Makin banyaknya remaja yang terjerumus perbuatan zina, kriminal, dan perilaku kurang ajar terhadap guru serta orang tua membuat kita semua prihatin. Adakah yang salah dalam cara kita mendidik remaja? Mengapa banyak remaja Indonesia yang terlambat untuk dewasa? Sehingga sikapnya tidak bertanggung jawab dan kurang mandiri?

Semua ini berawal dari kesalahan paradigma bahwa ada fase remaja dalam kehidupan setiap orang. Padahal sebenarnya tidak ada fase itu. Itu hanya akal-akalan atas nama ilmu (psikologi) yg diciptakan para penjajah agar pemuda di negara jajahannya lambat dewasa. Tetap membeo dan tdk kritis.

Padahal fitrahnya tidak ada fase remaja itu. Fase yang mentolerir adanya kegalauan dan pubertas, sehingga lingkungan harus maklum jika remaja berbuat salah. Tidak boleh dihukum dan diberikan sangsi sosial.

Kalau dalam pendidikan Islam, tidak ada itu fase remaja. Yang ada hanya fase anak, pemuda dan dewasa. Fase anak dimulai semenjak lahir sampai akil baligh. Fase pemuda dimulai dari aqil baligh (haid/mimpi basah pertama kali, kisaran usia 12-15 tahun) sampai usia 25 tahun. Dan dewasa di usia 25 tahun ke atas. Pada fase pemuda, setiap orang sudah dituntut untuk bersikap dewasa. Juga boleh menikah dan mencari nafkah sebagai ciri kedewasaan seseorang.

Pendidikan “modern” di Indonesia yang terpengaruh westernisasi lalu memasukkan fase remaja sebagai fase transisi. Dimana sang remaja boleh labil dan belum dianggap cukup akalnya. Masih perlu dilindungi oleh undang-undang (perlindungan anak), sehingga jika sang remaja bermaksiat atau melakukan tindakan kriminal belum boleh dihukum atas nama HAM yg keblinger.

Hasil dari pendidikan dan budaya yg mentolerir fase remaja ini akhirnya memunculkan banyak remaja yang cengeng, manja, egois, cuek, dan kurang ajar (tidak tahu sopan santun). Kasus pemukulan guru di Makasar dan tempat-tempat lain membuktikan bahwa remaja Indonesia tumbuh kurang dewasa. Mereka lambat dewasa karena ditolerir oleh orang tua dan budaya; masih anak-anak yg masih perlu dilindungi.

Bandingkan dengan generasi terbaik Islam yang sdh tumbuh dewasa di usia sangat dini. Ali bin Abu Thalib ra masuk Islam usia 9 tahun. Mus’ab bin Umair ra sdh jadi dai antar kota di usia 17 tahun. Imam Syafi’i sdh hapal Qur’an di usia 9 thn. Muhammad al Fatih memimpin penyerbuan 200.000 tentara ke Konstatinopel di usia 21 tahun. Dan masih banyak lagi contoh generasi terbaik yg dididik tanpa mengenal fase remaja, sehingga mereka menjadi dewasa sejak dini.

Diam-diam, negara maju pun juga sudah mengkoreksi cara mereka mendidik remaja. Kurikulum pendidikan mereka sudah bergeser meniru pendidikan (Islami) yang tidak mengenal fase remaja. Pendidikan vokasi sudah diajarkan sejak SMP di Jepang. Sekolah di Inggris lebih banyak menekankan manner (soft competency). Di Korsel, pendidikan menekankan sikap kesatria dan kejujuran. Di Finlandia, jam sekolah dibatasi dan tidak ada PR agar anak lbh banyak terjun dlm kehidupan nyata.

Sedang Indonesia yg masyarakatnya masih kesengsem dgn apa saja yg datang dari Barat malah ketinggalan jaman. Teori pendidikan yang dipakai oleh banyak pendidik malah mazhab yang memanjakan remaja. Melindungi anak dari kesalahan yang dilakukan remaja atas nama HAM anak. Yang justru sudah disadari kekeliruannya oleh para pendidik yg kritis di Barat sana.

Sudah saatnya, orang tua dan guru di Indonesia kembali kepada pendidikan yg lebih Islami. Lebih berani mendidik kemandirian kepada anak didik yg sudah akil baligh. Jangan memanjakan remaja. Jangan memaklumi remaja yang kurang ajar dan tidak disiplin. Jangan takut memberikan pendidikan dgn punishment yg tegas (walau reward juga tetap diberikan).

Jangan terpengaruh oleh doktrin pendidikan ramah anak (remaja) yg tidak boleh menghukum remaja usia aqil baligh. Selain tidak Islami, juga tidak mendidik adversity quotient anak remaja. Jangan melindungi anak remaja dari “bully” teman-temannya atau media sosial selama itu masih wajar, agar mentalnya kuat berlapis baja. Jangan takut jiwa anak remaja akan terluka jika mereka diberikan sangsi sosial karena perbuatan salah mereka. Pendek kata, jangan terpengaruh dengan teori pendidikan sok modern yg berlindung atas nama HAM, demokrasi atau nama nyeleneh lainnya, tapi ujungnya hanya memanjakan anak dan remaja. Membuat anak dan remaja menjadi cengeng, pengecut dan labil serta tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Setiap remaja seharusnya sudah menjadi pemuda dgn karakter dewasa setelah akil baligh. Itulah sebabnya mereka diberikan dosa jika salah dan pahala jika benar oleh Allah swt, sebagai tanda mereka harus sudah mandiri dan bertanggung jawab.

By. Satria hadi lubis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s