Jusman Syafii Djamal
June 4, 2017

Di bulan puasa hari kesembilan ini tiba tiba saya ingat , pengalaman belajar tentang kehidupan bersama. Membangun lingkaran persahabatan dari banyak teman berbeda dimasa SMA dulu.

Saya punya empat orang sahabat semuanya sudah wafat mendahului saya. Kita dulu memiliki sebuah perpustakaan, begitu saya menyebutnya bersama empat teman yang kini sudah almarhum Pangeran Napitupulu, Raja Ingan Sitepu, Chairil Munir.

Perpustakaan yang dimaksud adalah langganan toko sewa menyewa buku silat. Ada Khoo Ping Hoo, ada Gan KL, Ada To Liong To ada Ang Bi Tin dan Juga Pendekar Suling Emas serta Pendekar Sakti. Kami semua rasanya ingin belajar menjadi Bu Pun Su Lu Kwan Tju.

Menjadi jagoan tanpa tanding, tetapi punya julukan tak pintar bersilat dan tak jago Sastra. Seolah Hanya menguasai pedang satu jurus dari Pendekar Hina Kelana. Memiliki strategi tak teraba :’Dikira kosong ternyata berisi, dikira ada isinya ternyata kosong.”

Kami sangat rajin ke “Perpustakaan” terutama ketika menunggu azan magrib buka puasa. Paling tidak lima buck habis disantap. Setelah habis magrib tak ada jalan lain kecuali shalat Tarawih bersama teman teman lainnya.

Teman teman teman saya ini teman yang baik, meski dua orang berbeda agama mereka selalu menemani saya ketika berpuasa.Pangeran almarhum memiliki sebuah vespa.

Sementara saya kemana mana naik sepeda. Dengan sepeda saya tiap sabtu dan minggu mengelilingi kota medan. Raun raun untuk saling kunjung mengunjungi sesama teman. Sebuah “ritual” untuk membangun persahabatan sebagai sesama anak SMA 1 jalan Cik Ditiro Medan.

Jika tidak dirumah seorang teman lain di jalan Pattimura, kami sering berkumpul di Pajak Peringgan. Biasanya di bioskop Astanaria menunggu seorang saudara tua yang kebetulan jadi “Preman” disana, untuk bisa tonton gratis di kelas kambing tau pun kelas satu. Tergantung situasi pemilik bioskop.

Persahabatan model begitu yang melahirkan rasa keIndonesiaan saya. Dan aku fikir semua orang yang SMA nya disekitar tahun 70-80 an akan menjalani “ritual” yang sama.
Merajut persahabatan sambil bermain bersama. Main volley, main bola, luntang lantung di pasar atau di pajak sayur , tanding catur di warung kopi dan belajar bersama untuk menyelesaikan PR dari Guru Matematika, Fisika dan Kimia yang ketika itu terkenal sebagai Pembangun Disiplin Belajar.

Tanpa Matematika dan Fisika dengan Guru yang “strength” dan kebapakan boleh jadi kini semua anak SMA ketika itu akan jadi “gelandangan malam”, kita menyebutnya dengan istilah “gelam goli”. Gelandangan Malam Golok Melintang. Istilah yang dibuat seram agar banyak orang mau bersahabat. Ancaman atau gertak sambal kalau di Medan sering melahirkan persahabatan. Tak kenal maka tak sayang. Itu dimasa salu, empat puluh tahun lalu. Entah kini.

Dengan kata lain Matematika dan Fisika merupakan jalan kita mengenal arti keharusan untuk belajar sungguh sungguh untuk menjadi orang dimasa depan. Ketika tahun 70-80 an Guru saya itu bernama Palit D Harahap untuk Fisika , Sianturi untuk Matematika dan Lundak Sianturi untuk Kimia. Sudah Almarhum semoga Allah melapangkan jalan Nya ke SurgaNya nan abadi.

Melalui pelajaran Ma Fi Ki, Matematetika, Fisika dan Kimia kami belajar tentang “law of Nature”. Segala sesuatu dimuka bumi ini ada “persamaan gerak nya”. Memiliki batas gerak majunya. Ada domain kerjanya.

Melalui pelajaran yang diberikan oleh guru guru di SMA itulah kami memahami bahwa tiap insan itu memiliki “domain” ruang geraknya. Tak ada seseorang yang dapat mengklaim bahwa ialah satu satunya yang paling pintar, paling benar dan paling jago.

Dari pelajaran Matematika Fisika dan Kimia kita menjadi faham bahwa “keberagaman melahirkan keindahan”. Multi variable selalu melahirkan persamaan tersamar. Sebuah equation yang menarik untuk dikaji yang menjelaskan fenomena fisika dan kimia serta biologi yang ada dalam alam semesta.

Dimasa SMA itu juga saya bertemu Guru Bahasa Jerman dan Bahasa Indonesia yang baik. Mereka tak hanya mengajari tentang kerumitan berbahasa dengan belajar grammar. Yang dibawa oleh mereka adalah keindahan cerita dalam bentuk “literature” dan pribahasa. Belajar memahami makna kata dalam sebuah kalimat.

Guru Bahasa ini, selalu menasihati saya agar dalam hidup kedepan saya harus selalu menjaga dua keahlian utama untuk selalu diperbaharui. Yakni keahlian berhitung dan mengarang menulis cerita. Keahlian Matematika dan Bercerita.

Mereka selalu menyebut contoh Founding Father NKRI yang pintar membangun argument dengan argumentasi yang kuat logikanya. Keahlian pidato, berceramah dan berdebat yang menyebabkan Indonesia dapat dipersatukan dengan kata kata tidak semata mata dengan bedil.

Semua founding father sangat kuat dan memiliki kemampuan berbahasa “intelectual defence”. Mereka pintar berdebat, enak didengar jika berpidato, suara dan tone turun naik ikuti irama. Emosi terbawa untuk berlayar menuju arah yang sama . Kesejahteraan rakyat dan keadian sosial.

Dengan cara itu Founding Father Membangun jembatan emas menuju masa depan. Dengan kekuatan intelektualitas menemukan persamaan dalam perbedaan wacana Dialog yang bertumpu Pada kecerdasan meyusun kata dan kalimat serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Keahlian paripurna Yang kini generasi muda kita Insya Allah jauh lebih baik.

Begitulah dimasa SMA melalui pelajaran Matematika, Fisika, Kimia dan Literature saya belajar tentang arti keindahan dalam keberagaman ide.Di ITB saya kemudian belajar makna Harmony in progressio. Harmoni hanya terwujud jika kita bekerja untuk kemajuan bersama, melalui konsep Teknologi, Man Made World dan The Limit of Growth nya Club of Rome.

Beauty atau keindahan secara ilmu matematika didefinisikan sebagai “Menonjol dimana Perlu”. Dengan kata lain melalui Pekerjaan Rumah yang amat banyak kami dididil untuk saling belajar bersama sebagai suatu teamwork. Guru Fisika ingin kami memahami benar apa yang ditulis oleh Widagdo, dalam buku pegangan. Oleh Pak palit Harahap kami diminta memiliki pensil merah biru. Ujung satu bewarna meeah. Ujung lain bewarna merah. Tak lupa satu belebas dan mistar segitiga.

Ketika membaca buku Fisika pensil merah dan biru harus ditangan. Membedakan fakta dan informasi. Semua elemen fakta dan informasi yang telah diketahui istilah dan angka nya harus dicatat dalam kolom diketahui bewarna biru. Dengan sebuah gambar bejana kita mencatat istilah P = Pressure, V=Volume dan T atau temperature.
Parameter yang tak diketahui dan ditanya diberi dan ditulis dalam warna merah.

Melalui warna merah dan biru kami belajar membedakan mana informasi yang benar mana yang palsu. Mana parameter yang bener bener dikuasai, mana yang masih mengambang dan mana yang sesungguhnya jadi objekt masalah untuk ditemukan solusinya.

Dari pelajaran semacam ini kalimat Confusius yang diperoleh dari Buku Khoo Ping Hoo jadi pribahasa yang masuk dalam kepala. Jika kata kata telah kehilangan makna maka kebebasan untuk memilih yang kita miliki sudah hilang.

Word is our bone. Kata kata yang diucapkan lidah pendekar tak mungkin lagi ditarik keluar oleh kuda sembrani. Begitu yang sering ada dalam dialog para pendekar kangow dalam buku Khoo Ping Hoo , Gan KL. Kita memang memerlukan sahabat yang kata katanya menjadi wujud dari apa yang difikir dan disimpan dalam kepalanya.

Melalui kata kata sahabat, teman dan para pemimpin usaha atau pemimpin pemerintahan, kita selalu memiliki patokan atau guideline untuk membangun alternatip rencana untuk menjejaki masa depan. Tapi jika kata tak lagi punya makna, kebebasan untuk memilih jalan masa depan juga kehilangan artinya.

Ketika kata kata kehilangan makna, kita kehilangan kebebasan untuk memilih. Begitu kurang lebih ujaran Confusius yang pernah saya baca dicerita silat karangan khoo ping hoo ketika SMA 1,jalan Cik Ditiro.

Hari kesembilan puasa ini saya jadi teringat kenangan pada guru guru SMA sehabis membaca surat 62 Jumuah. Entah kenapa. Mungkin karena di WA saya penuh dengan banyak berita yang menarik yang dating silih berganti, dan saya tak lagi mampu memilah mana yang memiliki makna mana yang tidak.

Ketika kata kata telah memberontak terhadap makna, ketika imej telah menjauh dari realita dan hoax menjadi wujud komunikasi bagaimana mungkin kita beranjak maju sebagai suatu Bangsa ?.

Apa benar begitu ?, wallahu alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s