Bebaskan Mimpimu

Hasanudin Abdurakhman
Kompas, 1 Maret 2016

Beberapa tahun yang lalu saya rutin membantu almamater saya Tohoku University pada pameran pendidikan Jepang di Jakarta. Saya menjaga stan pameran, memberi informasi soal sekolah di Jepang, khususnya di almamater saya.

Tidak cuma itu, saya juga memberi semangat kepada anak-anak muda yang akan kuliah. Tidak hanya kepada anak-anak, tapi juga ke orang tua.

Seorang anak tertarik pada jurusan marine biologi yang ditawarkan almamater saya.

“Kalau lulus nanti bisa kerja di mana, Pak?”

“Banyak, Bu. Bisa di lembaga riset, juga di perusahaan, misalnya yang bergerak di bidang lingkungan.”

“Memangnya ada perusahaan seperti itu di Indonesia?”

“Kenapa dibatasi di Indonesia, Bu? Anak sudah bisa kuliah jauh-jauh ke Jepang, biarkan dia jadi penduduk global.”

“Tapi kan saya kangen kalau dia kerja di tempat yang jauh.”

“Kalau begitu, Ibu ikut saja pindah ke luar negeri, sama dia.”

Ibu itu tertawa.

Begitulah. Sering kita membuat syarat-syarat batas bagi mimpi kita, atau mimpi anak kita.

“Nanti kalau jauh dari saya, ikut pergaulan bebas.” Padahal ada banyak anak-anak yang jadi lebih religius saat kuliah di luar negeri.

“Nanti telat nikah.” Padahal banyak yang bertemu jodoh di tempat sekolah.

Mendengar berbagai ketakutan orang tua itu, saya bersyukur punya emak yang tidak begitu. Di usia yang sangat dini saya berkata pada Emak.

“Mak, aku nak ke Mekah.”

“Baguslah, tu. Kau nak naik hajikah?”

“Bukan, Mak. Aku nak sekolah.”

“Ai, jauh benar?”

“Iya, Mak. Kalau dah tamat SD ni, aku nak nyambung ke Pontianak. Lepas itu, aku nak nyambung ke Jakarta. Lalu aku nak nyambung ke Mekah.”

“Waaaah, bagus itu. Rajin-rajinlah belajar.”

Pontianak, Jakarta, dan Mekah, adalah tempat-tempat yang waktu itu saya ketahui. Pontianak saya pernah pergi diajak Emak. Jakarta dan Mekah hanya saya dengar ceritanya dari orang-orang yang pulang haji. Hanya orang-orang itu yang pernah pergi jauh dari kampung kami.

Emak waktu itu tak mengecilkan mimpi saya. Ia besarkan. Meski Emak tak tahu Jakarta itu tempat macam apa. Mekah pun dia cuma dengar dari cerita orang.

Untuk sekedar pergi ke Pontianak saja, kami harus berkayuh sampan 2 jam ke kota kecamatan. Lalu disambung lagi dengan naik kapal sehari penuh. Subuh kita turun dari rumah, nanti lepas magrib baru sampai.

Jakarta dan Mekah itu terlalu jauh untuk dibayangkan sebagai tempat sekolah.

Kala itu Emak pun tak tahu macam mana caranya nanti aku akan dapat ongkos untuk pergi sekolah itu. Karena kami miskin. Tapi sekali lagi, Emak tak membatasi mimpi saya.

Tapi begitulah. Mimpi itu jadi nyata. Meski tak ke Mekah, saya pergi sekolah sampai jauh. Ke tempat yang dulu tak pernah saya dan Emak pikirkan.

Maka, kepada anak-anak muda, jangan batasi mimpimu. Tempat kakimu berpijak sekarang tidak mengikat dan membatasimu untuk melangkah sejuta atau semilyar langkah dari situ.

Kemiskinanmu sekarang bukanlah takdir abadi bagimu. Kau bisa segera meninggalkannya.

Saya percaya satu hal. “Kalau kau bermimpi menjadi sesuatu, maka Tuhan langsung buatkan jalan yang menghubungkan dirimu dengan tujuanmu itu. Kau tak perlu bersusah-susah membuat jalan itu. Kau cuma perlu mencari, dan menemukannya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s