Libur 2 Hari, Sekolah 8 Jam (Part 1)

Dandhy Dwi laksono

Ketika sekolah di Finlandia hanya 3-4 jam per hari, dan penelitian tentang jam biologis anak atau “Circadian Rhythm” mulai dipakai di Inggris dan Amerika, Indonesia justru mulai menerapkan sekolah delapan jam.

Gagasan sekolah sehari penuh (full-day school) yang kontroversial secara resmi memang tak jadi diterapkan. Tapi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menerapkan konsep sekolah lima hari (Senin-Jumat), yang akan diberlakukan mulai tahun ajaran baru, Juli 2017.

Karena Sabtu libur, sebagai gantinya, jam sekolah diperpanjang menjadi delapan jam, dari jam tujuh pagi sampai jam tiga sore. Biasanya sekolah berlangsung 5-6 jam per hari.

Konsep ini memang tidak (belum) berlaku nasional. Diserahkan kepada kesiapan masing-masing sekolah.

Menurut Menteri Muhadjir, kebijakan ini terkait dengan apa yang disebut “Penguatan Pendidikan Karakter”. Idenya, anak-anak tidak harus belajar di kelas. Jam tambahan itu bisa diisi kegiatan ekstrakurikuler seperti seni, olahraga, eksperimen ilmiah, atau jalan-jalan dengan tujuan khusus seperti ke sanggar atau tempat-tempat ibadah (Kompas, 14 Juni 2017).

Mereka yang biasa menempuh pendidikan khusus usai jam sekolah seperti mengaji atau kegiatan gereja, dapat mengonversi aktivitas tersebut sebagai mata pelajaran agama. Teknisnya belum jelas. Apakah sang guru ngaji akan membuat rapor yang diadopsi oleh sekolah atau cara lan. Tapi yang jelas, tidak benar jika pelajaran agama akan dihapus begitu saja.

Jika ada yang perlu diotak-atik dari pelajaran agama justru metode dan substansinya. Pelajaran agama di sekolah umum atau sekolah negeri (public school) seyogyanya tidak mengajarkan agama tertentu secara eksklusif dan spesifik.

Pelajaran menghafal isi kitab suci atau doa-doa bukan tugas guru-guru di sekolah umum. Sebab metode ini selalu bias mayoritas dan memperlakukan agama hanya sampai batas “resmi” dan “tidak resmi”. Bukan penghormatan pada keyakinan secara umum.

Anak-anak penganut Sunda Wiwitan di Ciptagelar, Marapu di Pulau Sumba, atau Boti di Nusa Tenggara Timur tak pernah mendapatkan kelas dan guru khusus untuk ajaran mereka sendiri.

Pelajaran agama di sekolah umum mestinya memuat hal-hal yang lebih universal dari agama seperti kemanusiaan, solidaritas, dan membahas perbedaan-perbedaan yang dikenalkan dan dikelola. Dengan konsep ini, pelajaran agama justru tidak memecah isi kelas dan memisah para siswa ke kelompok agama masing-masing. Tapi mereka justru duduk di kelas yang sama dan belajar bagaimana mengelola perbedaan dan mencari persamaan-persamaan sosial.

Adapun ihwal keimanan, tata cara ibadah, atau hafalan doa, sebaiknya memang diserahkan kepada kelas-kelas ekstrakurikuler baik yang diselenggarakan oleh sekolah maupun di luar sekolah yang sistem penilaiannya diintegrasikan.

Tanpa perubahan konsep pelajaran agama yang selama ini eksklusif, kebijakan sekolah delapan jam yang diintegrasikan dengan pendidikan agama di luar sekolah (yang juga eksklusif), saya khawatir justru akan menguatkan sekat-sekat sosial di antara anak-anak kita.

Pekerjaan Rumah (PR) mata pelajaran agama di sekolah-sekolah negeri mestinya bukan menghafal atau menyalin doa, tapi meminta siswa menginap di rumah temannya yang beda agama dan menuliskan pengalamannya itu dalam 3-4 paragraf. Keesokannya di kelas, guru membimbing mereka membicarakan pengalaman masing-masing.

Konsep ini tentu membutuhkan barisan guru dengan pemikiran-pemikiran terbuka. Hasilnya tidak instan. Tapi dalam jangka panjang akan banyak perubahan. Ini lebih fundamental membendung konflik ideologi atau antar-keyakinan dibanding, misalnya, gagasan calon rektor ditentukan oleh Presiden gara-gara satu-dua kasus rektor memiliki tendensi ideologi tertentu. Seolah mekanisme seleksi administratif seperti itu bisa mengatasi perbedaan yang sebenarnya hanya buah dari konsep pendidikan yang kurang terbuka terhadap perbedaan.

Lagipula sejak kapan administrasi lembaga kepresidenan sama dengan penyeleksi yang baik, terutama setelah kasus warga negara Amerika bisa lolos menjadi Menteri ESDM Republik Indonesia.

BIAS ORANG DEWASA
Sekolah lima hari (hanya sampai Jumat) sejatinya lebih baik, mengingat banyak yang menyebut anak-anak Indonesia mengalami “over schooling”. Siswa kelelahan dengan aneka menu pelajaran atau les tambahan. Itu belum termasuk aneka kursus minat bakat seperti musik hingga pelajaran agama di luar sekolah seperti mengaji.

Tapi mengkompensasi libur Sabtu menjadi sekolah delapan jam per hari, jelas memperburuk keadaan. Secara substansi, kondisi sekolah di Indonesia terlalu beragam (silakan membaca catatan “FOOL DAY SCHOOL”).

Jangankan delapan jam seperti orang kantoran atau pabrik, jam sekolah sendiri, di seluruh dunia, sejatinya bias kepentingan orang dewasa.

Sekolah rata-rata dimulai jam tujuh pagi karena para orangtua harus berangkat bekerja. Jam itu sendiri memang jam biologis orang dewasa memulai aktivitas. Itupun masih bias pekerja atau buruh urban.

Nelayan cumi di Lombok Timur melaut jam enam petang, tapi nelayan tongkolnya berangkat jam tiga dini hari. Dengan demikian siklus tidurnya pun berbeda. Hanya pemburu paus dan pari di Lamalera yang jam kerjanya mirip orang kantoran: jam tujuh pagi, pulang jam tiga sore.

Sebuah penelitian yang melibatkan para pakar di Oxford University terhadap 100 sekolah di Inggris menunjukkan, jam biologis anak usia SD dimulai jam sembilan pagi. Sedangkan usia SMP dimulai jam 10 pagi. Sebab, kebutuhan tidur mereka masih 10 jam per hari. Lebih lama dari rata-rata orang dewasa yang delapan jam.

Penelitian serupa yang terpisah dilakukan Bradley Hasbro Children’s Research Center di Rhode Island, Amerika, dengan hasil yang sama. Jika sekolah lebih siang 25 menit, jumlah anak yang tidur lebih dari delapan jam meningkat signifikan dari 18 persen menjadi 44 persen.

Sekolah lebih siang tidak membuat anak-anak makin larut tidur (karena memang di usia SMP-SMA atau puber, jam tidur mereka jam 11 malam), tapi justru makin mudah bangun.

Bandingkan dengan DKI Jakarta yang sejak 2012 menerapkan jam masuk sekolah lebih pagi dengan alasan “mengurangi kemacetan”. Bel sekolah anak-anak Jakarta berbunyi jam 6.30 WIB.

Dengan memahami “circadian rhythm” akan membuat siswa benar-benar optimal menerima pelajaran. Hasil penelitian ini juga menjelaskan mengapa selama ratusan tahun orangtua selalu berperang dengan anaknya yang susah bangun pagi. BBC melukiskannya sebagai “pertempuran abadi” antara orangtua dan anak. (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s