Jusman Syafii Djamal
February 26, 2017  

Penguasaan Teknologi oleh putera puteri Indonesia memerlukan wahana dan program. Perlu langkah sistimatis terencana bertahap dan bertingkat. Perlu penguatan kembali struktur, mekanisme dan kultur Industri Nasional. Restrukturisasi dan Revitalisasi Industri yang seolah menjadi isu yang terlupakan.

Isu ini tidak mungkin diserahkan pada market forces dan Dibiarkan menjadi urusan tiap perusahaan dan individu. Tanpa sentuhan kebijakan politik ekonomi yang berbentuk insentif fiskal maupun moneter berkesinambungan kita seperti meyediakan perahu karet untuk menyebrangi samudera India dan Pacifik .

Minta semua generasi muda naik ke perahu karet itu menempuh gelombang dan badai. Siapa yg berani ?

Penguasaan Teknologi memiliki “life cycle”, tumbuh berkembang dalam bisnis. Kata Kondratief berjalan ditengah pasang surut gelombang pertumbuhan teknologi. Ia bukan sebuah buku yang memiliki kata tamat pada halaman terakhir begitu kata ekonom Indonesia dimasa lalu seperti Prof. Syarbini Soemawinata, Prof Sumitro Djojohadikusumo, Radius Prawiro dan Prof Sadeli dalam buku biography nya. Never Ending stories.

Penguasaan Teknologi ibarat kapal Pinisi menembus samudera dari Makasar menuju Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Ada rute menempuh pasang surut gelombang dan badai. Memerlukan Nakhoda dan alat peralatan Navigasi yang mumpuni.

Karenanya setiap upaya untuk memutus mata rantai sejarah dimasa lalu, menyebabkan Industri Nasional kita seolah berada dijalan buntu. Rifkin menyebutnya dengan istilah “the prisoner of geography”.

Tiap wilayah , kontour dan landskap memiliki kekuatan yang membelenggu. Sekaligus menyimpan energi untuk bebas. Diperlukan energi yang kuat untuk membangkitkan nya. Kita memang tak mungkin sepenuhnya dapat keluar dari pengaruh sejarah dimasa lalu. Karenanya kata pembangunan ekonomi politik untuk masa depan pembangunan kekuatan Industri Nasional, seolah seperti kata Newton : berdiri diatas bahu raksasa pemikir politik ekonomi dimasa lalu. Standing on the shoulder of the giant. Founding fathers NKRI.

Tak ada Musim Semi tanpa Musim Dingin. Tak Ada musim Gugur tanpa musim Panas

Copernicus mengembangkan model “standing on the sun” andaikata manusia berdiri diatas matahari, maka bumi mengelilingi matahari bukan sebaliknya. Model yang menggantikan sistim Ptolomeus yang memandang bumi sebagai pusat alam semesta. Pada awal abad keduapuluh Físika Quantum yang dimulai dari físika relativitas Einstein tidak membantah dan mengabaikan fisika Newton akan tetapi memperluasnya dengan cakrawala baru yang tidak pernah terfikirkan oleh Newton.

Dengan kata lain setiap kemajuan dimasa kini pastilah muncul dari prestasi generasi dimasa lalu. Pembangunan politik ekonomi menurut saya tak mungkin beranjak dari adagium Kesinambungan dan Perubahan. Menjebol yang kadaluarsa, Membangun fondasi baru. Kata Bung Karno.Kebijakan politik ekonomi Indonesia yang berorientasi untuk membangkitkan kekuatan Industri Nasional sebagai salah satu wahana penguasaan teknologi, mengikuti alur yang sama. Mengikuti gelombang pasang surut landskap geopolitik dunia yang terus menerus berubah.

Dalam dekade 1970 Indonesia merupakan satu satunya Negara dikawasan Asia yang secara dini meluncurkan satelit Palapa. Sejak dekade 1970 Indonesia telah menyadari makna strategis dari penguasaan Information Communication Technology. Begitu juga pada industri wahana transportasi. Sejak tahun 1962 Indonesia mengembangkan program joint venture dengan Jepang untuk memproduksi radio, tv, kulkas dan mobil. Dengan Eropa dan Jepang untuk membangun kembali Industri PerkeretaApian INKA. Dan lain sebagainya.

Kebijakan politik ekonomi atau Policy Formation, untuk membangun struktur industri di Indonesia , pernah muncul istilah “sosialisme hulu dan kapitalisme hilir. Yang oleh Deng Xiao Ping disebut dengan adagium pembangunan ekonomi : Satu Negara dua Sistem.

Pada tahun 1987 Thee Kian Wee dan Yoshikara mempublikasikan hasil Riset mereka yang menarik. Dalam 17 Industri yang diteliti mulai minuman hingga industri mobil, ditemukan bahwa BUMN atau Badan Usaha Milik Negara ternyata mendominasi industri disektor hulu padat modal. Sementara PMDN dan PMA , perusahaan private atau swasta mendominasi industri barang setengah jadi dan barang jadi disektor hilir. Baik Industri besar padat modal maupun UMKM.

Thee Kian Wee seorang peneliti Teknologi dari LIPI dan Yoshikara kemudian menyebut hasil riset diatas dengan pembangunan Industri Nasional yang berpijak pada adagium “sosialisme di sektor hulu dan kapitalisme disektor hilir”. DImana Sektor Agraria dan pertanian dikuasai oleh petani dan penguasa Nasional. Begitu juga sektor pengolahan tambang dan mineral serta industri dasar dikuasai Negara (BUMN). Dan sektor industri manufaktur barang jadi atau setengah jadi didominasi oleh Industriawan Swasta baik PMDN maupun PMA.

Dengan riset ini dapat ditelusuri jejak kemajuan proses penguasaan teknologi dari hulu ke hilir. Selain itu dalam kerangka kebijakan, Radius Prawiro dalam bukunya berjudul Pergulatan Indonesia membangun Ekonomi : Pragmatisme dalam aksi, mendeskripsikan fikiran para ekonom yang berkumpul untuk merumuskan paket kebijakan 21 September 1974 atas Instruksi Presiden. Paket kebijakan ekonomi untuk memayungi arah penguasaan teknologi di Industri Dalam Negeri. Dengan empat langkah yakni :

1. Semua Investasi Asing harus berupa upaya patungan atau Joint Venture dengan penduduk pribumi Indonesia (WNI) sebagai mitra usaha.

2. Para Investor Asing diharuskan untuk mengalihkan 51% saham saham proyeknya kepada mitra Indonesia dalam jangka sepuluh tahun.

3.Kalau mitra Indonesia bukan seorang penduduk pribumi (WNI), maka 51% saham lokal ini harus dipindahkan melalui pasar bursa.

4. Bank bank Negara diinstruksikan untuk membatasi pinjaman pinjaman investasinya untuk hanya penduduk Indonesia.

Dengan sudut pandang seperti diatas maka permintaan agar 51% saham mayoritas Freeport diwajibkan untuk dikembalikan ke Negara melalui Badan Usaha Milik Negara, adalah sebuah kelanjutan dari sejarah panjang perjalanan Nasionalisme Industri dimasa lalu. Dimana pembangunan struktur industri pengolahan dimasa depan tidak dilepaskan dari fondasi yang berbasis pada adagium : Negara disektor hulu dan Swasta Indonesia disektor hilir. Agar penguasaan teknologi dan pertumbuhan industri dalam Negeri memiliki konsistensi dan berkesinambungan dari masa kemasa.

Apa benar begitu ? Wallahu alam. Mohon maaf jika keliru. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s