Fitrah Ayam

Harry Santosa
April 14, 2017·

Dalam sebuah peternakan ayam para ayah ayam dan para ibu ayam hanya berkumpul, bergerombol, bereproduksi dan makan bersama. Makanan disediakan, minuman disediakan oleh pemilik peternakan sepanjang mereka menurut.

Mereka tidak perlu susah susah seperti ayam kampung mencari makan. Ada pos pos makan dan minum di sektar mereka, ini mirip minimarket terdekat yang menyediakan semua keperluan ternak.

Agar cepat besar, makanan mereka sudah dicampur berbagai “obat kimiawi” impor. Ini mirip restaurant junk food nya manusia, yang menyediakan makanan halal namun pemicu kanker. Tidak sedikit ayam ternak ini yang mengidap kanker, mati muda dan cacat karena makanannya.

Ayah ayam dan ibu ayam tidak pernah merancang misi keluarganya. Buat apa juga? Pensiun dan masa depan mereka sudah ditakar dan sudah ada formulanya. Kebanyakan mereka telah rela dipensiunkan dini untuk dibawa ke rumah pemotongan.

Mereka berfikir jika hidup ikhlash dan mengalir, men”syukuri” apa yang ada, maka akan masuk syurga. Jadi tak perlulah ada misi spesifik apapalagi berjuang sungguh sungguh mewujudkannya.

Jangankan misi keluarga, mereka bingung menemukan jatidiri keluarga ayam mereka, bahkan jatidirinya sendiri sebagai Ayam. Kini bahkan mereka tidak tahu lagi cara mendidik anak anaknya. Mereka dan anak anak mereka hidup dalam sekat kandang dan ruang tertutup perumahan dan gedung 24 jam, full day n night.

Mungkin mereka, para ayam ini lupa, bahwa ayam mengerami telur selama 21 hari sesuai yang Allah hikmahkan. Mereka lupa bagaimana membantu menetaskan telurnya. Mereka telah kehilangan “fitrah” nya sebagai induk ayam. Sejak paska bertelur, mereka, induk ayam, sudah harus kembali melahap makan dan minum sebanyaknya untuk memenuhi target sesuai keinginan pemilik ternak. Tidak ada cuti mengerami dan merawat yang cukup.

Lihatlah anak anak ayam ini, mereka sejak telur sudah dititipkan pada mesin penetasan kemudian dikelompokkan sejak usia dini sampai usia ABG, kemudian dibariskan siap dipotong. Para anak ayam ini diseragamkan, dikelompokkan sesuai usia, dipilah sesuai standar. Tentu saja, yang “jelek” dan “afkir” sejak telur, usia dini dan anak, sudah pasti dicampakkan.

Para anak ayam ini sejak kecil sudah gampang stress, depresi dll. Suara petir bisa membuat mereka langsung terjungkal kaku mati. Beberapa anak ayam mengalami kebodohan permanen, karena obesitas dan banyak dikurung. Mereka jauh dari disebut kreatif apalagi bahagia sebagai ayam karena tidak pernah dihargai “fitrahnya” sebagai ayam.

Para anak ayam ini sesungguhnya rindu bermain di alam terbuka, rindu menghangatkan tubuh di bawah sayap induknya, sangat ingin mencari makan dengan mengais dan mencakar tanah, mengepakkan sayapnya sepuas puasnya, berguling di kubangan dan tanah yang gembur dsbnya. Namun peternakan terpadu tempat mereka “disekolahkan” membuat mereka kehilangan jatidirinya atau fitrahnya sebagai ayam.

Para orangtua ayam juga sebenarnya rindu mengerami telurnya sendiri, rindu menyuapi anak anaknya dengan cacing tangkapan sendiri langsung ke mulut anak anaknya dengan penuh kasih. Para orangtua ayam ini juga rindu sangat bermain di kebun dan alam terbuka bersama anak anaknya. Mereka membayangkan dengan bangga berjalan di kebun diiringi puluhan anak anaknya.

Sayangnya mereka hanya ayam yang tidak punya aqal dan nurani, mereka tidak menyadari sedang dizhalimi.

Semoga kita tidak hidup dalam peternakan manusia, karena kita diberi fitrah, nurani dan aqal.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s