Mana Yang Lebih Dulu, “Mengenal Anak atau Merancang Pendidikan Anak?”

Harry Santosa — with Sitirahayu Umiken.
April 18, 2017 ·

Ada banyak orangtua, terutama Ibu, yang resign dari pekerjaannya dengan semangat 45 yang menggebu gebu untuk kembali kepada fitrahnya, mendidik anak anaknya sendiri. Tekad ini sungguh mulia.

Lalu mereka segera merancang program untuk mendidik anak anaknya dengan sangat rapih dan detail.

Namun sayangnya, tidak berapa lama kemudian sering berubah menjadi frustasi karena apa yang dibayangkan indah dan disusun mewah itu kemudian tidak berjalan mulus bahkan cenderung stagnan. Bahasa proyeknya, behind schedule, bahkan over budget (terutama psychology cost).

Ini sering terjadi, para bunda yg bersemangat awalnya dengan berbagai rencana kegiatan atau program yang detail utk memulai mendidik di rumah (home education) anak anaknya, namun dalam perjalanannya sangat lambat progresnya atau tidak berjalan spt yg direncanakan.

Dimana masalahnya?

Ternyata kita sering memandang anak bukan subyek yang difasilitasi tumbuh fitrahnya, tetapi lebih sering dianggap sebagai obyek yang harus diisi sebanyaknya sesuai mau kita.

Tanpa sadar kita sering seperti perilaku pemerintah, yang menyusun rencana sepihak untuk diterapkan di masyarakat tanpa menggali apa sesungguhnya “fitrah masyarakat”

Memang di Bappenas ada Musrenbang, namun sering kali tidak mendalam menggali kebutuhan masyarakat apalagi para perencana pembangunan sering membuat indikator global yang tidak relevan dengan indikator kearifan lokal dan keunikan daerah.

Maka bisa dipahami, mengapa seringkali program pemerintah tidak berjalan smooth bahkan cuma output tetapi tidak sampai ke outcome dan impact.

Nah, begitupula dalam mendidik anak, kita seringkali merancang program tanpa mengenal mendalam siapa ananda sesungguhnya. Kita seringkali menggunakan “kacamata” penjajah yang ingin mengintervensi fitrah manusia karena merasa lebih hebat dari Tuhan.

Karenanya kita sebaiknya memulai dengan berkegiatan saja yang seru, lalu amati dgn empati semua aspek fitrah ananda dan direkam dalam “JURNAL KEGIATAN”

Berkegiatannya apa saja yg ada sehari hari, manfaatkan berbagai momen peristiwa dalam kehidupan keseharian dengan kearifan dan keunggulan alam yang ada (learning through living). Bahasa minangnya “Alam Takambang Jadi Guru”

Jadi jargonnya adalah “jangan menunggu semua ada, mulai dari apa yang ada, tak perlu mengada ada”.

Dengan berkegiatan maka semua aspek fitrah akan bisa ditumbuhkan sekaligus diamati atau diobservasi mendalam polanya.

Hasil observasi aspek fitrah, termasuk sikap dan pengetahuan yang di dapat kemudian didokumentasikan dalam jurnal kegiatan. Semua hasil observasi ini digunakan untuk merancang kegiatan berikutnya.

Begitu seterusnya, makin lama makin kita mengenal ananda, makin dalam dan makin tajam mengenal pola fitrah ananda. Dan yang tak kalah penting adalah bahwa kebersamaan ini juga menguatkan kelekatan atau relasi cinta ayah bunda dan ananda yang kokoh.

Kelak, jika banyak berkegiatan dan rajin membuat jurnal kegiatan, maka ayah dan bunda akan punya jurnal kegiatan yang banyak dan menjadi alat mengenal pola fitrah ananda.

Jika kita sudah mengenal pola fitrah ananda, barulah kita bisa merencanakan detail kegiatan atau proyek atau program yang relevan dengan fitrah ananda. Sekaligus Portfolionya jika sudah punya karya.

Ini disebut dengan “personalized education” , karena tiap anak unik dan ditakdirkan punya peran peradaban unik di masa depan, maka program yang disusun harus personal.
Manusia bukan mesin yang bisa berjalan dengan serangkaian SOP

Mendidik itu seperti berdakwah, harus masuk ke wilayah hati, karena hatilah yang menggerakkan amal atau disebut dengan intrinsic motivation. Islam menamakannya Niat. Bab Niat sangat penting sehingga bab niat selalu ada di awal di semua kitab klasik Islam.

Maka dalam mendidik, atau merancang kegiatan untuk menumbuhkan intrinsic motivation dalam diri anak, perhatikan kaidah 3R
1. Relevant. Ada relevansi yang kuat dengan fitrah ananda
2. Relation. Ada relasi kecintaan yang mendalam
3. Reason. Ada alasan yang kuat dan mengakar.
Jadi tetaplah rileks dan optimis ya Ayah Bunda.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s