Persekolahan & Ujian Nasional

Dalam Rangka Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2017

Wicak Amadeo

Persekolahan dengan Ujian Nasional terbukti tak memberikan kontribusi bagi Perekonomian Indonesia. Keluarga Indonesia yang fokus membentuk jatidiri putra putrinya dengan tumbuhnya Fitrah dan Adab serta Talenta secara paripurna diharapkan akan memberikan kontribusi bagi peradaban masa depan Indonesia, termasuk perekonomian negara. Bonus Demografi dapat dipetik jika fokus pada penumbuhan fitrah dan pengembangan talenta, bukan semata untuk industri, tetapi untuk kemajuan bangsa secara keseluruhan.

Indonesia hari ini adalah negara karyawan karena perolehan pajak penghasilan lebih ditopang oleh pajak karyawan-pekerja ketimbang pajak para pemilik perusahaan dan manajer perusahaan. Ini merupakan keanehan yang tidak baik (outliers). Profil pajak negara-negara menengah dan negara maju menunjukkan bahwa komposisi pajak terbesar adalah Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi termasuk pemilik perusahaan dan manajer perusahaan disusul pajak perusahaan (pajak badan), dan selanjutnya pajak pembelian barang (PPn).

Di Indonesia, dari dana pendidikan APBN Rp 400 triliun, alokasi pelatihan kerja (bukan SMK dan pendidikan kedinasan seperti STAN, Akademi Imigrasi) hanya di bawah Rp 2 triliun-Rp 3 triliun yang dikelola oleh dua atau tiga kementerian (Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Perindustrian, dan kementerian lainnya).

Di Jerman, semua pelatihan vokasi yang diselenggarakan didanai oleh industri dalam sistem pendidikan ganda (dual system). Separuh waktu siswa SMP-SMA belajar di sekolah (didanai oleh pemerintah) dan separuh waktu untuk praktik kerja dan belajar keahlian spesifik di industri (didanai oleh industri-perusahaan)

Prinsip-prinsip dasar proses pembelajaran menurut Ki Hadjar Dewantoro bahwa dalam proses pembelajaran seorang pendidik hendaknya bisa:

• ING NGARSA SUNG TULADHA yang artinya: di depan, seseorang harus bisa memberi teladan atau contoh.
Dalam pengertian ini, bahwa proses pembelajaran contoh atau teladan menjadi kata kunci kesuksessan dalam pembelajaran. Pembelajaran di sekolah senantiasa terjadi proses imitasi atau proses peniruan dari contoh atau teladan, sehingga ketika pembelajaran berlangsung seorang pendidik harus menstrasfer pengetahuan tentang sesuatu yang dipelajari siswa dengan benar dan tepat. Selain itu siswa tidak hanya mempelajari mengenai pengetahuan saja melainkan belajar dengan lingkungannya seperti belajar mengenai pribadi pendidiknya. Oleh karena itu pendidik selain menguasai pengetahuan dia juga harus mempunyai pribadi yang dapat dicontoh.

• ING MADYA MANGUN KARSA yang artinya: ditengah – tengah atau diantara seseorang bisa menciptakan prakarsa dan ide.
Pada pengertian itu, seseorang dapat menciptakan prakarsa atau ide diantara orang lain). Dalam proses pembelajaran di sekolah, berarti seorang guru harus dapat menciptakan prakarsa dan ide para siswanya ketika mereka dalam proses pembelajaran. Sehingga kata kunci kesuksesan dalam pembelajaran adalah pendidik bisa membangkitkan minat dan semangat belajar siswa , disini guru dituntut menjadi penggali minat dan pemompa semangat belajar anak .
Sehingga setiap anak mampu berfikir kritis dan belajar mandiri (Cara Belajar Siswa Aktif). Jadi guru sebetulnya tidak perlu banyak mengajar justru lebih perlu menggagas tentang beragam bintang prestasi yang perlu setiap siswa gapai.

• TUT WURI HANDAYANI yang artinya: dari belakang seorang pendidik harus bisa memberikan dorongan dan arahan.
Pada pengertian itu seseorang harus dapat mendorong orang yang dalam tangungjawabnya untuk mencapai tujuan secara berkelanjutan dalam pekerjaannya. Dalam proses pembelajaran, guru harus memberi dorongan kepada siswanya untuk selalu belajar dengan tuntas dan maju berkelanjutan. Sehingga kata kunci sukses dalam pembelajaran adalah belajar tuntas dan berkelanjutan.

.

Pendidikan Anak Menuju Aqil Baligh

Dr Malik Badri, seorang Psikolog Muslim asal Sudan, pendiri International Association of Muslim Psychologists (Asosiasi Psikolog Muslim Internasional), pada tahun 1980-an dan tahun 2000-an pernah ke Indonesia, beliau dikenal dengan bukunya yang berjudul Dilemma Psikolog Muslim, sudah diterjemahkan sejak lama di Indonesia.

Beliau mengatakan bahwa penjenjangan toddlers, kids, teenagers, adults, dimana masing-masing ada tahap awal, tengah, dan akhir, lalu ada pubertas dan sebagainya, sesungguhnya tidak pernah bisa dibenarkan secara ilmiah. Itu hanya pengamatan masyarakat barat terhadap masyarakat mereka. Penjenjangan tidak ilmiah ini kemudian masuk ke dalam penjenjangan sistem persekolahan.

Sementara Islam hanya mengenal dua fase saja, yaitu fase sebelum aqilbaligh, dan sesudah aqilbaligh. Baligh pada anak pria ditandai dengan mimpi basah (ihtilam), dan pada wanita ditandai dengan menstruasi (haidh).

Islam, bahkan dunia sampai abad 19 tidak mengenal fase remaja (adolescence). Fase ini diciptakan pada era industri sampai kini dengan berbagai kepentingan konglomerasi akan sebuah kelas konsumtif dan kepentingan negara sepihak untuk memanipulasi data demografis.

AqilBaligh dalam Islam tentu bukan sekedar pertanda fisik, namun juga pertanda berpindahnya fase anak sebelum wajib syariah, dan fase sesudahnya yaitu pemuda, fase dimana jatuhnya kewajiban menjalankan syariah, atau masa pembebanan syariah, atau sinnu taklif.

Islam tidak mengenal aqil belum baligh, atau baligh belum aqil (remaja).

Ketika seorang anak mencapai aqilbaligh, maka dia tidak lagi disebut anak, tetapi seorang pemuda yang setara dengan kedua orangtuanya dalam kewajiban ibadah, jihad, zakat, nafkah dan seterusnya.

Semua ulama fiqih sepakat, bahwa anak lelaki yang sudah mencapai AqilBaligh, maka orangtua tidak wajib lagi menafkahinya. Jika ada anak lelaki yang aqilbaligh yang masih dinafkahi, maka sebenarnya bukan nafkah tetapi shodaqoh, karena statusnya faqir miskin.

Oleh karenanya, sistem pendidikan Islam seharusnya menyiapkan anak lelaki agar mampu menjadi mukalaf atau orang yang mampu memikul syariah tepat ketika dia aqilbaligh.

Sayangnya, sistem pendidikan kita umumnya abai terhadap konsep dan praktek AqilBaligh ini. Syariah yang diajarkan akan tidak banyak artinya, jika anak tidak mencapai aqil ketika baligh, artinya mereka tidak mampu memikul beban syariah.

Ada kesenjangan yang lebar antara aqil dan baligh. Anak-anak yang sudah dewasa secara biologis atau mampu bereproduksi (baligh), ternyata tidak lantas menjadi mampu dewasa secara psikologis, finansial, mandiri memikul syariah, dan kewajiban sosial lainnya (aqil). Umumnya baligh terjadi di usia 12-14 tahun, tetapi Aqil baru dicapai di usia 22-24 tahun.

Riset membuktikan bahwa dalam sistem persekolahan dan sosial modern, telah terjadi pembocahan (infantilization) yang panjang. Kenakalan, kegalauan, depresi, penyimpangan sosial, dan perilaku sex dan lain-lain, diakibatkan karena kesenjangan antara masa tibanya baligh (dewasa biologis reproduktif) di usia 12-14, dengan tercapainya aqil (dewasa psikologis produktif) di usia 22-24 bahkan lebih.

Sampai disini, maka bisa dipahami betapa pentingnya mendidik generasi aqilbaligh, generasi yang aqil dan baligh dicapai bersamaan.

Kapan dimulai pendidikan generasi aqilbaligh, tentu sejak usia dini, 0-6 tahun. Titik kritisnya di usia 7 dan 10 tahun. Kritisnya fase ada di pre AqilBaligh, usia 10-14 tahun. Catatan bahwa Usia 14 adalah rata-rata usia seseorang mencapai baligh.

Usia 10 tahun adalah titik kritis untuk “mengenal” Allah (fitrah keimanan) dan “mengenal diri” (fitrah bakat) secara mendalam. Usia 11-14 tahun, anak-anak pre aqilbaligh akan menjalani masa yang paling berat sepanjang masa anak-anaknya karena inilah persiapan aqil baligh.

Bagaimana pada fase pre aqilbaligh, fitrah keimanannya berwujud menjadi akhlak yang mulia yang dibutuhkan sebagai credibility attitude dan sosialnya pada fase aqilbaligh. Bagaimana pada fase pre aqilbaligh, fitrah bakat dan fitrah belajar berwujud menjadi peran dan karya produktif yang dibutuhkan sebagai kredibilitas kompetensinya, dan kredibilitas peran profesinya pada fase aqilbaligh.

Pada prinsipnya, mendidik anak laki-laki dan anak perempuan sama, yaitu merawat dan menumbuhkan fitrah, baik fitrah keimanan (aqidah), fitrah belajar dan nalar, fitrah bakat dan peran sesuai tahapan usianya.

Hanya yang membedakan adalah fitrah peran kelelakian, dan peran keayahan yang harus dibangkitkan pada anak laki-laki. Diantara kewajiban anak laki-laki ketika mencapai aqilbaligh adalah menjadi Qowam, pencari nafkah, dan pemimpin rumah tangga, perancang visi rumah tangga, dan seterusnya.

Karenanya, leadershipnya bisa dimulai sejak usia dini dengan yang paling sederhana, misalnya memelihara hewan dan tumbuhan. Rasulullah SAW menggembala kambing ketika usia dini (0-6 tahun) di Bani Sadiah. Setelah itu usia 7-10 tahun mulai libatkan dalam project-project sederhana di rumah. Usia 11-14 tahun mulai antarkan ke Maestro atau pakar/maestro yang sesuai bakatnya untuk magang. Rasulullah SAW mulai magang bersama pamannya di usia 11-12 tahun.

Di usia ini, menitipkan anak pada keluarga sholehah (homestay) atau Murobby (pendamping akhlak) juga penting untuk menularkan keteladanan dan keshalihan.

Seorang Ayah Pendidik, sebaiknya jauh-jauh hari mengingatkan putranya bahwa saat baligh mereka harus menghidupi diri sendiri. Inilah cuplikan diskusi seorang Ayah Pendidik dengan putranya saat sang putra sudah baligh.

“Saat ini kamu sudah baligh. Rekening Rezeki kamu sudah Allah pindahkan ke bahumu sendiri, tidak lagi bersama Ayah. Saat ini, Rekening Rezeki yang masih bersama Ayah adalah: Rekening Rezeki Ayah, Rekening Rezeki Bunda, Rekening Rezeki adik-adik, dan Rekening Rezeki golongan orang tidak mampu yang Allah titipkan pada rekening Ayah. Namun, Ayah takkan keberatan bersedekah dari rezeki Ayah untuk kamu. Jadi, saat ini kamu hidup dari sedekah Ayah. Saat ini, kamu menumpang hidup di rumah Ayah. Maka, berlaku lah sebagai sebaik-baik tamu”

Inilah dialog seorang Ayah Pendidik profesional penegak Sistem Berpikir dan Supplier Maskulinitas untuk sang putra.

Anak laki-laki yang sudah baligh juga tidak lagi dipenuhi permintaannya 100%, namun diajak untuk memikirkan solusi. Saat anak laki-laki minta dibelikan motor, misalnya, seorang Ayah Pendidik hendaknya mensyaratkan : 10%nya adalah uang kamu, bensinnya kamu yang isi, service Ayah yang tanggung 50%. Lalu apa yang terjadi? Seorang putra baligh akan memilih dengan penuh pertimbangan, memilih motor yang murah dan sesuai kebutuhannya. Hal serupa dapat diterapkan jika yang diminta adalah gadget atau laptop.

MENDIDIK bukan mengajar. Sekolah tidak bisa mendidik, sekolah hanya bisa mengajar. Ilmu Pengetahuan dapat ditransfer oleh siapapun, keterampilan (soft skills, hard skills) dapat ditransfer oleh siapapun, namun KARAKTER hanya bisa dibangun oleh Ayah Bunda di rumah, dengan KETULUSAN. Mendidik itu hanya bisa dilakukan dengan ketulusan.

.

Prinsip Mendidik Fitrah Bakat

قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖ ؕ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا
Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan bakat pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.
[QS. Al-Isra’: Ayat 84]

Setiap anak lahir dengan membawa fitrah. Secara garis besar, yang pertama, fitrah ada yang terkait dengan Ketuhanan dan Keagamaan yaitu potensi serta dorongan bawaan manusia untuk menerima Ketuhanan atau Keagamaan. Yang kedua, fitrah ada yang terkait dengan kemanusiaan itu sendiri yaitu potensi bawaan manusia (innate goodness atau innate character) untuk menjalani peran peran terbaik di muka bumi. Diantara fitrah itu adalah fitrah bakat.

1. Jangan Sia Siakan Bakat. Ibnul Qayyiem dalam bukunya Tuhfatul Maudud mewanti wanti agar kita janganlah sampai melalaikannya sehingga anak kehilangan perannya. Banyak bersyukurlah (optimis dan tenang) atas fitrah bakat tiap anak dan yakinlah bahwa tiap anak kita dengan fitrah bakatnya pasti punya peran spesifik istimewa di muka bumi yang ditunggu tunggu dunia di masa depan.

2. Bakat untuk mencapai Maksud Penciptaan. Jika peran spesifik istimewa atas fitrah bakat ini dicapai atau “accomplished” maka maksud penciptaan untuk menjadi Hamba Allah dan Khalifah Allah akan juga tercapai. Maka mendidik fitrah bakat adalah menemani anak anak kita untuk menemukan jatidirinya sesuai tahapan usianya (lihat no 7,9,10) dan menghantarkan mereka untuk menjalani peran spesifik peradaban di dunia yang sesuai dengan fitrah bakat atau sifat uniknya itu dalam rangka memenuhi maksud penciptaan itu.

3. Temukan Peran Unikmu Sendiri. Mendidik tiap aspek fitrah harus berujung kepada peran spesifik terbaik dan adab mulia sesuai atas aspek fitrah bakatnya itu. Mendidik fitrah bakat harus berujung kepada agar anak anak kita memiliki peran peradaban spesifik di dalam bidang kehidupan di masyarakat dengan kemauan memberi sebanyak banyak manfaat atau memberi adab mulia bagi kehidupan. Peran spesifik ini bisa jadi belum ada contohnya pada saat ini, tugas kitalah mendorong anak anak kita menemukan peran uniknya sendiri atas fitrah bakatnya itu. Jangan pernah menyuruh anak kita menjadi versi kedua dari orang lain. Sebagai catatan bahwa fitrah bakat ini ada yang terkait dengan keistimewaan sifat (suka memimpin, suka mengatur, suka meneliti, suka merancang dll) dan ada yang terkait dengan keistimewaan fisik (olahraga, memasak, dll).

4. Dipandu Kitabullah. Mendidik fitrah bakat harus dipandu dengan nilai nilai Kitabullah agar menjadi peran yang menebar rahmat (rahmatan lil alamin) dan kabar gembira serta peringatan (bashiro wa nadziro)

5. Bakat itu Karakter Unik Bawaan. Diantara makna kata “Fithrah” adalah Al-Ibtida atau diciptakan tanpa contoh alias unik. Jadi makna fitrah bakat adalah sifat unik atau fitur unik manusia, tentu yang positif. Fitrah bakat merupakan karakter unik yang merupakan bawaan lahir (nature character) yang melekat pada personaliti manusia sehingga membuatnya unik dalam berfikir, merasa dan bertindak. Karena ini nature character maka sudah keren tanpa membutuhkan banyak kursus atau training. Hanya memerlukan aktifasi dan penguatan. Karenanya Bakat disebut karakter kinerja.(performance character).

6. Bakat itu Passion, Hebat belum tentu Bakat. Jangan tergesa menganggap sesuatu yang nampak hebat dari anak kita itu bakat, karena bakat memerlukan passion atau enjoy ketika melakukannya. Fitrah bakat atau Sifat unik ini Allah instal sejak lahir agar kelak manusia memiliki peran peradaban spesifik dalam satu atau beberapa bidang dalam kehidupan masyarakat atau peradabannya pada sebuah zaman dimana mereka ditakdirkan hidup. Fitrah bakat adalah panggilan hidup yang terlihat dari bagaimana manusia menjalaninya dengan ghairah, passion dan bahagia.

7. Pada tahap usia 0-6 tahun, fitrah bakat akan nampak sebagai sifat unik, maka amati dan buatlah jurnal aktifitas yang dapat merekam sifat uniknya, yaitu aktifitas yang relevan dengan sifat uniknya dengan ciri antusias, bahagia, keren dalam melakukannya.

8. Jangan Benturkan dengan Adab/Akhlak. Beberapa sifat unik di bawah 7 tahun bisa jadi terlihat “tidak beradab”, misalnya keras kepala, cerewet, cengeng, penakut dsbnya. Maka jangan tergesa dibenturkan dengan adab atau akhlak, banyak bersyukurlah bahwa Allah tidak mungkin menciptakan anak yang jahat dan tidak punya masa depan. Lihatlah bahwa anak keras kepala itu sesungguhnya berbakat sebagai pemimpin, tidak ada pemimpin yang mudah diatur bukan? Anak cerewet itu sesungguhnya adalah komunikator atau orator atau presenter dsbnya yang handal, bukankah semua peran itu bukan peran pendiam?

9. Pada tahap usia 7-10 tahun, berikan aktifitas yang relevan dengan sifat unik. Ajak untuk “tour de talents” untuk membuka wawasan aktifitas atau peran yang relevan dengan sifat uniknya itu. Jika sifat uniknya, misalnya suka memimpin, maka berikan aktifitas dimana ananda selalu mendapat kesempatan untuk memimpin. Ingat setiap anak bisa memiliki sifat unik lebih dari satu, sehingga aktifitas yang relevan juga bisa banyak. Diharapkan pada usia 10 tahun sudah bertemu dengan aktifitas yang jika akan memulainya sangat diitunggu ditunggu, ketika menjalankannya sangat enjoy, easy, excellent seolah dunia berhenti berputar, dan ketika mengakhirinya ananda tidak mengatakan, “akhirnya kelar juga”. Pilihlah 2 atau 3 aktifitas yang demikian lalu fokus saja mengembangkannya. Jangan lupa buatlah portfolio anak untuk merekam pencapaiannya.

10. Pada tahap usia 11-14 tahun, pastikan bakat anak sudah jelas atau sudah ditemukan pada usia 10 tahun, jika belum maka prosesnya diulang seperti pada tahap di no 7, 8 dan 10 di atas. Lakukan talents mapping jika masih ragu. Jika sudah yakin maka kembangkan bakat itu dengan konsisten dan disiplin sehingga menjadi peran peradaban terbaik. Berikan Maestro Bakat untuk pemagangan bakatnya dan berikan Murobby/Chaperon untuk menggembleng adab / akhlaknya. Ingat bahwa peran ananda kelak bisa jadi belum ada pada zaman ini. Buatlah personalized curriculum berbasis fitrah bakat untuk memandu pengembangannya.

Tahapan di atas adalah tahapan Ideal, bisa jadi tiap anak berbeda kesempatan untuk mengembangkannya, maka yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan mempersiapkan yang terbaik.

.

Sir Ken Robinson: Bagaimana Menemukan Bakat Sejatimu

Sir Ken Robinson berbicara tentang bagaimana seorang professional menemukan inner talent (bakat) dan passion mereka. Ken Robinson adalah seorang pimpinan berskala internasional dalam bidang pendidikan dan bisnis pengembangan kreativitas, inovasi dan HR. Video terkenalnya di tahun 2006 dan 2010 yang membicarakan tentang Konfrensi TED (Technology, Entertainment, Design) telah dilihat lebih dari 25 juta kali dan ditonton sekitar 250 juta orang di 150 negara. Dia adalah penulis dari The Element, Out of Our Minds dan buku terbarunya saat ini berjudul Finding Your Element: How to Discover Your Talents and Passions and Transform Your Life.

Dalam percakapan berikut, Sir Ken Robinson berbicara tentang bagaimana menemukan bakat unik dan passion Anda, apa yang Anda lakukan jika apa yang menjadi passion Anda adalah sesuatu yang Anda tidak memiliki kemampuan yang memadai untuknya, mengapa tidak setiap orang bisa hidup melakukan apa yang mereka cintai dan banyak hal lain.

Bagaimana orang bisa mengidentifikasi bakat unik dan passion mereka? Apakah ini bisa terjadi dengan adanya kesempatan?

Terjadi atau tidaknya Anda menemukan bakat dan passion Anda adalah tergantung dari kesempatan. Jika Anda tidak pernah berlayar, atau tidak pernah memainkan satu instrument, atau mencoba mengajar atau menulis cerita fiksi, bagaimana Anda akan tahu jika Anda memiliki bakat dalam bidang tersebut? HR seperti juga sumber daya natural bumi: mereka seringkali terkubur di dalam kedalaman dan Anda harus berusaha untuk menemukannya. Temukan Elemen Anda yang menawarkan nasihat, arahan dan latihan praktek yang membantu Anda untuk melakukannya secara sadar dan sistematis.

Bagaimana jika passion seseorang bukan sesuatu yang ia punya kemampuan baik di dalamnya?

Elemennya adalah dimana bakat natural bertemu dengan passion personal. Untuk berada di elemen, tidaklah cukup hanya sekedar melakukan sesuatu yang Anda bisa/ahli. Banyak orang yang bisa dengan baik melakukan sesuatu namun sebenarnya mereka tidak menikmatinya. Menjadi elemen Anda harus mencintainya: jika iya, Anda tidak akan “bekerja” lagi. Passion adalah pengemudi yang mengantar Anda kedalam kesuksesan dalam segala bidang. Terkadang seseorang mencintai sesuatu yang mereka pikir mereka tidak miliki kemampuan di dalamnya. Itu mungkin saja dikarenakan mereka meremehkan bakat mereka atau mereka belum menyentuhnya untuk membuatnya berkembang. Dengan kata lain, passion yang kuat yang bersatu dengan bakat yang rata-rata sekalipun, akan membawa Anda lebih maju daripada bakat kuat namun dengan antusiasme yang minim.

Apakah Anda pikir akan realistik bahwa setiap orang bisa menjadikan passion mereka ke dalam pekerjaan dan memperoleh pemenuhan dalam kehidupan mereka? Mengapa atau mengapa tidak bisa?

Ada orang yang memenuhi kebutuhan mereka dari elemen mereka. Ada yang tidak bisa dan ada yang tidak mau. Menemukan elemen Anda bukan hanya tentang membuat uang: ini tentang bagaimana Anda membentuk hidup Anda dan bagaimana secara keseluruhan Anda bisa memenuhi dan bertujuan. Apakah bisa atau tidak atau mau membuat hidup Anda berada di elemen Anda, Anda berutang kepada diri sendiri untuk memastikan bahwa ada beberapa bagian dari hari atau minggu Anda ketika Anda secara alami melakukannya dan membuat Anda merasa dititik pusat dan otentik.

Dalam masa krisis ekonomi ini, bagaimana Anda bisa meraih rasa percaya diri dalam mengejar mimpi?

Seperti yang saya katakan, berada di elemen Anda akan lebih pada kegemaran daripada pekerjaan. Itu tergantung Anda dan keadaan Anda. Kita semuanya unik dan setiap kehidupan itu berbeda satu dengan yang lain. Tidak ada yang sama dengan Anda. Manusia memiliki kekuatan yang luar biasa dalam imajinasi dan kreativitas. Anda mendesain kehidupan Anda dan Anda juga bisa mengkreasi ulang kehidupan Anda. Dalam masa krisis ekonomi dan ketidakpastian ini adalah penting untuk lebih melihat secara mendalam pada diri Anda sendiri untuk memahami bentuk kehidupan apa yang Anda ingin arahkan dan bakat serta passion yang bisa membuatnya jadi kenyataan.

Tiga saran karir teratas apa yang Anda bisa sampaikan?

Pertama, hidup tidak linier. Apa yang Anda lakukan sekarang, atau yang Anda lakukan di masa lalu, tidak memberikan determinasi apa yang Anda lakukan selanjutnya dan masa depan. Menemukan elemen Anda penuh dengan cerita dan contoh dari orang yang seringkali secara dramatik dan mengejutkan berubah dari arah hidup mereka untuk menjadi elemen mereka.

Kedua, uang bukan jaminan kebahagiaan. Kita semua butuh hidup dan menjaga orang-orang yang bergantung dengan kita. Tapi penelitian dan pengalaman membuktikan bahwa tidak ada kaitan langsung antara kemakmuran dan kesejahteraan. Kebahagiaan jika apa yang Anda inginkan merupakan pengungkapan spiritual bukan material. Itu hadir dari pemenuhan, memiliki tujuan dan merasa autentik.

Ketiga, hambatan terbesar dalam menemukan elemen Anda ada pada diri Anda sendiri. Anda mungkin takut dengan opini orang lain atau Anda akan gagal dan terlihat bodoh. Menemukan elemen Anda membutuhkan keberanian, tapi semua itu pantas untuk dilakukan.

http://www.forbes.com/…/sir-ken-robinson-how-to-discover-y…/

Sir Kenneth Robinson (born 4 March 1950) is a British author, speaker and international advisor on education in the arts to government, non-profits, education and arts bodies. He was Director of the Arts in Schools Project (1985–89) and Professor of Arts Education at the University of Warwick (1989–2001), and is now Professor Emeritus at the same institution. In 2003 he was knighted for services to art.

Originally from a working class Liverpool family, Robinson now lives in Los Angeles with his wife and children.

Robinson has suggested that to engage and succeed, education has to develop on three fronts. First, that it should foster diversity by offering a broad curriculum and encourage individualisation of the learning process; secondly, it should foster curiosity through creative teaching, which depends on high quality teacher training and development; and finally, it should focus on awakening creativity through alternative didactic processes that put less emphasis on standardised testing, thereby giving the responsibility for defining the course of education to individual schools and teachers. He believes that much of the present education system in the United States fosters conformity, compliance and standardisation rather than creative approaches to learning. Robinson emphasises that we can only succeed if we recognise that education is an organic system, not a mechanical one. Successful school administration is a matter of fostering a helpful climate rather than “command and control”

https://youtu.be/FLbXrNGVXfE

.

More than 61 million jobs have been lost since 2008, resulting in more than 200 million people unemployed globally

The youth unemployment rate is nearly 3 times higher than the rest of the population

Nearly 500 million new jobs will need to be created by 2020

Almost 90% of the job creation needed must take place in the developing world, primarily in Africa and Asia

Educators and Employers must work together to address the education skills and employment challenge for individuals, businesses and economies to stay competitives. Current and expected skills gaps need urgent attention. Entrepreneurship, SMEs and the Gig Economy are potential solutions, as well as domestic economic reforms aimed at building human capital.

The 20th century education system needs to be redesigned to meet the real-time needs of the labor market. We need to develop 21st Century Skills such as Critical Thinking, Problem Solving, Creativity, Collaboration, and Digital Literacy, through lifelong learning re-skilling and upskilling programs, using big data to provide accurate information on education skills, demand supply and employment needs, both in the developed and developing world. Join the conversation to mobilise change and ensure future prosperity for all

https://youtu.be/7g8OpiWR83Y

.

Peta Jalan Ketimpangan

Bahwa masalah ketimpangan perlu diatasi, kiranya sudah ada kesepakatan luas di Indonesia dan bahkan di seluruh dunia. PBB dalam dokumen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal/SDG) tahun 2015 menyepakati penurunan ketimpangan menjadi satu dari 17 tujuan utama SDG. Demikian juga dengan berbagai keputusan dan laporan dari lembaga-lembaga internasional G-20, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), dan Forum Ekonomi Dunia (WEF).

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo telah menetapkan bahwa menurunkan rasio gini menjadi prioritas pemerintah dalam jangka menengah. Dalam berbagai rapat kabinet, Presiden juga telah memberi arahan agar penurunan ketimpangan menjadi ukuran keberhasilan pembangunan, bukan hanya penurunan kemiskinan dan pengangguran. Yang menjadi soal dan bahan diskusi hari ini bukan lagi soal perlu tidaknya mengatasi ketimpangan, melainkan lebih kepada bagaimana cara menurunkan ketimpangan.

Pertanyaan-pertanyaan mengemuka: (i) apa yang harus dilakukan untuk memperkuat perolehan pajak agar sesuai dengan potensi ekonomi dan jumlah kelompok superkaya; (ii) apa yang harus diubah untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM) dan angkatan kerja Indonesia agar daya saing ekonomi nasional dan perluasan kelas menengah dapat dipercepat; (iii) apa yang harus dilaksanakan untuk memastikan kesetaraan jender agar potensi sosial ekonom kesetaraan jender dapat diraih dalam waktu tidak terlalu lama.

Minggu lalu, INFID-Oxfam telah melansir laporan penelitian tentang ketimpangan di Indonesia. Laporan itu pada intinya berupaya menjawab soal-soal tersebut. Laporan berjudul “Menuju Indonesia Setara (MIS)” mengajak pemerintah untuk melaksanakan dua langkah utama: (i) memperbaiki dan memutakhirkan kebijakan pajak; (ii) memberi prioritas tinggi kepada kualitas SDM dan angkatan kerja—bagaimana meningkatkan kompetensi 60 persen angkatan kerja berpendidikan SD-SMP.

Pajak ketinggalan zaman

Laporan ini juga menyediakan data-data dan analisis perbandingan yang strategis bagi Pemerintah Indonesia untuk melaksanakannya dan mengembangkan.

Tanpa mengecilkan kinerja pemerintah dalam program amnesti pajak, laporan MIS menegaskan perlunya Indonesia terus-menerus memperbaiki dan memutakhirkan kebijakan pajak sehingga dapat mencapai potensinya hingga 20-21 persen dari produk domestik bruto (PDB) sebagaimana dihitung oleh Dana Moneter Internasional (IMF, 2011). Meski Indonesia anggota G-20 dengan kue ekonomi terbesar ke-20 dunia dan menjadi negara observer dalam OECD, kinerja pajak Indonesia masih jauh di bawah rerata negara berpendapatan menengah (middle income), yakni 25 persen dan jauh di bawah negara-negara maju 35 persen. Perolehan pajak Indonesia baru 12-13 persen dari PDB. Presiden Jokowi telah menargetkan kenaikan pajak hingga 16 persen PDB pada tahun 2019.

UU Pajak yang berlaku hingga hari ini terlalu usang, kuno, dan ketinggalan zaman karena tidak mencerminkan perkembangan dan realitas besaran ekonomi dan kemampuan membayar, terutama besaran kelompok superkaya Indonesia. Sementara UU pajak mematok batas tertinggi pajak penghasilan orang pribadi bukan karyawan (PPh) sebesar Rp 500 juta per tahun, kini Indonesia telah memiliki ratusan atau ribuan orang dengan pendapatan di atas Rp 5 miliar per tahun.

Artinya, ketentuan golongan dan tarif pajak penghasilan orang pribadi bukan karyawan perlu diperbaiki sesuai dengan praktik wajar di dunia internasional. Misalnya, pengenaan tarif 40 persen bagi pendapatan di atas Rp 10 miliar per tahun dan 45 persen untuk penghasilan di atas Rp 20 miliar per tahun.

Indonesia hari ini adalah negara karyawan karena perolehan pajak penghasilan lebih ditopang oleh pajak karyawan-pekerja ketimbang pajak para pemilik perusahaan dan manajer perusahaan. Ini merupakan keanehan yang tidak baik (outliers). Profil pajak negara-negara menengah dan negara maju menunjukkan bahwa komposisi pajak terbesar adalah Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi termasuk pemilik perusahaan dan manajer perusahaan disusul pajak perusahaan (pajak badan), dan selanjutnya pajak pembelian barang (PPn)

Pelatihan kerja

Laporan Bank Dunia tentang Ketimpangan Indonesia, Indonesia’s Rising Divide (2015), menyebut salah satu sumber penyebab ketimpangan adalah ketimpangan pasar kerja. Laporan MIS (2017) meyakinkan pengambil kebijakan Indonesia untuk menaikkan alokasi anggaran pelatihan kerja/pelatihan vokasi oleh perusahaan dan BLK (10-20 persen dari dana pendidikan di APBN atau 10-20 persen dari Rp 400 triliun).

Mengapa? Karena, pelatihan vokasi kerja selama ini masih menjadi “anak tiri” ketimbang “anak kandung”. Dua indikator utama adalah: terlalu minimnya alokasi anggaran untuk pelatihan kerja, sementara 60 persen angkatan kerja berpendidikan SD dan SMP. Selain itu, terlalu minimnya peran industri dalam pelatihan kerja.

Mari kita lihat angkanya. Dari dana pendidikan APBN Rp 400 triliun, alokasi pelatihan kerja (bukan SMK dan pendidikan kedinasan seperti STAN, Akademi Imigrasi) hanya di bawah Rp 2 triliun-Rp 3 triliun yang dikelola oleh dua atau tiga kementerian (Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Perindustrian, dan kementerian lainnya).

Peran industri di Indonesia dalam pelatihan kerja juga masih marjinal. Industri belum ikut serta secara aktif dalam pembentukan kurikulum BLK dan SMK agar lulusannya relevan dan cocok dengan kebutuhan pasar kerja. HRD berbagai perusahaan belum membentuk asosiasi yang khusus memajukan dan memperluas pelatihan vokasi. Hasilnya, sejak krisis ekonomi 1997 hingga hari ini, atau 20 tahun, industri Indonesia lebih sering kesulitan mencari tenaga kerja yang pas dan akhirnya lebih memilih membajak talenta dari industri lain ketimbang memproduksi talenta-talentanya sendiri.

Industri-perusahaan

Karena itu, laporan MIS mengajak berbagai perusahaan untuk ikut serta dalam menurunkan ketimpangan. Bagaimana caranya? Setidaknya ada empat cara: (i) patuh membayar pajak, baik pemilik maupun perusahaannya, (ii) ikut serta menyelenggarakan pelatihan kerja, baik untuk pekerjanya sendiri maupun untuk calon pekerja atau pencari kerja; (iv) membayar upah pekerjanya sesuai upah layak, dan (iv) mengalokasikan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk memperluas akses dan mutu pelatihan kerja, baik yang diselenggarakan sendiri dan atau bersama dengan BLK dan lembaga-lembaga pelatihan

Pengalaman negara lain layak kiranya dipelajari, khususnya negara-negara yang berhasil naik kelas dari level menengah menjadi negara maju. Di Korea dan Malaysia, misalnya, terdapat undang-undang yang mewajibkan industri-perusahaan menyisihkan dana untuk pelatihan kerja, dihitung dari total persentase gaji yang dibayarkan.

Di Jerman, semua pelatihan vokasi yang diselenggarakan didanai oleh industri dalam sistem pendidikan ganda (dual system). Separuh waktu siswa SMP-SMA belajar di sekolah (didanai oleh pemerintah) dan separuh waktu untuk praktik kerja dan belajar keahlian spesifik di industri (didanai oleh industri-perusahaan)

Pemerintah dan Kadin-Apindo sebaiknya segera merumuskan langkah menemukan cara meningkatkan peran industri dalam memperluas akses dan mutu pelatihan vokasi. Pemerintah perlu membuka ruang dan menyediakan insentif. Sementara Kadin-Apindo perlu meyakinkan anggotanya, terutama industri besar dan menengah, untuk ikut serta membangun keterampilan dan kompetensi angkatan kerja kita. Untuk kebaikan mereka sendiri dan untuk Indonesia masa depan.

Oleh : Sugeng Bahagijo, Direktur International NGO Forum on Indonesian Development (INFID)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Maret 2017, di halaman 7 dengan judul “Peta Jalan Ketimpangan”.

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s