Nafas Kekeluargaan dalam Secangkir Kopi yang nyaris terlupakan ?

Jusman Syafii Djamal
May 6, 2017

Kopi Jawa, Kopi Bali ataupun Kopi Lampung, Kopi Toraja dan Kopi Aceh adalah teman setia semua kalangan. Tradisi yang telah hidup hampir satu abad di Indonesia.

Buah kopi kata Howard Schultz pemilik Starbuck, adalah buah yang tumbuh dan ditanam ditempat tempat paling eksotik di dunia. Buah kopi kini telah jadi komoditi yg bernilai tinggi.

Dimasa lalu pada abad 19, Belanda membuka Kebun kopi di Batavia, Preanger dan ditepian gunung lainnya telah diekspor untuk membayar hutang VOC 400 juta gulden. Kopi, Teh dan Rempah rempah dimasa lalu jadi penggerak ekonomi desa.

Karenanya minum kopi dipagi hari atau sore hari telah menjadi tradisi di pelbagai pelosok Indonesia. Dengan Kopi selalu menciptakan sebuah suasana dan emosi yang tak bisa dideskripsikan dengan kata kata.

Kopi yang enak bisa lahir dari seduan dengan cara yang sederhana. Tapi membuat ekspresso atau kopi yang dahsyat memerlukan latihan dan percobaan berkali kali. Perlu ditempa oleh yang ahli dengan latihan tak kenal henti.

Sebab kopi adalah sarana yang mampu membangkitkan hasrat untuk terus menerus berkomunikasi, berbagi suka dan duka antar sesana.

Menciptakan kopi dengan cita rasa tinggi memerlukan rasa Hormat pada jerih payah petani kopi.

Melalui gerai atau kedai kopi yang mampu melahirkan secangkir kopi kental yang harum, akan terbangun suasana persahabatan yang membangkitkan tawa dan hasrat untuk terus menerus bersilaturahmi antar sesama.

Melalui secangkir kopi yang disedu bersama dalam warung kopi tradisional atau yang diteguk bersama dalam siskamling, atau diminum dalam ceret yang sama ketika nonton bola bareng, menumbuhkan hubungan pribadi yang tak tergantikan oleh internet ataupun chatting melaui online communication.

Empat puluh tahun lalu , ketika saya masih bersekolah SMA dan SMP di Aceh, ayah saya selalu membawa saya ke kedai kopi hanya untuk bertemu saudara atau temannya satu kota.

Melalui secangkir kopi di warung kopi di Aceh banyak masalah keluarga ataupun guechik dan kecamatan yang bisa didiskusikan dan ditemukan solusinya.

Dari pengalaman masa kecil itu, saya melihat potensi secangkir Kopi yang mampu memecah kebuntuan situasi. Secangkir kopi dapat merajut kembali persaudaraan sesama warga yang beda pendapat.

Secangkir kopi yang dihirup bersama, dapat memecah kebuntuan persahabatan yang terpisah oleh kepentingan banyak klik dan kubu yang bisa bersiteru tanpa ujung pangkal.

Melalui secangkir kopi dikedai kedai kopi yang dikelola oleh tradisi masyarakat lokal, saya belajar bahwa kebuntuan akan mencair dalam hasrat membangun hidup berdampingan sebagai sahabat.

Insya Allah melalui secangkir kopi yang sering dihirup bersama didalam kedai kedai kopi tadisional, kekerasan pada sesama saudara setanah air akan bisa menjauh dari kehidupan sehari hari Bangsa Indonesia.

Kekayaan tradisi yang perlu dipelihara. Minum kopi dan jagongan sebagai sesama tetangga yang bikin hidup lebih bermakna

Apa benar begitu ? Mohon maaf jika keliru Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s