Adriano Rusfi

Mari kita bebaskan diri kita dari pembodohan bahwa belajar itu identik dengan sekolah, pendidikan itu identik dengan sekolah, dan kesuksesan itu identik dengan sekolah. Ingatlah bahwa sekolah belum berumur sampai 200 tahun, sedangkan manusia-manusia hebat telah bertaburan dan bertebaran di muka bumi ini jauh sebelumnya.

Sekolah lahir bersamaan dengan Revolusi Industri, sementara Socrates, Plato, Aristoteles, Abubakar ra, Umar ra, Utsman ra, Ali ra, Imam Hanafi, Ibnu Sina, Imam Ghazali, Galileo, atau Isaac Newton hadir jauh sebelumnya.

Sekolah hanyalah sepetak ruang dengan meja, kursi, buku dan pengajar, sedangkan Socrates belajar di pasar, Plato belajar di kedai, Isaac Newton belajar di kebun apel, Buya Hamka belajar di surau, sedangkan Thomas Alfa Edison belajar di gudang bawah tanah

“Ibu adalah madrasah”, kata sebuah syair terkenal. Ya, inilah tempat belajar sejatinya : ibu.

Dan membaca adalah belajar:“Bacalah dengan menyebut nama Rabb-mu” (QS Al-‘Alaq:1)
Al-Qur’an adalah sumber ilmu utama yang tak pernah kering
Sedangkan pena dan menulis adalah tempat Allah menurunkan ilmuNya : “Dialah yang mengajarkan dengan perantaraan pena” (QS Al-‘Alaq : 4)

Adapun dzikir dan fikir adalah modal intelektualitas : “Yaitu orang-orang yang berdzikir pada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, serta berfikir tertang penciptaan langit dan bumi…” (QS Ali ‘Imran : 191)

Lalu, alam semestapun tak habis-habisnya menawarkan isyarat-isyarat pengetahuan tak habis-habisnya : “Dan betapa banyaknya tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan bumi yang manusia melaluinya dengan cepat. Namun manusia berpaling darinya” (QS Yusuf : 105)

Akhirnya, ada ulama-ulama dengan ilmu dan ketaqwaan yang luar biasa siap mengajarkan ilmunya dengan tulus, ikhlas dan utuh. Mereka bukan sekadar suplier pengetahuan (tutor), tapi konstruktor keilmuan : mentor. Mereka bukan cuma pengajar, namun GURU.

Sayangnya dan celakanya, segalanya dilumpuhkan dan kita nafikan. Lalu jadilah kita manusia-manusia yang merasa bodoh, dibodoh-bodohi dan tak berdaya. Kita merasa butuh campur tangan negara agar pintar, kita begitu menghajatkan sekolah agar pintar. Kedai-kedai kopi yang meriah dengan pengetahuan digantikan dengan ruang-ruang kelas nan kaku, formal dan sunyi.

Secarik ijazah telah menggantikan kompetensi… Gelar akademik telah menggantikan kepakaran… Sertifikat resmi telah menggantikan profesionalitas… Dan kitapun merengek-menghamba pada negara.

Tinggallah kita yang nelangsa dengan segepok kertas berstempel, namun tanpa hati… tanpa air mata… tanpa kepedulian… tanpa keahlian… tanpa kompetensi… tanpa kepakaran….

Dalam nestapa itu lalu Allah menghardik murka pada kita :
“Apakah kalian tak berakal ?”
“Apakah kalian tak berpikir ?”
“Kalian punya hati, namun tak memahami… Kalian punya telinga, namun tak mendengar… Kalian punya mata, namun tak melihat… Kalian bagai binatang ternak…”
Tidak !!! Tak seharusnya kita bak hewan. Akhiri pembodohan oleh negara : STATE-FREE EDUCATION !!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s