Membangkitkan Sektor Riel : Fokus pada Kecepatan Uang Beredar – Increasing Velocity of Money ditengah Masyarakat ?

Jusman Syafii Djamal
March 19, 2017

Minggu lalu ketika mampir di toko buku Kinokuniya saya beli buku menarik. Judulnya The Great Equalizer. How Main Street Capitalism Can create an Economy for Everyone. Karya David M Smick. Beliau seorang penasehat dari Investor terkemuka dan CEO Financial Market Advisory Firm Johnson Smick International. Buku best sellernya berjudul The World is Curved anticipated 2008 crisis.

Buku ini menarik karena ia bilang Kapitalisme punya banyak variant langkah dan bentuk. Secara garis besar ada dalam dua arus utama “school of thought” dengan banyak sungai kecil yang berasal dari sana. Yang satu ia sebut dengan istilah “Corporate Capitalism”, yang lain ia sebut main street capitalism.

Kapitalisme Korporasi yang selama ini telah membuat ekonomi Amerika didominasi oleh elite dan perusahaan raksasa seperti General Motor dan elite di Washington. Akibatnya banyak anggota masyarakat tidak menikmati kue kemajuan dan terpinggirkan menjadi “forgotten men and women”.

Dalam dekade terakhir ini, Mayoritas merasa berada diluar gelanggang arena kompetisi atau playing field. Tentu saja anak kandung kapitalisme adalah perusahaan yang diberi keleluasaan untuk menciptakan keuntungan. Yang kemudian dialirkan dalam investasi baru menciptakan lapangan kerja. Akan tetapi kini dengan berjalan nya waktu, kapitalisme korporate ini melupakan “main street” dan berfokus pada upaya menemukan “value tertinggi” dalam pasar finansial di “wall street”.

Corporate Capitalism yang awalnya menemukan kegairahan dalam mencari “nilai tambah”, top line dan bottom line melalui proses produksi dan inovasi, kini bergandengan tangan melebur dalam apa yang ia sebut sebagai “Financial Capitalism”.

Fokus Kapitalisme corporate ini adalah Creating value process through , menciptakan nilai tambah tertinggi melalui persepsi pasar wall street. Virtual Market in wall street menjadi jauh lebih menarik dibanding dengan main street.

Bagi penganut mazhab fikiran Corporate Capitalism Toko kecil, small medium enterprises, industri rumah tangga tidak lagi menarik dan selalu tersingkir dari arena persaingan. Bagi mazhab ini paradigma dan fikiran Ekonom Inggris tahun 1973 yang dikembangkan oleh EF Schumacher berjudul “small is beautiful” tidak relevan untuk dibicarakan, dan hilang dari khasanah “policy options”.

Setiap Upaya untuk mengembangkan habitat dan ekosistem bagi tumbuhya “local businessmen, small and medium industry , heritages industries, atau local cafes dan warung kecil seperti wateg, atau kedai pecal madiun yang ikut menjual kerupuk , keripik kentang, singkong goreng dan penganan rumah tangga dari kampung sekitar, tak menarik untuk diketengahkan. Dianggap sebagai sebuah kebijakan alokasi anggaran yang tidak kena sasaran. Dipandang sebagai opsi atau pilihan arena pembangkit pertumbuhan ekonomi yang keliru. Begitu kurang lebihnya.

Pendekatan Corporate Capitalism menurut Smick bukan sesuatu yang seratus persen keliru. Tetapi dominasi dan ruang pengaruh yang begitu besar telah menggiring proses akumulasi kapital menumpuk di lingkaran amat terbatas. Kesenjangan Sosial atau Inequality mewujud dalam arena medan persaingan. Macan bertemu kambing diruang yang sama pada waktu bersamaan.

Yang tumbuh kemudian model tata kelola perusahaan berskala besar dengan fikiran “economic of scale”. Skala ekonomi bersifat massal. Semua tingkat Revenue yang didasarkan pada akurasi dalam memprediksi respon konsumen terhadap harga, dan positioning harga pesaing dengan satu tujuan yakni pelebaran sayap bisnis secara mandiri dan melupakan kekuatan mata rantai pasokan industri kecil, rumah tangga yang ada disekitar nya.

Dalam habitat seperti ini, Local talent dan local genius makin lama makin pudar kehilangan kesempatan untuk ikut dalam mata rantai proses produksi yang berjalan ditiap industri. Keterampilan dan kekuatan produktip penduduk lokal kian hari kian menyusut ditelan zaman, sebab tak memiliki kesempatan untuk tumbuh berkembang melalui akumulasi pengalaman.

Ketika SMA saya sering main di lapangan Merdeka di Medan, didepan stasiun kereta API. Disana saya belajar sesuatu yang kelak kemudian saya maknai sevagai fondasi dari tacara berfikir Revenue Management.

Ketika asik menyaksikan “penjual obat” di dekat stasiun kereta api sedang menarik pelanggan. Dengan pengeras suara dan lagu lagu penjual obat telah mengenal pelanggannya dengan baik. ia menawarkan pelbagai jenis obat, dari obat penumbuh jenggot dan rambut hingga obat keseleo dan patah tulang. Ia mengenalkan produk sambil menunjukkan kejagoan bersulap. Kadangkala dibarengi dengan permainan debus atau pertunjukan ular.

Setiap pembeli saya amati dirangsang emosinya untuuk mendekat dan akhirnya tergoda membeli pelbagai obat yang ditawarkannya. Ada minyak kayu putih, minyak kelabang dan pelbagai obat lainnya. Ia memancing pesona dengan pelbagai cerita menarik dan kemudian menutupnya dengan satu gerakan manis memancing pelanggan, semua jenis minya dijadikan satu paket dan harga obral ditawarkan.

Pelanggan terjebak untuk tidak menggunakan jumlah uang yang ada didompet sebagai batas gerak majunya, melainkan tergoda untuk gunakan emosi dan pridenya, segala jenis obat dibeli dan dompet terkuras habis.

Rule Thinking with your wallet not your emotion rusak dirayu kepintaran penjual keliling yang berjibaku dengan segala jenis teknik rayuan. Padahal obat yang dibeli itu tak ada yang ia perlukan. Tinggal yang di rumah semua orang bilang : gila kau, habis duit beli minyak yang tak ada ujung pangkalnya.

Model Bisnis individual, dari rumah kerumah, berskala kecil seperti yang saya temukan di Lapangan Merdeka Medan dimasa lalu ini yang disebut oleh Smick sebagai “main street capitalism”. Habitat dan ekosistem ekonomi yang dimotori dan digerakkan oleh entrepreneur lapangan yang muncul dari hasil jerih payah kantong sendiri, menemukan pelanggan setia dan berakumulasi setahap demi setahap. Pada usia 40 tahun menjadi pengusaha warung tegal atau warung padang dengan puluhan cabang.

Dalam situasi sukar akibat biaya produksi dan biaya transportasi yang terus merambat naik tanpa bisa dibendung, pengusaha kecil yang ikuti mazhab fikiran “main street capitalism” memang harus putar otak terus menerus, sepanjang hari setiap detik.

Apalagi 80 % pelanggan baik lower, middle maupun upper income sangat sensitip pada perbedaan harga 50 % untuk barang berharga dibawah 500,000 rupiah pindah toko. Untuk barang berharga 1 juta rupiah dengan diskount 25 %, 70 persen pelanggan pindah toko. Sementara untuk barang berharga 5 juta rupiah keatas, diskount 5-10% akan menyebabkan 80% pelanggan pindah toko, begitu survey Bank Dunia untuk pembeli tilpon genggam di Jakarta tahun 2014.

Karenanya jika “Corporate Capitalism” terus diberi keleluasaan untuk beroperasi tanpa kendala, pastilah pada akhirnya dengan metode “pricing strategy” yang pas semua Mall dan Supermarket di belahan dunia ini akan diisi oleh produk dari industri yang sama dan memiliki Head quarter di Negara lain. Itu juga yang menyebabkan Mall di Washington, New York, London, Frankfurt, Beijing, Jakarta atau Bangkok jika kita masuk memiliki counter penjualan produk bermerek yang sama. Mall di Singapura pastilah mirip dengan Mall di Jakarta. Banyak produk yang ditawarkan, tapi tak ada yang menjual “made in Indonesia”. Yang hadir “made in china”.

Dalam buku itu Smick mengenalkan definisi sederhana tentang perbedaan mazhab fikiran ekonomi.

Dia mendefinisikan ecosystem yang terbentuk dalam pertumbuhan ekonomi dengan kurang lebih bilang begini : Under Socialism if you have two cows, you give one to your neighbour. Under Communism if you have two cows , the states take both and give you some milk.

Under Corporate or Wall Street Capitalism if you have two cows and engage in financial engineering, you sell “the future cows”, three of them to your publicly listed company, using letter of credit open by others at the bank, then execute a debt to equity swap so that you get all your five cows backs, not necessarily paying tax, if you sell through online business. The annual report says the company own eight cows, with an option on one more. And one subsidiaray company producing milk.

Under Innovative or Main Street Economy if you have two cows. You sell one and buy a bull. Your herd multiplies and the economy grows. You sell them and retire on the income.

Dalam ekosistem ekonomi “main street conomy” jika kita memiliki dua lembu jantan dan betina, ada opsi untuk ikuti jalur fikiran ekonomi sosialis yang jantan bisa dititipkan di tetangga untuk dipelihara dan yang betina dipelihara sendiri. Jika dikawinkan dan punya anak dua betina dan jantan, dikenal istilah “paro ewang”, lembu anak yang betina dipelihara sendiri, yang jantan diberi ketetanga sebagai ongkos memelihara sapi jantan nya.

Dikemudian hari kedua pihak baik diri sendiri maupun tetangga memiliki pilihan untuk menjual lembu masing masing yang dimiliki. Terjadi multiplier effect dikedua sisi. Ada suasana gotong royong membangun sistem ekonomi kekeluargaan untuk pertumbuhan ekonomi dan pemerataan.

Dalam eksosistem ekonomi yang bertumpu pada fikiran Corporate Capitalism , policy option yang diterapkan melalui instrument insentif fiscal dan instrument moneter berupa kredit berbiaya rendah tidak menjamin munculnya investasi yang berorientasi pada pertumbuhan uang beredar ditengah masyarakat.

Sementara dalam eksosistem ekonomi yang berpijak pada mazhab fikiran main street economy selalu terbentuk arus aliran transaksi ditengah masyarakat, sehingga pertumbuhan kredit selalu diikuti oleh kecepatan uang beredar ditengah masyarakat. Ekonomi dan pemerataan bisa berjalan berbarengan disatu tempat diwaktu yang sama.

Apa benar begitu ? Saya belum tau pasti sebab buku ini baru dibaca hari ini. Dan baru habis bab pertama berjudul “Growth is almost Everything” dan bab kedua The Illusion of Certainty. Tak mudah membaca buku ekonomi jika backgroundnya engineering seperti saya.Jadi Mohon Maaf jika saya keliru menshare apa yang saya baca di minggu pagi hari ini.

Salam

Advertisements