Ekosistem Manusia Bersumber Daya Iptek di Kampus : Catatan Perjalanan

Jusman Syafii Djamal
May 03, 2017

Selama satu minggu sejak 23 April hingga 30 April saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung dan berdiskusi dengan Maha Guru serta mahasiswa di Lima Universitas di Tiongkok. Ada dua kampus di Zhejiyang Technology University, Kemudian satu kampus Notingham University di Ningbo, serta satu kampus Universitas Pendidikan di Sanghai dan Global Think Tank di Fudan University.

Perjalanan ini muncul karena saya diundang untuk memberikan share sebagai Honorary Guest Professor Zejiyang Technology University yang saya peroleh satu tahun lalu, pada bulan yang sama.

Saya akan share apa yang saya amati dan rasakan. Mudah2an bermanfaat.

Mengunjungi kampus di Tiongkok, Korea dan Jepang yang saya lakukan sering mengusik fikiran tentang Hitozukuri kata orang Jepang. Bagaimana membangun suatu eksosistem “learning and unlearning” didalam universitas atau kampus agar Manusia Bersumber Daya Iptek tumbuh berkembang sebagai engine of economic growth suatu bangsa.

Di Tiongkok yang saya temui dan bikin saya takjub adalah soal skala dan ukuran kampus nya. Tidak ada kampus yang kecil dan berskala mikro, satu atau dua gedung. Melainkan kampus dengan skala ukuran tanah ratusan hektar dan bangunan yang luar biasa komplit mampu menampung 10 ribu hingga 25 ribu mahasiswa.

Membangun infrastruktur Pendidikan Tinggi dengan kampus yang luas kelihatannya jadi trend dan ukuran kinerja para pimpinan daerah. Seolah ada pembagian tugas. Fasilitas Fisik berupa tanah dan gedung anggaran nya dari Pemerintah Daerah. Sementara biaya Riset dan Anggaran pendidikan serta perangkat lunak disediakan dari APBN.

Karenanya yang dikembangkan adalah komunitas akademis. Rektor seolah berfungsi seperti Gubernur pengelola wilayah akademis, dengan jumlah komunitas 25 ribu hingga 30 ribu dalam satu lokasi.

Universitas Teknologi Zhejiyang misalnya memiliki empat kompleks kampus dengan masing masing 100 hektar. Didalam kampus ada asrama mahasiswa dan kompleks rumah para Dosen dan Guru Besar. Mahasiswa nya 26 ribu dan 1900 Post Graduate. Tinggal di kompleks kampus yang sama.

Di kampus yang amat luas itu mahasiswa dan dosen saling bercengkrama sebagai sebuah komunitas akademis. Mereka bersepeda bersama, belanja dalam supermarket yang sama dan juga berolah raga di stadion yang sama. Dari pagi hingga malam mereka menjadi warga akademis. Dialog dan suasana belajar mengajar menjadi satu dengan suasana sebagai suatu family. Tak heran jika fokus penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi ajang synergi.

Tiap bangunan dan infrastruktur kampus dibangun melalui anggaran Pemerintah Daerah. Misalkan di Universitas Notingham, pemerintah daerah kota Ningbo sejak tahun 1984 memberikan tanah kepada Universitas di Inggris untuk menjadi kompleks akademis, kampus dengan kruikulum dan bahasa Inggris seperti di Notingham. Di kampus ini ada kurang lebih 150 mahasiswa Indonesia mendapatkan beasiswa dan belajar disini. Di kampus ini Asrama Mahasiswa nya memiliki listrik dengan pembangkit tenaga matahari. Dan juga tenaga angin.

Dalam suasana kampus yang menyenangkan dengan taman, kanal dan pepohonan yang rimbun membaca dan menulis puisi, menelaah buku menjadi sebuah aktivitas pengolah jiwa yang menyenangkan. Mahasiswa di Hanzhou dan kota lainnya ini seolah Tak sempat tawuran dan sibuk nyari angkutan kota, sebab jalan jalan setapak di kampus dari asrama tempat tinggal telah dibuat menyenangkan untuk bersepeda. Tak ada motor dan kebisingan serta polusi.

Di perpustakaan saya melihat mahasiswa duduk belajar . di Katalognya ada catatan tentang jutaan judul buku yang boleh dipinjam untuk dibawa pulang dan ratusan ribu buku yang bisa diunggah melalui internet. Tentu di Tiongkok tak ada Google dan Facebook, yang ada Baidu dan We Chat. Ketika sore hari berjalan di sebuah sudut jalan, saya bertemu Mesjid Tua dan ketika shalat ashar yang banyak hadir ternyata mahasiswa Indonesia dari Surabaya. Shalat berjamaah disini jadi terasa berbeda.

Di kampus Notingham Ningbo ini para Guru Besar meminta pendapat saya untuk memberikan feedback tentang kurikulum Aersopace Engineering, yang menurut hemat mereka saya memiliki keahlian berdasarkan pengalaman bekerja di Industri selama lebih 25 tabun tanpa henti. Yang bikin saya tertarik salah seorang Guru Besarnya adalah anak muda Indonesia yang telah sepuluh tahun lebih jadi Dosen di Notingham Inggris dan kini menjadi dosen di Ningbo. Ia ahli material science untuk aerospace engineering. Usia nya masih 35 tahun. Sudah Profesor. Saya jadi terharu. Bisa bertemu dan berdialog tentang disiplin iptek yang saya pelajari tahun 1983 hingga 2003.

Meski Curhat dilarang untuk ditulis, akan tetapi tangan saya ingin mengetik “kegelisahan yang dialami”. Saya merasa ada beda antara lingkungan akademis di Indonesia dengan Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang. Di tiga negara ini para Guru Besar tidak sungkan untuk mengundang orang luar berdialog, menemukan persfektip berbeda. Sementara di ITB tempat saya bersekolah saya tak pernah diajak dialog dan diskusi untuk bicara kurikulum seperti disini. Dianggap belum mumpuni dan pantes dimintai feedback. Sementara di Hanzhou ini saya dibuatkan seminar untuk bicara, bertemu Dekan, Rektor dan bahkan Dirjen Pendidikan Tinggi untuk saling bertukar fikiran sebagai sesama “ilmuwan”. Melok, Makan Enak langsung Omong Kosong soal trend kemajuan teknologi dimasa depan.

Di Zhejiyang Technology University saya diminta menshare pendapat tentang “technology Acquisition ” berdasarkan pendekatan “market driven” yang dilakukan China sejak Deng Xiao Ping. Apakah tata cara penguasaan teknologi melalui cara pengembangan klaster industri di sepanjang pantai yang berbatasan dengan Hongkong dan Sanghai dua kota Financial Center itu merupakan strategi yang jitu atau tidak.

Sebetulnya dengan permintaan ini yang terjadi sebaliknya, bukan mereka yang belajar dari saya melainkan saya belajar dari pengalaman mereka selama 25 tabun. Sungguh suatu kesempatan menarik. Akibatnya ada kesempatan untuk menulis buku bersama para Maha Guru yang ada disini. Saya memberi usul bagaimana jika dilakukan riset bersama berjudul The Role of Innovation and Technology Development and “Geography of Inequality”.

Apa yang saya temui selama satu minggu ini saya coba bandingkan dengan apa yang saya jumpai ketika mengunjungi kampus kampus tua di Jepang seperti Waseda, Kyoto dan Nagoya serta beberapa kampus di Korea Selatan ketika mencoba memahami tentang inovasi, technology development and regional planning bidang yang menarik perhatian saya.

Jika di kampus kampus Tiongkok, Jepang dan Korea
Selatan topik bahasan sudah beranjak kemasa depan. Di Indonesia kita masih fokus pada kendala. Bahkan malam ini saya jadi ikut heran ketika Metro TV mengulas tentang beasiswa belajar di luar negeri bagi mahasiswa Indonesia. Heran sebab yang dibahas bukan kejeniusan mahasiswa Indonesia yang belajar di luar Negeri, melainkan tentang bagaimana Return on Investment. Bagaimana jika mahasiswa yang sudah dapat beasiswa tidak pulang ke Indonesia dan menetap di luar negeri jadi Ahli Dunia ?

Semua ahli pendidikan yang diwawancara, berpendapat bahwa beasiswa yang diberikan Menkeu itu adalah hutang jangka panjang yang harus dibayar. Dengan kontrak yang jelas perlu mekanisme agar ada jalan untuk mengejar mahasiswa pengemplang hutang jika perlu melalui debt collector.

Astagfirullah. Alangkah menariknya ketika bicara tentang Hari Pendidikan yang diulas tentang kisah keberhasilan mahasiswa Indonesia menguasai iptek dari kampus ternama di luar negeri. Akan tetapui ternyata topik itu kurang menarik, yang muncul adalah bukan tatacara mengejar ilmu, melainkan mekanisme debt collector bagaimana mengejar mahasiswa yang belum bayar uang kos dan makanan di kantin jika tidak kembali ke Indonesia ketika tamat.

Pastilah Mahasiswa yang sedang belajar di luar Negeri ketar ketir dan menghitung semua pengeluaran dari sejak hari pertama hingga hari terakhir. Semua bon makanan dan minuman selama satu tahun harus dikumpulkan supaya tau berapa uang masuk dan keluar.

Akibatnya mudah diduga, Fokus penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi bercabang kearah “profit making”. Saya fikir beasiswa untuk mereka yang miskin tapi jenius adalah kewajiban dan bukanlah harus diperlakukan sebagai hutang piutang yang perlu ditagih. Sebab jika ada mahasiswa Indonesia jadi Ilmuwan Dunia atau jadi Inventor kelas dunia seperti yang dirindukan oleh Founding Father Indonesia, mengapa harus hitung ongkos keluar.

Mudah mudahan saya keliru mengambil kesimpulan. Sebab menjadi ahli dan profesional dalam suatu disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi bukanlah soal sederhana. Apalagi jika ingin mahasiswa Indonesia pada sepuluh tahun mendatang akan mendapatkan predikat ilmuwan dunia yang punya potensi mendapat Hadiah Nobel.

Membangun Manusia Bersumber Daya Iptek memerlukan roadmap dan model pembiayaan yang berbeda dengan soal hutang piutang seperti mendirikan perusahaan.

Bagaimana wujudnya ? Mungkin para ahli perlu memikirkannnya ditengah perubahan landskap ekonomi dan masa depan yang berubah seperti saat ini.

Apa benar begitu ? Mohon maaf jika keliru. Salam

Advertisement