Jusman Syafii Djamal
April 22, 2017

Tiga puluh empat tahun lalu, tepatnya bulan Juli Tahun 1983. Saya mulai bekerja sebagai professional aerodinamika dari posisi terendah di Hanggar Getafe CASA Madrid Sepanyol sebagai junior engineer. Field aero-engineer in Quality Checking dari pesawat Prototype CN235 Infanta Elena – P1.

Tiap hari selama tiga bulan saya Mengukur geometri sayap, mengechek ketebalan airfoil, mengukur antenae, empennage, lubang antara flap dan sayap, dst. Untuk menemukan gap perbedaan antara gambar teknis ukuran A0 dan loft, dengan komponen yang diinstalled.

Rinci dan musuhnya hanya satu rasa bosan muncul tanpa diundang. Mungkin Itu yg bikin kacamata jadi tambah ukuran nya. Sebab setelah itu saya pasti punya kesempatan membuat program komputer dgn bahasa Fortran IV u menghitung boundary layer tiap area permukaan kulit luar yg diteliti.

Alat yang digunakan jangka sorong, mistar untuk mengukur panjang, lebar dan ketebalan serta diameter dan kedalaman lubang. Slide rule untuk menghitung dan buku catatan.

Tiap hari tupoksi saya adalah Menjejaki semua kekeliruan kecil dalam produksi yang berdampak besar pada kinerja pesawat terbang. Menemukan “Parasitic Drag”, losses dan inefficiency bahan bakar akibat ketidak mulusan kulit luar pesawat terbang, karena proses perakitan akhir tidak rapi.

Pekerjaan rutin yang melelahkan tubuh tapi membuka cakrawala tentang Ketelitian, Keteraturan dan Keandalan Kinerja matarantai Tim design dihulu dan Tim produksi di hilir.

Dari pengalaman itu lesson learned yg dapat diperoleh adalah :

1. Jangan anggap remeh masalah teknis, rincian eksekusi di lapangan dan keteledoran yang terjadi. Kekeliruan kecil memiliki efek perambatan berganda dalam sistim yg kompleks.

Butterfly effect, kepak sayap ribuan kupu kupu di hutan amazon dapat melahirkan typhon angin ribut di Alabama Amerika.

2. Kalimat yang sering kita dengar dari seorang manajer:”ah itukan masalah teknis” jangan hiraukan, biar bawahan dan staff saja yang men”take care” adalah benih keangkuhan yang dapat jadi embryo kegagalan fungsi.

Sebab pada dasarnya semua masalah hidup adalah bermula dari masalah teknis. Tak ada masalah filosophis yang muncul di lapangan eksekusi. The devil is in detail.

3. Trust is good but checked is better. Percaya pada teman satu tim amatlah baik dan dianjurkan. Tapi tiap partner atau mitra kerja memerlukan feedback.

4. Membangun sistem dan mekanisme kerja melalui proses Check and Balance akan melahirkan sistem terbuka. Sistem dan mekanisme kerja yang memiliki keunggulan akibat adanya feedback dan akuntabilitas perlu terus menerus di kembangkan untuk menemukan langkah “continuous improvement”.

Karenanya saling memeriksa kesempurnaan hasil kerja tiap orang perlu dilakukan oleh seorang manajer. Kami menyebutnya dimasa lalu dgn istilah Management by Wandering Around. Mengadakan One Hour Meeting ditempat peristiwa, asking check list dan job card serta berdialog untuk konfirmasi dan verfikasi. Eye to eye discussion dan Motto Teliti sebelum membeli adalah pelajaran “on the job” training saya sebagai field manajer.

5. Bekerja kasar dengan tangan dan Mata kepala sendiri perlu terus menerus dilatih. Kesasmitaan hanya mungkin tumbuh berkembang diatas kesamaptaan. Tak mungkin ada jenderal yang baik jika tidak ada sersan dan mayor yang unggul.

Mudah2an sharing ini bermanfaat bagi para junior yang baru dapat pekerjaan dan assignment. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s