Jusman Syafii Djamal
June 12, 2017

Hari lahir Indonesia 17 Augustus tahun 1945 , kata Bung Karno menurut tulisan Cindy Adam, bertepatan dengan Nuzulul Quran,. Hari munculnya Sebuah jembatan emas menuju kesejahteraan bersama.

Prosperity for all.

Meski ada yang mentakan 17 Agustus 1945 sebetulnya jatuh pada tanggal 9 Ramdhan, dan bukan 17 Ramadhan tetapi esensi yang dikemukakan Bung Karno Founding Father harus selalu dicatat Kita sebagai Bangsa lahir pada bulan suci Ramdhan, Bulan Nuzulul Quran. Dan Kita harus terus meningkatkan keahlian kita untuk membaca tanda tanda zaman, serta menguada Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai motor penggerak kemajuan Negara Bangsa yang kita cintai, Indonesia.

Tanpa terasa besok 17 Ramadhan tiba. Hari Nuzulul Quran yang ditandai dengan turunnya ayat Iqra bismirabbika. Bacalah dengan Nama TuhanMu. Entah kenapa malam ini saya ingat kisah masa lalu. Kisah ketidak berlangsungan sebuah visi penguasaan teknologi yang saya alami selama kurang lebih 20 tahun bekerja di IPTN. Visi untuk menguasai keunggulan Industri Pesawat Terbang,

Ketika saya tahún 1982/83 tinggal di Calle Galileo dan Melendez Valdez di Madrid, saya sering naik kereta api atau bis jemputan dipagi hari menuju tempat kerja di CASA Getafe Spanyol. Diatas kereta atau bis, saya sering baca Novel Ernest Hemingway. Salah satu nya berjudul The Old Man and The Sea.

Novel ini dibaca Karena Duta Besar Indonesia untuk Spanyol Pak Leon, kalau malam minggu sering ngajak saya nontón Jazz di Plaza de America. Karena beliau sebelumnya sering ikut perundingan dengan Bank Dunia, beliau sebagai diplomat selalu bercerita tentang persfektip masa depan melalui novel yang sering ia baca. Diantara nya yang beliau senangi Hemingway.

Melalui Novel Beliau ingin ingatkan saya yang ketika itu massiv berusia 28 tahun untuk tidak lupa pada kesinambungan sejarah perjuangan Bangsa. Beliau ingin menyadarkan saya bahía kesempatan saya menimba penguasaan iptek dirgantara di Spanyol itu bukan datang begitu såja tanpa diundang. Itu buah perjuangan generasi terdahulu.

Tahun 1951 Ernest Hemingway menulis cerita pendek dimajalah Life. Orang Tua dan Laut. The Oldman and the Sea. Dalam novel dikisahkan tentang perjalanan hidup seorang nelayan tua. Nelayan yang mirip kita temui di Laut Arafura. Nelayan tradisonal yang berkompetisi memancing tuna ditengah samudera , berjibaku berebut ikan dengan kapal kapal canggih milik nelayan negara lain.
Arafura adalah surga ikan tuna yang biasanya berkembang bias di Tells Tomini dan kembali berenang kelaut lepas setelah dewasa.

Kisah Hemingway ini kebetulan tentang Nelayan Kuba yang bernasib buruk. Sudah 84 Hari ada dilaut tak seekor ikanpun menerkam umpan pancing. Sampai di Hari ke 85 akhirnya ia berhasil menangkap seekor Merlin yang amat besar. Saking senangnya ikan Merlin yang besar itu ia bawa kepantai tanpa dinaikkan diatas perahu.

Alangkah sedihnya nelayan tua ini ketika iba dipantai, ingin menunjukkan buah karya masterpiece nya pada tetangga dan keluarga, ikan Merlin yang Besar dan Indah itu telah berubah jadi kerangka. Dagingnya habis disantap ikan hiu ketika dalam perjalanan.

Kurt Venegut dalam novel berjudul “TimeQuake” yang telah dterjemahkan kedalam bahasa Indonesia Gempa Waktu Oleh T Hermaya dari KPG Gramedia cetakan media Juli 2016, menyebut nelayan tua ini Idiot. Mengapa ia tidak terlebih dahulu memotong motong ikan besar itu kedalam fillet yang enak dipandang mata dan Mudah disantap nantinya.

Terlepas dari Idiot atau tidaknya Nelayan Tua , kisah Hemingway ini sering saya jadikan bahan penguat semangat di tahúr 97/98 ketika saya bersama teman teman yang menekuni Industri Pesawat Terbang di Bandung mengalami Gempa Waktu. Krisis EKonomi Asia menyebabkan bumi tempat kami berpijak bergeser. Landskap Industri berubah. Kata Kurt Vonnegut kami seolah mengalami proses diskontinuity, tidak sinambung karena fondasi Tempat Industri berdiri mendadak longsor dalam kontinum ruang dan waktu.
Generasi keinsinyuran tahun 1970-2000 an telah memiliki visi dan aksi nyata berupaya keras menemukan “Beach head”, Di tiap klaster Industri ada langkah sistimatis berkesinambungan untuk menemukan posisi terbaik pendaratan pasukan untuk merebut keunggulan penguasaan iptek, Ada generasi insinyur dan industri tekstil yang berupaya merebut Pantai Omaha di Normandi yang dijadikan Sekutu pada Perang dunia kedua , sebagai batu loncatan. Begitu juga generasi insinyur yang menekuni industri otomotive, elektronika, petrokimia, baja, sumber tenaga listrik petrkimia dan industri pesawat terbang. Masing masing memilih pantai terbaik mereka untuk menyusun kekuatan, menguasai keahlian dan mendalami potensi keunggulan masing masing untuk beradaptasi dengan Globalisasi dan serbuan produk import.

Dalam setiap lifecycle proses pengembangan satu peradaban, atau pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi selalu saja ada saat dimana gempa waktu yang merubah landskap sejarah muncul tiba tiba. Selalu lahir siklus kondaratiev. Dalam tiap lifecycle ada pasang surut. Kadangkala muncul Timequake, Gempa Waktu yang melahirkan disrupsi. Kejayaan masa kini sebuah perusahaan bisa menurun karena tak fokus pada investasi untuk inovasi menemukan produk baru, cara kerja Baru untuk tingkatkan penjualan dan pelanggan Baru

Ambil contoh kisah pribadi yang saya alami dalam mengembangkan Pesawat N250 , pesawat berteknologi canggih fly by wire , advanced turboprop buah cipta Prof.Dr.Ing BJ Habibie, Presiden ketiga. Dimana saya ikut menjadi salah satu yang menjadi bagian.

Kami mengalami akhir perjalanan menuju puncak yang tak menyenangkan. Crash landing. Bukan karena tidak berhasil menguasai iptek dan bukan tak mampu mewujudkan visi keunggulan teknologi yang selama 20 tahun tahap demi tahap dilaksanakan. Metode Penguasaan teknologi perancangan pesawat terbang dan kemampuan untuk memproduksi secara mandiri helikopter, pesawat terbang dan industri manufaktur komponen serta rekayasa rancang bangun dilaksanakan dengan filsafat beraawal diakhir dan berakhir diawal mula. Start dari proses lisensi, final assembly yang sering dianggap pekerjaan mudah karena hanya sebagai tukang jahit atau maklon, untuk menguasai paradigma Q C D. Quality Cost and Delivery. Tatakelola atau management hightech yang tak mudah.

Ada tiga tahap, yang dilaksanakan.
Meski berhasil lolos pada phase Pertama dan phase kedua selama kurun waktu 15 tahu, 1976-1991. Yakni tahap Original Equipment Manufacturing , Industri yang bertumpu pada lisensi perakitan akhir dan kekuatan manufaktur komponen dan sukucadang Helikopter dan Pesawat Terbang. Kemudian phase kedua ditransformis menjadi Original Design Manufacturing Industri yang bertumpu pada kekuatan engineering, rekayasa dan ranking Bangun .

Tapi gagal diakhir 13 tahun kedua 1990-2003> Meski pesawat N250 berhasil terbang perdana 10 Agustus 1995 dalam tahun emas Kemerdekaan RI, dan berhasil memukau insan dirgantara dunia ketika dimunculkan di Airshow tahun 1997, dan mengantongi jam kerja akumulatip 800 jam. Akan tetapi akhir phase ketiga untuk menuju pada Original Brand Manufacturing, Industri yang bertumpu pada kekuatan Brand sendiiri. Tak berhasil dilalui dengan baik. Keputusan Politik untuk mengunci kemajuan N250 dalam Letter of Intent yang dilakukan IMF telah mengakhiri segalanya.

Tiba tiba diakhir phase lahir krisis ekonomi Asia. Muncul Time Quake. Gempa waktu yang memotong mata rantai kesinambungan sebuah program. Aliran finansial untuk membiayai tahap akhir proses sertifikasi dikunci ditengah jalan. Keran mata air dukungan dana menyusut drastis. Kami berada dalam limbo. Bergoyang goyang tanpa pegangan, dan tak ada SAR atau pasukan Search and Rescue. Kita harus menyelesaikan sendiri semua soal. Kita yang memulai kita pula yang harus mengakhiri.

Alhamdulillah.
Apa yang saya alami paling tidak dalam persepsi saya mirip seperti kisah Hemingway , 84 hari berjuang menemukan ikan Merlin Idaman. Di hari ke 85, ikan merlin yang indah disantap ikan hiu yang menggerogoti semua daging yang ada , tinggal kerangka. Malang tak dapat ditolak Untung tak dapat diraih. Dan disana ada lesson learned yang patut dipetik agar kisah serupa tak terulang lagi dimasa depan.

Sebagai Bangsa, Indonesia memerlukan Industri Nasional yang unggul dan tangguh untuk dijadikan engine for economic growth dan kesejahteraan bersama. Untuk keberlangsungan klaster industri yang telah diinvestasi kita memerlukan kesinambungan program dan konsistensi.

Meski banyak yang tak setuju dengan kebijakan dimasa lalu, yang mungkin dianggap sebagai sebuah pemborosan. Akan tetapi sekali layar berkembang, mengapa harus surut kebelakang Persfektip Industri kita memerlukan perubahan mindset. Apa yang tampak sebagai pemborosan dimasa kini, mungkin dimasa depan merupakan sebuah keunggulan. Itulah logic dari investasi. Tak cukup dilihat apa buahnya dimasa kini.
Kita memerlukan Pohon Industri yang akarnya kuat> Berupa mata rantai value chai dari hulu kehilir. Kita juga memerlukan daun Industri yang lebat disatu masa. Kita memerlukan keajegan untuk mengelola Industri Nasional baik dikalamasa musim gugur , musim dingin. Saat yang menentukan keberlangsungan hid suatu pohon untuk kemudian bersemi kembali dikala Autumn.

Dalam tiap proses pertumbuhan kita selalu perlu eling lan waspada. Seperti kata novel Game of Throne, yang selalu mengingatkan kita agar selalu memiliki persiapan ketika :”Winter is coming”.

Saat ini dari pengalaman dimasa lalu, saya berpendapat kita perlu mewaspadai lahirnya beberapa gejala menarik di akhir akhir ini. Kebijakan isolasi America dibawah kepemimpinan Trump memerlukan ruang kebijakan eksport yang baru. Apakah Pasar Amerika merupakan berkah atau kendala bagi Industri dalam negeri. Hail Pemilu Brexit dan kekalahan Perdana Menteri May pada pemilu Inggris yang memunculkan “weak government” dan “hung parliament”, sehingga peran Inngris mungkin meredup di Eropa perlu jadi perhatian. Sebab ada kemungkinan perubahan pola tingkah laku konsumen di pasar Europa. Begitu juga putusnya hubungan diplomatik Arab Saudi, UAE, Mesir, Yaman dengan Qatar yang masih masih samar samar sebab musababnya memerlukan perhatian para pengambil kebijakan, saudagar dan industriawan.

Mungkin saja akan muncul fluktuasi kenaikan harga fuel, avtur dan biaya logistik. Yang akan mempengaruhi semua rencana investasi dan posibilitas uang keluar masuk neraca dan cashflow harian, bulanan dan tahunan.

Dengan kata lain Cara kerja business as usual perlu ditinggalkan. Dunia sedang berubah.Mudah mudahan ini tanda Winter is coming yang akan diikuti oleh musim semi , dimana bunga bersemi dan buah kesinambungan Investasi pada Industri Nasional bermunculan satu persatu.

Kita berharap semoga tidak ada krisis ekonomi dimasa depan. Jadi apa yang kita perhatikan selama tahun terakhir ini bukan tanda timequake ata Gempa Waktu pencipta Diskontinuitas pertumbuhan ekonomi global.

Kurt Vonnegut mendefinisikan kata Timequake, Gempa Waktu dengan goncangan yang menyebabkan bergeser nya landskap geologis Tempat berdirinya sebuah bangunan infrastruktur iptek , industri dan kultur masa lalu. Gempa waktu yang memunculkan Kerusakan mendadak dalam proses kesinambungan ruang dan waktu, yang menyebabkan kita kemudian kehilangan persfektip jangka panjang dan terfokus pada jangka pendek.

Kita perlu Fokus pada hasil jangka pendek. Akan tetapi jangan menyebabkan kita menjadi dihinggapi rabun dekat. Mengabaikan pandangan jangka panjang. Terlau berorientasi pada hasil jangka pendek sering menyebabkan kita berada pada “blindspot”, mengambil tindakan untuk seolah dunia berjalan seperti biasa, tanpa ada beda. Kita ikuti langgam rutinitas biasa dari hari kehari. Kita terus jalan ditempat biasa yang sama seperti kemarin ditempuh.

Padahal mungkin saja landskap Tempat kita berjalan menuju masa depan telah berubah drastis karena gempa waktu. Yang tadinya lembah jadi datar, yang tadinya gunung telah longsor menutup lembah. World becoming Flat kata Friedman

Kita pernah belajar dari fenomena masa lalu. Salah satu alternatip hadapi perubahan cuaca mungkin kita dapat ikuti langkah pilot pesawat terbang jika tiba tiba berhadapan dengan cuaca buruk. Changing course, rubah haluan kurangi kecepatan kurangi ketinggian jelajah temukan ruang maneuver dimana guncangan atau turbulensi terasa terkendali.

Pengendali Fiskal dan Moneter perlu punya ilmu weruh sadurunge winarah. Intuisi dan seventh sense untuk me mandu kemana kita menuju. Direktu keuangan dan financial advisor di perusahaan perlu difungsikan dgn baik memantau keadaan.

Mudah mudahan share saya malam ini bermanfaat.
Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s