engagement-nya dengan perusahaan. Perusahaan pun perlu jeli melihat idealisme karyawan atau anggota tim. Di lembaga komersial dan bisnis pun, kita akan lebih mudah merangkul karyawan bila misi sosial bersama terasa dan dijalankan. Keinginan Mark Zuckerberg untuk menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk kelanggengan kehidupan manusia di masa mendatang pasti akan disambut para karyawan Facebook dengan rasa bangga.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s