DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.
Kompas, 01 Jan 2017

Di tahun baru, biasanya banyak orang menggunakan istilah ‘resolusi’ untuk hal-hal yang ‘belum ketemu solusi’nya di tahun yang lewat. Salah satu resolusi yang menempati posisi terfavorit adalah urusan kesehatan. Bahkan kaum hawa bisa lebih ekstrim lagi, resolusi diet.

Pasien-pasien baru mengajukan diri dengan sederet janji dan keinginan mulai dari menurunkan berat badan hingga berhenti merokok.

Namun, yang teramat tragis justru malam tahun baru yang dilewatkan dengan pesta melimpah ruah seakan-akan itu ucapan selamat tinggal untuk terakhir kalinya menyicipi ‘makanan enak’.

Sesungguhnya, terlalu banyak hal yang harus diluruskan. Itu sebabnya ceramah saya tidak mungkin berlangsung kurang dari satu jam.

Pertama, istilah resolusi atau niat atau komitmen atau apalah itu. Saya paling tidak bisa terima suatu niat yang begitu bombastis seperti mau makan gajah dalam satu kali suap.

Niat yang pada akhirnya sulit menemui kemenangan di waktu dekat akhirnya luntur pelan-pelan. Seringnya, kelunturan niat tanpa sadar merusak rasa percaya diri. Jadi alih-alih bicara soal resolusi, yang ada justru destruksi masa depan.

Saya lebih menghargai niat kecil-kecil yang ‘tangible’ alias riil, terjangkau, masuk akal. Jadi ketimbang punya niat ingin menikah di tahun 2017, mengapa tidak menjalin komunikasi bermutu dan saling membangun harga diri dengan lawan jenis?

Ketimbang turun berat badan 20 kilo, mengapa tidak rutin bangun pagi tepat waktu dan selalu sarapan bermutu? Justru kegemukan datang saat sarapan dilangkahi dan begitu ada rapat di kantor kalap dengan semua ‘makanan kecil’ yang tersaji tapi berkalori tinggi yang mengerikan.

Kedua, sayang sekali jika kita ‘saying goodbye’ ke semua makanan enak demi pengurangan bobot. Sebab, tidak semua makanan enak itu jahat kok.

Malahan, sekarang ini timbul keanehan. Banyak makanan yang tidak enak diikhlaskan sebagai konsumsi sarapan pagi – yang menurut iklannya digembar-gemborkan sebagai ‘makanan sehat buat jantung dan kolesterol’ – padahal secara nutrisi tidak memberi imbangan gizi yang baik.

Bahkan, tidak memberi kombinasi yang baik bagi lambung yang masih kosong, selain terisi asam lambung. Alat pencernaan saya pastinya lebih bahagia diisi soto lamongan yang hangat, sedap dan fenomenal itu.

Kecenderungan meniru menu kebarat-baratan sudah waktunya perlu menjadi keprihatinan para ahli gizi Indonesia. Teman-teman bule saya justru merasa bersyukur bisa menikmati ‘mahzab’ baru dengan hadirnya sup dan soto sebagai menu pagi hari.

Ketiga, menyitir Gerakan Masyarakat Sehat yang saat ini menjadi program andalan Kementrian Kesehatan untuk mengentaskan Penyakit Tidak Menular dengan menggiatkan konsumsi sayur dengan porsi yang benar, tentu tidak mungkin terjadi jika kebiasaan lama tidak ada yang digeser.

Rekomendasi setengah kilo sayur per hari hanya akan mampu dihabiskan jika karbohidrat berkalori tinggi dicoret dari asupan harian.

Sayangnya, bagi sebagian besar publik Indonesia, sayur masih hanya sebagai ‘syarat’ saja. Seperti kelengkapan ‘sesajen’ dengan porsi nasi putih yang tak bergeming ukurannya. Itu pun jika disurvey, kebanyakan orang menjawab fungsi sayur hanya untuk kelancaran buang air besar. Betapa nistanya.

Tidak heran sayur di Indonesia dimasak hingga kita hanya bisa berharap kandungan seratnya . Tak heran pula, para ahli gizi Indonesia masih sungkan menyebut sayur dan buah adalah karbohidrat.

Padahal, jika dikonsumsi dalam bentuk lalap dan sesuai jumlah yang direkomendasikan dengan kaidah keberagaman, bukan hanya jumlah kalori bisa tercapai, tapi kaitan pengentasan Penyakit Tidak Menular dengan konsumsi sayur semakin jelas disebabkan polifenol, kandungan antioksidan yang tidak hilang akibat proses memasak.

Karena itulah, Harvard School of Public Health dan negri-negri pemakan lalap alias salads menyebut sayur dan buah adalah sumber karbohidrat yang terbaik.

Keempat – nah ini yang justru paling penting. Pemahaman adanya sabotase. Semua resolusi dan niat hancur berantakan bukan karena kita tidak punya motivator, justru dengan hadirnya sabotase. Bisa berasal dari orang lain, atau yang tersering – dari diri sendiri.

Menjalankan niat dengan istilah ‘harus begini, harus begitu’ semakin membuat sabotase tumbuh subur. Karena orang hanya menjalankan apa yang baginya penting, bukan harus.

Harus hanya menimbulkan kesengsaraan, kewajiban tak kunjung usai, melelahkan. Seakan-akan terjadi penzoliman terhadap hasrat dan nafsu.

Padahal nafsu pun perlu dipelihara baik-baik, bahkan diberi jalan keluar dan pilihan. Nafsu yang selalu dibendung tanpa pengarahan itulah yang membuat sabotase mulai muncul.

Istilah ‘cheating day’ atau ‘weekend makan bebas’ biasanya muncul dari orang-orang yang sama sekali gagal paham tentang arti sehat dan makanan enak.

Pola makan sehat tidak terinkulturasi dengan gaya hidup, akibat diet ngawur yang tidak enak selama hari kerja. Atau pembiaran liarnya iklan industri pangan sementara faedah sayur tetap saja dimengerti rakyat sebagai pelancar buang air.

Jadi, membuat niat menjadi hasil, perlu artinya untuk menata pemahaman, mencari sumber yang benar untuk tujuan-tujuan yang ingin dicapai, menyusun strategi kemenangan harian, mengenali sabotase, akhirnya menjadi jalan setapak menuju tujuan yang bisa jadi memberi bonus kejutan sepanjang jalan setapak itu. Jauh lebih penting dari sekadar motivasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s