Jusman Syafii Djamal
June 2 at 2:07pm ·

Kemarin 1 Juni 2017 , sahabat sekolah di tahun 73 ITB yg kami sering panggil sebagai Ketua Kelas M73 ITB Heru Santoso dan kordinator acara Cak Nurachman membuat kami bernostalgia. Acara Buka puasa bersama di Restoran Padang Natrabu jalan Sabang. Restoran tua yang katanya lelezatan rendang nya bikin Dr Mahathir kalau datang ke Jakarta mampir kesana.

Tiap bulan sekali untuk membuat rekan rekan satu angkatan tidak merasa sunyi sendiri karena usia sudah kepala 6, kami berkumpul.

Acara Melok Makan Enak Langsung omong kosong. Kemarin judul acara dirubah jadi MBalElO ( Makan Bajambau — istilah Riau bersama saling silaturahmi — lan Enak dan langsung omong kosong).

Kami sengaja tidak adakan acara di rumah. Sebab itu tiap bulan dipilih restoran tradisional. Kebetulan ketika bersekolah di Mesin ITB kami semua merantau ke bandung. Kalau siang sering makan bersama di Warung Mesin atau Warung Ampera. Tradisi makan direstoran tradisional itu terus kami jaga. Sebab tanpa pelanggan Setia bagaimana Restoran tradisional mampu survive.

Makan enak di restoran tradisional seperti warung padang, warung Tegal, warung pecal madiun, sate maranggi, kambing bakar atau nasi gudeg amat nenyenangkan. Sebab di warung tradisional kita pasti bertemu seorang ibu atau bapak ahli masak yang otodidak. Yang menjadi Chef, kepala Koki tanpa sekolah. Yang memiliki tacit knowledge keahlian meramu bumbu Nusantara turun temurun. Ada kurang lebih 3000 menu Nusantara yang kelezatan nya tak kalah dari negara lain.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Tiap hari kita saksikan banyak kumpulan sahabat berbuka puasa bersama. Para pejabat tak ketinggalan jalankan acara buka puasa dirumah masing masing. Di Mesjid juga Ada acara buka puasa bersama. Uhuwah Islamiyah untuk saling bersilatruahmi mempererat tali persaudaraan berkembang. Ini yang memberikan rasa optimis bahwa Indonesia akan selalu bersatu sepanjang masa.

Andaikata acara buka puasa bersama diselenggarakan di warung makan tradisional atau di warung pinggir jalan yang hadir di bulan puasa pastilah ekonomi rumah tangga mengalami aliran transaksi yang bikin likuiditas terjaga. Restoran tradisional tumbuh berkembang, petani sayur mayur punya siklus dan aliran jual beli begitu juga nelayan dan peternak ayam dan sapi.

Ramadhan bisa melahirkan berkah karena silaturahmi yg tumbuh sambil buka puasa bersama, di warung tradisional tempat makanan Indonesia terpelihara kelestarian nya. Sebab di warung tradisional juga ada mushola dimana kita bisa berbuka sambil shalat magrib berjamaah.

Kemarin dalam acara buka puasa seorang teman ahli sapi bercerita tentang kegundahan nya. IA memprediksi tahun 2020 kemungkinan sapi tradisional kita akan menyusut terus baik jumlah maupun kualitas dagingnya. Rendang mungkin akan muncul dengan daging wagyu atau sapi angus australia dan tak lagi murah terjangkau.

Kini ada dua trend menarik. Pertama trend harga sapi betina jauh lebih murah dari sapi jantan Meski ada larangan untuk tidak boleh menyemblih sapi betina yang produktip.

Tapi dilapangan pedagang sapi mengejar harga murah untuk dapat margin tinggi. Apalagi di Indonesia tidak seperti di Australia. Tiap sapi didentifikasi baik jenis maupun asal usulnya. Datanya disimpan dalam chip yang tersembunyi dan ditanam di telinga masing masing sapi.

Di Australia tumbuh industri daging bersertifikat dan memiliki standardisasi. Di Indonesia pemeliharaan tanpa sertifikat dan identifikasi.
Akibatnya jumlah sapi betina merosot dan jumlah produksi anak sapi menurun. Demand lebih tinggi dari supply dalam negeri. Swasembada sukar terwujud.

Yang kedua trend berlakunya hukum Mendel dalam heridity sapi di Indonesia. Sapi tradisional yang dikawinkan sesama sapi tradisional akan melahirkan anak yang merosot kualitas gen nya.

Asal usul sapi Indonesia awalnya adalah persilangan Banteng dengan Sapi pekerja dari India yakni sapi Benggala. Kemudian dimasa Orde Baru sapi jawa hasil persilangan banteng sapi benggala ini dikawinkan dengan sapi swizerland melalui program Banpres.
Lahir jenis sapi limousine. Jika benih unggul sapi dari Swizerland atau Australia tidak dihadirkan kembali maka hukum mendel berlaku. Perjawinan sesama sapi tradisional hasil persilangan akan melahirkan anak sapi dgn kualitas gene yang menurun.

Sebuah omong kosong yang bikin saya bertanya : Apa begitu ”
Wallahu Alam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s