Jusman Syafii Djamal
April 6, 2017

Kemarin saya diundang Dr Yudo Anggoro untuk berdialog dengan mahasiswa MBA-SBM ITB, topik Teknologi dan Pertumbuhan Ekonomi. Sebuah topik yang tak cukup dua jam membahasnya. Karena itu saya hanya memberikan 5 persfektip sebagai ruang untuk berdialog.

Persfektip Pertama tentang Role of Technology Development. Sebuah agenda yang dianggap oleh policy maker sebagai barang cangkokan dan modular mudah dirakit seperti Lego. Exogenous sesuatu yang diluar sistem ekonomi yang hendak dibangun.

Padahal Presiden Jokowi dipelbagai kesempatan sudah beri visi : Indonesia harus ditransformir dari Bangsa Konsumen jadi Bangsa Produsen.

Visi dan missi jelas Frame policy sebagai strategi tersembunyi dalam paket deregulasi. Key player dipasar hingga kini seolah merangkak di ngarai VUCA nya lingkungan global yang tak bersahabat.

Persfektip Kedua tentang Global Shift. Perubahan Landskap ekonomi global yang melahirkan Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity.

Sebuah agenda dialog yang sering diabaikan ketika merumuskan opsi dan pilihan alternatip masa depan. Kemajuan teknologi menyebabkan VUCA itu kini jadi “new normal”. Volatilitas, Ketidak pastian, complexitas masalah dan Ambiguitas jadi keniscayaan. Untung tak bisa diraih malang tak bisa ditolak.

Dalam persfektip ini Teknologi dan Inovasi harus ditempatkan sebagai titik ungkit, pembangkit momentum dan Wahana Transformasi.

Persefektip ketiga tentang kekuatan dialektis Teknologi. Meski disatu saat Teknologi menjadi solusi tapi disaat berikut nya Teknologi sebagai solusi diwaktu berbeda dapat muncul sebagai problem baru.

Sesuai sifat alamiah nya Teknologi dan Inovasi memiliki batas gerak maju. Ada siklus hidup nya. Ada s curve. Ada gelombang kondratief yang membawa perubahan akibat pengaruh percepatan dan kecepatan pertumbuhan teknologi disatu wilayah.

Schumpeter mengingatkan kita tahun 1934 tentang kekuatan teknologi sebagai creative destruction atau pembangkit Inovasi.

Persfektip keempat tentang kompleksitas problem Geography of Inequality, Geography of Jobs, Productivity and Innovation dalam peta dan lanskap ekonomi tiap wilayah regional maupun international .

Competition yg muncul saat ini terjadi antara kota besar. Tekanan urbanisasi, migrasi penduduk antar wilayah tak mungkin diabaikan dan diisolasi. Masalah Penguasaan Teknologi sebagai solusi atas kelangkaan bahan makanan Energy, dan air bersih perlu jadi prioritas.

Persfektip Kelima tentang Peranan Institute of Teknologi, Pusat Riset sebagai “factory of ideas”.

Saya berpendapat keinginan kita untuk menyeragamkan kurikulum, mengisolasi pertumbuhan prodi baru, membatasi ruang gerak maju universitas untuk memiliki “relung pasar” , granular market dan core competency berbahaya. Penyeragaman melahirkan involusi bukan evolusi.

Saya bilang ITB, UI, GAMA , jangan takut menjadi Elite Universities. Daripada kemajuan teknologi berpusat di Nanyang, Harvard atau MIT mengapa tidak disemai Benih keunggulan baru iptek di tiga center of excellence yang sudah lahir sejak tahun 1920 tersebut. Tinggalkan kurikulum seperti “classical chemistry”, misalnya masuk ke bio engineering, genome, dan critical technology lainnya.

Tak mungkin ada 1000 Universitas memiliki kurikulum yang sama tanpa perbedaan keunggulan.

Jika satu jalan cuma diisi penjual martabak telur , atau semua pulau ditanami Kelapa sawit, mono kultur apa indahnya hidup ??

Begitu kurang lebih pokok bahasan dialog saya dengan para generasi muda yg sedang berkuliah di MBA SBM ITB.

Saya banyak belajar dalam dialog yg terjadi. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s