Jusman Syafii Djamal
May 5, 2017

Gagasan yang disembunyikan dan dijaga ditempat rahasia mudah mati. Gagasan memerlukan udara dan cahaya, tempat terbuka untuk didiskusikan dan ditemukan persamaannya dalam perbedaan yang ada. Hanya gagasan yang mengalir dalam ruang terbuka memiliki teman untuk tumbuh berkembang. Seperti kata Seth Godin dalam bukunya :”Ideas in secret die. They need light and air or they starve to death.

Karenanya dimasa lalu ketika sekolah SD dan SMP guru selalu mengajarkan muridnya dengan pepatah sederhana Bercerai Kita Runtuh, Bersatu kita teguh. Lidi yang berdiri sendiri mudah patah. Lidi yang diikat bersama dalam tali menjadi sapu lidi.Kokoh dan sangat berguna untuk membersihkan duri dari jalan yang disusuri.

Begitu kata Ryunosuke Satoro :”Individually, we are one drop. Together, we are an ocean.”

Problem dan masalah selalu datang dan pergi. Itulah hidup. Tanpa masalah apa gunanya Allah melahirkan fikiran dalam kepala. Problem membuat kita menjadi kokoh dalam berfikir dan bertindak. Ia merupakan anak tangga untuk maju. Makin rumit problem makin diperlukan kecerdasan dan ketenangan untuk berfikir.

Masalah rumit tak mungkin dipecahkan dengan cara “pokoke ngene, ragelem yo ojo patekan”. Pokok nya begini, kalau tidak ya tanggung aja sendiri saya ngga ikut”. Dialog tak mungkin dibiarkan berhenti mengambang diudara tanpa alternatip. Win and Lost. Kalah menang tak mungkin terus menerus dijadikan ukuran. Sebab dunia kini tidak lagi “zero sum game”. Dalam kompetisi diperlukan cooperation.

Karenanya seperti kata Robert Schuller :Problems are not stop signs, they are guidelines”. Problem bukan tanda kita harus berhenti berfikir d.an berhenti untuk maju kedepan.

Masalah muncul menurut sebagian orang adalah “tondo tondo”, sebuah petunjuk mungkin ada cara berfikir atau paradigma lama yang tak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.

Masalah mungkin lahir karena kita tumbuh membesar dan volume bisnis nya jauh lebih besar dibanding masa lalu, dan organisasi yang ada kurang fleksibel untuk beradaptasi. Mungkin juga masalah muncul karena kita terus mencoba menjawab tantangan dengan cara yang sama dan itu itu terus sepanjang waktu.

Menggunakan solusi yang sama pada problem yang berbeda diwaktu yang berbeda pula. Padahal tiap problem meski kelihatan identik, pada waktu berbeda memerlukan “mindset berbeda pula”.

Dalam hidup “masterpiece” biasanya muncul hanya sekali. Tak mungkin ada masterpiece karya unggul lahir dari tatacara berfikir yang sama sepanjang waktu tanpa proses adaptasi dan mitigasi untuk mengantisipasi perubahan dahsyat yang sedang terjadi akibat kemajuan teknologi dan kompetisi yang semakin ketat.

Kata Bung Karno Panta Rei, semua mengalir ikuti jalannya waktu. Hanya perubahan yang kekal dan abadi.

Dirumah jika bertemu dan berbincang dengan anak anak yang sekolah di ITB dan UNPAD selalu saja saya bertemu dengan kelemahan terbesar saya , yakni rasa nyaman untuk menggenggam keberhasilan masa lalu sepanjang waktu. Terus bercerita tentang kehebatan dan kisah petualangan dari SD hingga SMA dan ITB. Dan ternyata itu tak menyenangkan. Musik dan dialog diantara orang tua dan anak berhenti. Sebab anak saya selalu bilang begini “Ayah sudahlah Stop. Jangan terus cerita begini begitu. Itu kisah dua puluh lima tahun lalu dan Ardi pun belum lahir.”

Beruntung punya anak kritis. Nasihat anak saya yang menyebabkan saya harus berhenti untuk menggenggam keberhasilan masa lalu. Meski usia tidak lagi muda.

Dialog bukan monolog rangkap. Ide yang baik perlu mendapatkan feedback dan penyegaran untuk diremajakan. Cross Fertilization adalah awal Inovasi kata seorang ahli. “The world as we have created it is a process of our thinking. It cannot be changed without changing our thinking.” ujar Albert Einstein

Our greatest weakness lies in giving up. The most certain way to succeed is always to try just one more time. begitu ujar Thomas A. Edison seorang Inventor yang mengalami kegagalan ratusan kali sebelum menemukan lampu pijar.

Tujuh Kali Jatuh, Kita harus bangkit delapan kali kata pepatah Jepang. Move On. Coba lagi coba lagi, Gagal Bangkit Kembali. “Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” kata Albert Einstein

Apa Benar Begitu Wallahu Alam. Mohon maaf jika keliru.
Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s