Industri Rumah Tangga dan Industri Kecil Menengah : Food for thought

Jusman Syafii Djamal
May 11, 2017

Industri Kecil dan Industri rumah tangga dibanyak negara dijadikan wahana pertumbuhan ekonomi dan sekaligus ujung tombak pemerataan pembangunan. Engine of growth dan Solution to the problems of Geography of Inequality. Tentu dengan policy yg tepat. Industri kecil menengah dan industri rumah tangga tak mungkin ditinggal sendirian menghadapi persaingan head to head di pasar terbuka.

Tahun 78 an alm Prof Sarbini Soemawinata ahli ekonomi generasi Prof Soemitro Djojohadikusumo pernah menghitung untuk melahirkan industri rumah tangga sebagai kekuatan penggerak ekonomi desa diperlukan 10000 dollar us sebagai start up capital. Dana pembangkit kekuatan daya saing nya. Untuk industri kecil menengah biaya yg sama dapat menciptakan satu lapangan kerja.

Ketika libur baca tulisan lama saya bertemu Koran Tempo Sabtu 11 May 2013 hal B4 pernah menulis berita dengan judul : “Batik Cina Rugikan Industri Lokal hingga 1 Trilliun Rupiah”. Dalam tiga bulan terakhir pasar Indonesia diserbu oleh tsunami batik cina dan kerugian ditaksir Satu Triliun Rupiah begitu kata berita Tempo.

Beruntung kini bulan Mei 2017 sudah empat tahun berlalu Industri Batik Solo, Jogja dan Pekalongan berhasil untuk terus tumbuh berkembang. Survival Strength nya teruji.

Tiongkok memang dikenal dan memusatkan kebijakan industri nasionalnya untuk menjadi “factory of the world”. Pabrik barang manufaktur dunia.

Sisir, mainan anak anak, produk kulit, sepatu, tekstil, motor, mebel,tilpon genggam, mobil hingga pesawat terbang yang dirancang bangun dibelahan dunia lain, pasti mampu diproduksi oleh mesin mesin dan tenaga kerja China. Diekspor dengan label “made in china” .

Produk yg dihasilkan banyak yang sejenis dan identik dengan produk Industri rumah tangga dan industri kecil menengah Indonesia . Head to head competition kata Lester Thurow.

Jika dibandingkan dalam proses tender atau diletakkan di toko, akan tampak bahwa Harga produk China bisa 30% lebih murah dari pesaingnnya.

Karena itu jika semua tender di Indonesia berorientasi pada harga paling murah sudah dipastikan yang menang adalah produk china. Disini lahir paradox ingin mentransformir Bangsa Konsumen jadi Produsen tetapi yg terjadi dilapangan sebaliknya. Kita makin tergantung pada produk Bangsa lain dan kita terus membeli dan membeli.

Ambil contoh, Setiap kebijakan Pemerintah yang bertekad untuk melindungi Produk Dalam Negeri terasa ada yang tak nyambung dilapangan. Sebab pimpinan proyek yg melakukan proses tender juga bingung untuk pro pada produk dalam Negeri.

Salah langkah bisa didenda Komite Pelindungan Persaingan Usaha yang selalu tak ingin ada persaingan tidak sehat. Semua tender fokusnya pada harga murah yang menang.

Dengan mekanisme seperti itu hasil nya terang benderang: Produk made in Indonesia selalu kalah murah.

Tidak heran jika untuk memenuhi jalanan ibukota dengan ribuan bis umum. Pasti bisnya tak mungkin berasal dari karoseri Armada atau pabrikan bis yang ada di Indonesia. Pasti impor dari Negara lain karena dana terbatas dan harga murah jadi tujuan.

Begitu juga kereta api dan monorel tak mungkin yang menang produksi INKA atau Industri Nasional lainnya, yang menang jadi pemasok pasti industri mobil dan kereta api dari Negara lain.

Harga murah sudah jadi tujuan nasional industri yang ada di China. We cannot beat China on Price. Tak mungkin ada negara yang mampu mengalahkann produk china jika bicara soal harga murah. Seperti membenturkan ketimun dengan durian.

Karena orientasi china adalah pada “Cost Innovation”, finding the way to achieve low cost product.

China Price yang lebih rendah 30-40 % dari harga pesaing sudah jadi trademarknya.Karena itu dalam hal “economic of scale” atau produk massal sukar industri nasional Indonesia bersaing dengan produk China.

Tak heran jika sepatu, mainan anak anak sudah kedodoran dimana mana menghadapi serbuan produk china. Kalau masyarakat konsumen Indonesia berorientasi pada motip batik dan bukan pada “definisi batik” maka pasti batik Indonesia kalah dengan batik China.

Ketika Iwan Tirta masih hidup dan saya pernah bertanya pada beliau tentang beda batik dengan produk tekstil lainnya dengan tegas ia bilang :’Mas Yusman, Batik itu Canting”. Tanpa canting itu bukan batik melainkan tekstil. Batik Cetakan, Batik Printing itu tekstil bukan batik.

Definisi batik adalah jika ia dihasilkan sebagai karya seni dengan tangan melalui canting. Batik adalah lukisan diatas kain. Bukan cetakan diatas kain. Jadi Batik bukan printing. Tapi Canting.

Alm Iwan Tirta kemudian menjelaskan bagaimana empu batik dijaman dulu mesti berpuasa dan tirakatan dulu untuk memperoleh imajinasi motip parang dan motip lainnya.

Karena itu batik di Indonesia amat kaya dengan motip. Dikenal batik jogja, batik solo, batik pekalongan dan lain sebagainya yang mencerminkan perbedaan tatacara memainkan canting diatas kain dan prosedur tirakatan yang dilakukan para pembatik.

Tadisi Batik sama indahnya dengan tradisi kain songket, tenunan bali dan ntb, ulos batak, sulaman bordir padang. Maha Karya dari kerajinan tangan rumah tangga. Tiap jenis kain dihasilkan secara unik dan menjadi karakter pemakainya.

Its not Cost Innovation but Produtc Differentiation. Karena nya strategi pengembangan industri kecil menengah dan industri rumah tangga arahnya pada High Value Product bukan High Volume.

Unggul bukan karena harga murah, melainkan karena keindahan motip buah karya imaginasi dan keahlian tangan yang menggenggam canting.

Batik menurut alm Iwan Tirta adalah seni yang hidup dirumah rumah para empu yang membagi keahliannya pada tetangga.

Batik menjadi “wahana community development” dari pare empu pencipta motip. Ada kampung batik Lawean di Solo misalnya yang menunjukkan tradisi tentang pembatik.

Dalam konteks ini saya berpendapat dengan membanjirnya tekstil china yang bermotip batik yang jadi saingan utama bukan industri batik rumah tangga melainkan produk industri tekstil. Yang alami kerugian adalah industri tektil indonesia karena telah digerogoti pasarnya oleh produk china,Vietnam dan Bangladesh .

Nasib industri tekstil Indonesia memang sudah lama berda diujung tanduk. Ketika tahun 2004-2005 tokoh industri tekstil lainnya hampir tiap hari pasti berdebat dengan para bankir tentang istilah “sunset industry” yang ketika itu digenggam okeh Banker.

Istilah “sunset industry” digunakan untuk Tidak mau mengalirkan kredit ke industri tekstil karena mereka berpendapat dan punya kepercayaan bahwa Industri Tekstil sudah tenggelam.

Yang jadi primadona dimata banker adalah property dan industri berbasis ICT.

Istilah sunset industry” adalah Industry yang sedang menuju kematian. Kini Indonesia masih kuat dalam industri komponen motor, mobil sebagai tier dua dan tiga dalam Mata rantai Industri Otomotive.

Akan tetapi siapa tau ada policy investasi yg menyebabkan industri kecil menengah itu pelan pelan tergerus mengecil dan tinggal papan nama ?

Dari contoh industri tekstil kita belajar bahwa istilah sunset industry atau industri fajar menyingsing yang digunakan sebagai pisau analisa bankir dan ekonom dapat merubah landsekap dan postur bisnis sektor industri .

Di Indonesia Industry Tekstil menurun sementara di Malaysia, Nigeria ,Bangladesh dan Vietnam serta Tiongkok tumbuh.

Kita Kalah bersaing bukan karena yang lain lebih unggul tapi karena kita tak percaya pada keahlian dan keunggulan Industri Bangsa sendiri. Selalu saja ada ahli yang mendorong industri kecil menengah untuk meninggalkan pasar domestik dengan pelbagai cara.

Ada Yang selalu menyebut jago kandang agar kita malu dan keluar dari surga pasar domestik 200 juta konsumen dalam negeri dan nyari ceruk melanglang buana bangun distribution center di 10 juta pelanggan pasar manca negara yg tak dikenali.

Ada Yang memberi stigma Industri sunset agar aliran kredit modal kerja dari bank tak mengalir. Ada lagi yang bilang di Indonesia tidak Ada industrialisasi yang ada industri tukang jahit, perakitan akhir dan maklon. Lupa bahwa Industri adalah mata rantai dari proses mengolah raw material menjadi bahan baku, industri manufaktur merobah bahan baku jadi barang setengah jadi komponen atau modul dan industri perakitan akhir.

Tak heran smiling curve industri di Indonesia tak pernah muncul. Mundur kena maju kena.

Apakah benar begitu ? Mohon Maaf jika keliru, Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s