Branding (Seri Lelaki Pendekar Bag. 5)

by : bendri jaisyurrahman (twitter/IG : @ajobendri)

Dialah Muhammad. Nama yang diberikan oleh kakek tercinta, Abdul Muthollib. Menjadi satu-satunya nama di muka bumi saat itu. Tak ada satupun makhluk yang menyamai namanya. Asing didengar oleh kalangan Arab meski maknanya sangat familiar; yang terpuji. Dan nama tersebut adalah sebuah harapan dari sang kakek yang akhirnya berwujud keniscayaan. Dimana masyarakat kelak mengakui dirinya sebagai sosok yang berakhlak mulia dan yang terpuji. Bahkan lebih dari itu, disematkanlah kepadanya sebuah gelar : Al Amin. Sebagai pengakuan akan sosoknya yang jujur dan layak dipercaya.

Jika Muhammad adalah sebuah nama yang menjadi identitas personal, maka Al Amin adalah branding yang diberikan masyarakat sebagai bentuk pengakuan akan konsistensi kemuliaan akhlaknya. Inilah modal kuat yang kelak menjadikannya pemimpin dunia. Diakui eksistensi sekaligus konsistensi kebaikannya hingga masyhur di telinga masyarakat. Sampai akhirnya ia dipertemukan dengan wanita yang selevel dengannya. Memiliki branding yang sama-sama bernilai. Ath Thohiroh, julukannya. Dialah wanita suci, Khadijah binti Khuwailid. Yang kelak menjadi kekasih di dunia dan di surga. Cikal bakal peradaban pun bermula. Membangun mahligai rumah tangga dengan orang yang memiliki personal branding yang setara dengannya. Al Amin bersanding dengan Ath Thohiroh. Lelaki terbaik menikahi wanita terbaik. Postulat abadi yang terbukti kebenarannya.

Uniknya, branding Al Amin yang disematkan kepada beliau bukanlah sebuah ide dari dirinya. Hal itu bersumber dari sebutan di masyarakat. Tak pernah muncul dari lisan beliau saat berkenalan dengan siapa saja, “Perkenalkan nama saya Muhammad, panggil saja Al Amin. Orang yang layak dipercaya. Itulah saya”. Sama sekali tidak. Berbeda dengan sebagian orang masa kini yang sibuk membangun branding bagi dirinya dengan menyebutkan pesona dirinya di setiap kesempatan. Dalam kartu nama, akun sosial media, spanduk, banner dan segala media lainnya. Mereka sibuk membangun personal branding namun minim karya. Alhasil, branding di zaman sekarang lebih tepat sebagai pencitraan layaknya make up. Merias diri agar dikenal baik namun saat tahu aslinya, banyak yang kecewa dan berkata “Oh ternyata”. Layaknya rengginang yang berada di dalam biskuit khong guan. Mengecoh setiap tamu saat lebaran.

Kita semestinya belajar dari ulama-ulama terdahulu. Ibnu Taimiyah dengan gelar Syaikhul Islam nya. Imam An Nawawi dengan gelar Al Muhyiddin (yang menghidupkan agama). Atau Al Ghazali dengan sebutan Hujjatul Islam. Dan banyak contoh lainnya. Lagi-lagi semuanya mereka peroleh bukan hasil rekayasa branding mereka. Semua branding tersebut adalah pemberian masyarakat yang merasakan kemanfaatan ilmu mereka. Tak pernah kita temui di buku-buku mereka, sang penulis menyebut dirinya dengan gelar atau branding-branding setinggi langit. Justru sebagian besar mereka selalu menyebut dirinya dengan sebutan “Al Faqir Ilallah”. Maknanya adalah orang yang hina dan rendah di sisi Allah. Justru dua buah kemuliaan terhimpun disitu : karya nyata yang besar berpadu dengan jiwa yang selalu merendah.

Kata kunci dari mereka hingga meraih branding yang kuat di masyarakat yakni berkarya dengan ikhlas, istiqomah dalam amal, dan jiwa yang tak butuh pujian manusia, hanya harapkan ridho Allah semata. Kelak Allah, Rasul dan orang yang beriman akan menilainya. Inilah spirit dari surat At Taubah ayat 105 yang semestinya dilakukan jika seseorang ingin melakukan personal branding bagi dirinya.

Lantas apa hubungannya dengan lelaki pendekar? Lelaki pendekar sendiri adalah sebuah branding. Dimana semestinya bukan untuk diaku-akui secara pribadi oleh siapapun. Jika ingin memperoleh hal tersebut, selayaknya ia mengambil teladan dari ulama-ulama besar di atas. Sejak muda sudah nampak sibuk dalam amal nyata, istiqomah dan berupaya untuk selalu ikhlas. Tak pernah pusingkan mau dapat branding apa. Mau dicap lelaki pendekar atau lelaki pendek mekar ia tak pernah pedulikan. Biarlah Allah dan orang-orang beriman yang menilai. Hari-harinya diisi dengan berpindah dari amal yang satu ke amal yang lain. Tak pernah lelah dalam melakukan kebaikan. Bahkan mimpi dalam tidurnya pun tentang amal dan karya nyata. Sesekali mimpi basah bolehlah, namanya juga masih muda. Belum punya peredamnya. Semua amal itu ia lakukan dengan istiqomah dan konsisten. Bukan haus pujian apalagi update amalnya tiap jam di media sosial.

Dengan konsistensi dalam amal nyata tersebut meski tak berwujud dalam sebuah nama atau julukan khusus baginya, masyarakat bisa merasakan dampak karyanya. Persis seperti buang angin. Semakin tak bersuara, semakin pekat baunya. Kira-kira begitulah amal ikhlas yang konsisten dilakukan. Terasa dampaknya. Alhasil, ia pun dikenal dan terpatri dalam benak masyarakat secara serta merta.

Kelak dalam dunia kerja profesional, ia tak perlu repot-repot ajukan lamaran. Perusahaan-perusahaan besar justru rela antri dan berlomba-lomba mendapatkan dirinya sebagai karyawan. Kalau perlu mengiming-imingi dirinya agar mau bergabung bersama mereka. Dari yang nawarin salary untuk bisa beli pulau reklamasi sampai fasilitas mobil lamborgini lengkap dengan garasinya. Semua lagi-lagi karena karya nyata yang ikhlas. Hingga masyarakat mengetahui karyanya.

Begitu pula dalam urusan jodoh. Meski ia belum ajukan rencana nikah pun sudah banyak yang naksir. Diam-diam menjadi pengagum rahasianya. Sembunyi-sembunyi dalam doa mengharapkan ia menjadi suaminya. Imam bagi rumah tangganya. Sebab imam sholat mudah didapat di masjid terdekat, sementara Imam keluarga harus berjuang dengan sabar tuk mendapatkannya.

Seandainya sang lelaki pendekar membuat audisi mencari istri, tentu banyak wanita yang rela antri. Namun tentu hal ini tak mungkin ia lakukan. Sebab khawatir yang ikut serta di dalam antrian malah lebih banyak ibu-ibu pengendara motor matic sampai ke nenek-nenek pengunyah sirih. Sejatinya, branding yang ia miliki berguna untuk membantunya mencari partner hidup guna mempercepat proses pembangunan peradaban yang sejak lama ia rencanakan. Seperti nabi Muhammad yang berhasil mendapatkan sosok Khadijah, itu pula kelak yang akan ia terima. Wanita yang setara dan sekufu dengannya. Jangan bermimpi mendapatkan wanita semulia Khadijah, jika dirimu tak kau upgrade layaknya Nabi Muhammad.

Karena itulah, perjalanan menjadi lelaki pendekar amatlah panjang sekaligus melelahkan. Lebih panjang dan lama daripada sidang penistaan agama di Jakarta. Namun lelaki pendekar terus berkarya walau tidak bergabung ke partai golongan karya. Ia bekerja mencari ridho Allah semata. Disanjung tak membuatnya melambung, dihina tak menjadikannya merana. Lambat laun branding lelaki pendekar akan disematkan kepadanya selama ia konsisten dalam amalnya. Jika saat hidup tak ia peroleh, sebakda wafat masyarakat bisa lebih adil dan jujur menilainya. Justru itulah indahnya. Meninggalkan prasasti amal saat tiada. Berbekal keistiqomahan dan keihlasan beramal selama hidup di dunia. Jadi jika ia ditanya akan dirinya, cukuplah diam tak perlu berkoar-koar. Merendahlah tanpa harus meniru slogan awkarin yang berkata “Kalian semua suci, aku penuh dengan dosa!”. Lelaki pendekar cukup menjawab dengan #AYTKTM. Apapun Yang Terjadi Ku Tetap Melakukan karya (bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s