Smart Cities dan Inovasi untuk Masyarakat : Food for thought

Jusman Syafii Djamal
April 22, 2017

Kamis pagi 20/4/17, kemarin saya mendapat kehormatan dari Dr. Unggul, Kepala BPPT. Beliau meminta saya memberikan Kenote Speech tentang Innovation and Smart Cities di Science Technology Forum International yang diselenggarakan di Bali.

Mr Koji Omi mantan Menteri Keuangan Jepang, yang kini berusia 86 tahun dan bertindak sebagai Founder and Chairman of Science Technology in Society Forum, menjadi inisiator Forum para Expert Asean dan Jepang untuk berdialog selama dua hari tentang Innovasi dan Smart Cities. Forum ini untuk Asean digilit tiap tahun. Kali ini di Indonesia. Penyelenggaranya BPPT. Tiap tahun juga ada STS Forum International di Kyoto Jepang.

Dalam Keynote saya mengajukan dua contoh kota di Jepang sebagai Lesson Learned untuk memahami Roadmap Innovasi dan Kota Cerdas atau Smart Cities. Mengapa saya hanya memberi dua contoh kota di Jepang tidak di Indonesia karena di kedua kota ini kita dapat menemukan tolok ukur tentang arti kemajuan. Sebab kita mampu membuat perbandingan yang kasat mata dan ukuran yang jelas untuk dijadikan benchmark.

Jika kita ingin melakukan proses transformasi, tentu kita perlu membuat peta “origin – destination”, journey of “before and after”. Asal nya bagaimana kondisi, akhirnya kemana hendak dibawa. Begitu definisi transform. Trans berarti lintas. Forms berarti bentuk. Tansformasi berarti membawa satu konfigurasi masyarakat atau kelompok dimasa lalu, menuju masyarakat atau kelompok yang memiliki ” a new value” dimasa yang akan datang.

Transformasi memerlukan kriteria dan ukuran keberhasilan. Proses transformasi memiliki unsur kesinambungan dan perubahan. Yang mana yang dilanjutkan dan dipertahankan, apa yang perlu diubah perlu jelas asal usulnya. Dan Sesuatu yang dapat diukur dengan standard dan metode tertentu memiliki transparansi dan akuntabilitas. Karenanya dalam Keynote tersebut saya mengajukan dua kota sebagai Benchmark. Wahana untuk menjelaskan apa yang saya maksud dengan Inovation for society dan Smart Cities.

Kota Pertama adalah Kitakyushu EcoTown. Kota ini muncul tahun 1901.Ketika Industri Baja Blast Furnace diperkenalkan. Kota ini kemudian tumbuh jadi industrial zone. Penggerak pertumbuhan ekonomi Jepang. Akan tetapi Industri yang tidak dikelola dengan kriteria ramah lingkungan melahirkan polusi. Tahun 1960 kota ini mengalami masa terburuk. Bahkan bakteri saja tidak dapat berkembang, dihantam polusi. Pinggiran pantai Doka Bay dekenaal dengan sebutan Sea of Death. Laut kematian. Apa saja yang muncul di laut mengalami kematian. Tak ada ikan hidup disana.

Tahun 80 an muncul kesadaran baru. Masyarakat tergerak untuk bergotong royong, membangkitkan harapan. Mereka tak mau pindah ke kota lain. Bagi masyarakat, pindah kota bukanlah pilihan. Mereka ingin hidup dikota tersebut. Mereka bahu membahu Akademisi, Pengusaha dan Government Official menyusun rencana bersama melakukan transformasi. Kota yang hancur dilanda polusi dirubah menjadi Eco Town. Kota ramah lingkungan. Kini Kitkayusuhu menjadi Kota ramah lingkungan.

Masyarakat nya kini hidup dalam lingkungan yang disebut Low Carbon Society. Banyak pepohonan, taman, laut dan pantai yang bersih, ratusan jenis ikan muncul kembali. Transportasi nya menggunakan mobil hibrida, sumber energi nya solar panel, dan broadband wifi ada dimana mana. Kota juga diamankan melalui penempatan cctv. Eco Town berubah jadi Smart City.

Kota kedua adalah Fujisawa Sustainable Smart Town di Kanagawa Prefecture. Di kota ini kita dapat bertemu dengan apa yang disebut PPP, Public Private Partnership dan Triple Helix Innovation Driver — Akademisi, Entrepreneur dan Government Official bekerjasama sebagai suatu teamwork. Melalui kerjasama kota yang terdiri atas 1000 rumah tang dirubah menjadi smart town.

Dengan motor Konsorsium Panasonic dan 11 Perusahaan lainnya, diciptakan “a community lifestyle” based on residential comfort,regional characteristics, future living patterns. Gaya hidup masyarakat ditransform dari analog menjadi digital society. Dari High Carbon menjadi Low Carbon Society. Tetapi tradisi sebagai masyarakat yang saling berdialog satu sama lain tidak terganggu.

Melalui dua contoh kota tersebut, Perkataan Innovation for society, smart cities atau kota cerdas saya tempatkan dalam perfektif menemukan jalan baru, landskap baru dan tatanan baru untuk menciptakan masa depan yang jauh lebih baik bagi masyarakat yang hidup disuatu wilayah. Kata kota cerdas atau smart cities lebih dikaitkan dengan makna Produktivitas dan Efisiensi masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya. Baik alokasi manusia bersumber daya maupun alokasi sumber daya lainnya. Masyarakat tak boros energi, tak membuang plastik serta material yang mengancam lingkungan hidup, dan sumber energi terbaharukan dimanfaatkan secara maksimal.

Dengan kata lain, Smart Cities atau Kota yang cerdas berarti kota yang membuat masyarakat nya jauh lebih produktip dan jauh lebih efisien.

Dari pengalaman transformasi di Kota Kitakyushu ternyata tidak diperlukan pemindahan ibu kota wilayah untuk membuat transformasi dari kota yang penuh polusi, tak teratur, sampah dimana mana, sumber energi diesel dan hal lain yang tidak menyenangkan menjadi kota ramah lingkungan.

Kita tidak memerlukan pemindahan ibu kota hanya untuk ,embuât sebuah kota Eco Town, ramah Lingkungan, merombak masyarakt konsumtip menjadi produktip dan lebih efisien. Kemacetan juga dapat dihilangkan melalui infrastruktur transportasi massal yang baik. Ternyata terbuka opportunitas dan banyak cara dan jalan untuk membuat sebuah kota jauh lebih nyaman, aman dan produktip, melalui inovasi dan kemajuan teknologi ICT dan Energi terbaharukan.

Dari kedua kota itu kita juga dapat belajar bahwa pada tiap kota ada sejarah yang tak mudah diputar ulang. Tak mungkin Kyoto dipindah ke Tokyo dengan ciri dan tradisi yang identik. Tak dapat kita mengganti kota Jakarta dengan kota Tokyo atau Singapore misalnya, hanya supaya kita dapat hidup seperti orang Singapore .

Ada jiwa dan ruh yang membuat satu kota berbeda dengan yang lain. Ruh itu disebut tradisi dan akar budaya. Hanya di Kota Jakarta , Proklamasi 17845 di bacakan oleh Bung Karno dan Hatta. Hanya di Jakarta kita memiliki mesjid Sunda Kelapa dan Fatahillah. Hanya di Jakarta ada Makam Kalibata, Lubang Buaya, Husni Thamrin dan Monas serta Istiqlal yang mengandung banyak memori sejarah yang tersimpan sebagai suatu Bangsa disini. Memindahkan ibukota ketempat lain hanya karena kita tak mampu mengatasi kemacetan dan polis serta urbanisasi, alangkah sedihnya ???

Tiap kota memiliki Ruh dan Jiwa, dan itu tidak dapat ditukar dengan apapun. Seperti juga tak mungkin Kabah dipindah dari Mekah atau mesjid Nabawi dipindah dari Medina. Ada sejarah dan akar budaya yang tumbuh berkembang disetiap tempat dan kota. Kita menyebutnya Kultur dan Jati Diri.

Karena itu dalam pidato Keynote Speech saya menyampaikan bahwa hanya Inovasi dan Kecerdasan yang mempu merubah sebuah kota dan mentransformasi sebuah wilayah dari sebelumnya kacau porak poranda tertransformasi menjadi jauh lebih produktiv dan innovative.

Smart Cities bukan sekedar kota dengan infrastruktur cctv dan internet broadband. Melainkan sebuah kota yang bersih, nyaman dan teratur. Infrastruktur cctv adalah wahana bagi polisi dan aparat keamanan untuk membuat setiap orang tidak merasa terintimidasi dan terteror oleh kejahatan tak terduga, baik ditengah keramaian maupun ditempat sepi. Baik dipagi hari ataupun dimalam hari.

Sepanjang waktu rasa aman muncul. Hanya rasa aman yang melahirkan ekosistem yang baik bagi tumbuhnya benih kreativitas dan produktivitas. Dan itu adalah prasyarat dari Smart Cities. Tanpa keamanan dan keselamatan bagaimana mungkin sebuah kota disebut Cerdas.

Kota yang cerdas tentu bukan kota yang listrik nya byar pet. Dan sering mati lampu yang bikin generasi muda tak dapat membaca atau bercengkrama menimba ilmu pengetahuan. Karenanya memerlukan sumber daya listrik yang dapat diandalkan. Kota yang cerdas akan muncul jika sampah dapat diproses menjadi listrik, jika sinar matahari dimanfaatkan menjadi generator pembangkit energi. Fossil Fuel yang membuat kota memiliki tingkat pembuangan emisi CO2 tinggi perlu dikurangi.

Tanpa Listrik bagaimana mungkin sebuah kota disebut Cerdas. Kota yang dikelilingi oleh kali atau sungai yang kotor dan bau, serta polusi udara yang menyengat serta sampah bertumpuk bagaimana mungkin bisa disebut Kota Cerdas atau Smart Cities.

Kota yang cerdas adalah kota yang penduduknya jauh lebih produktive memanfaatkan kemajuan teknologi Internet of Things. Lebih produktive berarti dengan input waktu dan alokasi biaya yang sama menghasilkan output dua kali lipat atau lebih.

Kota yang cerdas juga berarti “geography of inequality” nya , kesenjangan antar wilayah pemukiman tidak jomplang terlalu jauh. Kota yang ketimpangan sosialnya semakin melebar sukar melahirkan Equality and Economic Growth yang berkesinambungan. Tanpa sustainability in economic development bagaimana mungkin sebuah kota disebut Smart Cities.

Dengan benchmarking pada dua kota di Jepang tersebut saya mengajak para ahli untuk mendiskusikan kata Inovasi untuk kepentingan Mayarakat. Inovasi untuk menyelesaikan masalah Food, Energy and Water Scarcity. Kelangkaan Bahan Makanan , Kelangkaan Energi dan Air Bersih yang akan dihadapi oleh tiap masyarakat dikota besar dimasa yang akan datang.

Tantangan berat seperti itu yang membuat kita tidak perlu lagi mencoba menemukan “roda atau ban” kembali hanya untuk melahirkan mobil atau kenderaan masa depan. Kita tak memerlukan pindah kota hanya untuk menjadi produktive dan efisien. Sebab kecerdasan memiliki jalannya sendiri untuk menemukan solusi.

Apakah begitu ? Mohon Maaf jika keliru.
Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s