Ilmu Ilmu Parenting

Yeti Widiati

Apakah cukup kita memiliki cinta untuk bisa mendidik anak dengan baik? Sebagian mungkin menjawab, ya cukup, lainnya bilang tidak. Nah, saya tidak ingin masuk dalam perdebatan tak berujung seperti itu. Kita eksplorasi bersama saja, pengetahuan dan ketrampilan apa saja yang kita butuhkan sebagai orangtua untuk dapat mendidik anak-anak kita sebaik yang kita bisa lakukan.
*Nomor urut tidak menunjukkan prioritas.

1. Pola Pengasuhan

Dalam banyak hal, pola pengasuhan orangtua pada anak dipengaruhi oleh harapan, tujuan, value, beliefs, pengalaman, pengetahuan, budaya, pendidikan, karakteristik keluarga, keunikan anak, dan juga kepribadian orangtua.

Ada 4 besar jenis pola asuh yang kerap dibahas. Biasanya mengacu pada pola asuh yang diulas Diana Baumrind yaitu:
– Otoriter/Memaksa
– Permisif/Membebaskan
– Otoritatif/Demokratis
– Laissez Faire/Pengabaian

Dalam prakteknya 4 jenis pola asuh ini tidak pernah sepenuhnya murni 100%. Lebih sering terjadi pencampuran dalam kadar yang berbeda-beda. Namun ragam penelitian menunjukkan bahwa pola asuh Otoritatif/Demokratis dipandang yang paling berpeluang mengembangkan anak secara optimal.

2. Karakteristik Perkembangan Anak sampai Remaja.

Bila orangtua memahami karakteristik anak sejak dalam kandungan hingga remaja, maka ia berpeluang untuk dapat melakukan pengembangan anak dengan lebih efektif.

Setiap rentang usia tertentu ada tantangan dan kerentanannya. Pemahaman mengenai hal ini akan membuat orangtua lebih aware dan lebih siap menghadapinya dan mengurangi kecemasan dan kebingungan yang berlebihan.

Misalnya, adalah umum bayi bergantung penuh pada pengasuhnya, balita banyak bergerak, anak usia sekolah banyak bertanya dan remaja banyak membantah. Bila kita memahaminya, maka kita tidak mudah emosi, tidak memberikan tuntutan terlalu tinggi di atas kemampuan anak dan bisa mencari cara yang paling sesuai untuk menghadapinya.

Dalam bahasan mengenai karakteristik Perkembangan juga mencakup mengenai 3 aspek perkembangan yang perlu distimulasi orangtua, yaitu;
(1) Aspek Fisik, di dalamnya mencakup juga aspek motorik
(2) Aspek Kognitif, termasuk kreativitas, bahasa (dan bicara), moral dan spiritual
(3) Aspek Sosial-Emosi, termasuk bermain, peran sesuai jenis kelamin
Jadi, tak cukup anak hanya diberi makan atau disekolahkan, namun ada aspek-aspek lain yang juga perlu dikembangkan secara seimbang.

3. Strategi dan Komunikasi

Tidak seperti ilmu sains yang memiliki rumus jelas, maka dalam ilmu sosial, termasuk psikologi, rumus dan strategi yang kita gunakan menjadi lebih “cair”. Cara yang berhasil untuk satu anak belum tentu efektif bagi anak lain. Hal ini karena ada relevan faktor yang lebih banyak yang mempengaruhi keefektifan suatu pendekatan.

Bagaimanapun tetap ada rumus umum yang bisa dipelajari, dan prakteknya kita perlu siap untuk mencoba ragam cara.
Pendekatan yang dipandang memiliki keberhasilan cukup tinggi adalah menggunakan pendekatan empati. Kita berusaha memahami perasaan dan cara berpikir anak dengan memposisikan diri pada posisi anak. Kemampuan berempati “mempersyaratkan” kepekaan, keluwesan berpikir dan kesediaan untuk memahami anak.

4. Pembentukan Perilaku dan Disiplin

Pemahaman tentang pembentukan perilaku, mulai dari tahapan hingga strategi pencapaian tujuan ini memang agak bersifat teknis. Membutuhkan kesediaan orangtua untuk merenung dan berpikir lebih dalam.

Saya ambil contoh begini, jika orangtua mengharapkan anak untuk memiliki sifat jujur, maka paling tidak, orangtua perlu mendefinisikan mengenai konsep “jujur” itu sendiri, termasuk indikator perilaku apa yang dapat dikatakan “jujur”. Kemudian karakter jujur itu di”break down” dibuat tahapan, cara, waktu untuk bisa mencapainya.

Para orangtua yang memiliki basic pengetahuan mengenai ilmu pendidikan biasanya akan lebih mudah untuk memahami, karena sudah terbiasa membuat rencana pengajaran. Pengetahuan ini dapat diterapkan pula di rumah dengan cara yang lebih luwes.

5. Masalah Umum dan Khusus

– Ada masalah yang timbul karena konsekuensi perkembangan.
– Ada masalah yang timbul karena dinamika interaksi dan lingkungan anak.
– Ada pula masalah yang timbul karena perbedaan terberi/given.

Orangtua biasanya mengembangkan kemampuan handling problem melalui kasus spesifik yang dihadapinya. Tentunya ini baik. Bila orangtua juga mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah-masalah umum keseharian, ini menjadi luar biasa.

6. Menjadi Model

Pendidikan, sederhananya adalah mencontoh atau memodel. Dan memodel yang paling masuk akal adalah dengan melihat langsung orang-orang terdekat. Oleh karena itu orangtua, pengasuh dan guru adalah orang-orang yang memiliki peluang paling besar dicontoh anak.

Hal-hal apa saja yang biasanya dicontoh dengan sangat cepat dan mudah oleh anak?
– Tampilan fisik. Gesture, gerakan, cara bicara, ekspresi, cara berpakaian, dll
– Pengelolaan emosi. Reaktif, sabar, pencemas, periang, semangat, pemarah, murung, dll
– Problem solving. Terencana, tergesa-gesa, berdasar data, asal bicara, dll
– Habit atau kebiasaan
– Value, cara pandang, filosofi hidup, beliefs, dll

Pengasuhan dan pendidikan anak di rumah sejatinya bukan hanya satu arah (orangtua kepada anak), namun timbal balik (Orangtua-anak dan anak-orangtua). Sehingga konsekuensinya adalah, orangtua perlu mengembangkan diri terus-menerus.
Tentunya masih banyak ilmu-ilmu lain yang perlu dimiliki orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak. Yang saya urai di atas, belum seluruhnya.

Wallahu’alam
Yeti Widiati – 48-130717

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s