“Living Books”, Apa Itu?

Oleh: Ellen Kristi

“Anak-anak harus memperoleh living books; buku-buku terbaik tak pernah terlalu baik bagi mereka, semua yang kurang dari terbaik berarti tidak cukup baik. Mereka harus tumbuh besar bersama yang terbaik … jangan biarkan membaca atau mendengarkan twaddle.” (Parents and Children, hlm. 279, 263)
Living books. Pustaka hidup. Secara sederhana, living books berarti buku-buku yang bermutu. Inilah istilah ikon dari metode Charlotte Mason, sampai-sampai orang menyebutnya living books method.

Begitu kerasnya amarahn Charlotte agar anak-anak diekspos terhadap living books dan menjauhi twaddle, topik ini selalu mendominasi perbincangan antar praktisi CM di negara mana pun. Dan memang serba-serbi living books inilah yang paling sering ditanyakan oleh para newbie peminat metode CM. Mereka selalu bertanya, apa sih living books itu? Bagaimana membedakan living books dan twaddle?

Makanan Bergizi vs. Junk Food

Perbedaan living books dan twaddle bisa dipahami lewat perumpamaan ini: Pendidikan, kata Charlotte, ibarat perjamuan ide. Di hadapan anak, kita menyajikan berbagai hidangan. Setelah anak menyantapnya, nutrisi dalam hidangan akan terserap dan mempengaruhi tumbuh kembangnya.

Buku adalah hidangan mental. Yang anak butuhkan dari buku adalah ide-ide di dalamnya. Tanpa asupan ide-ide menggugah, benak anak akan kurus-kering kelaparan dan sakit-sakitan. Sebaliknya, jika setiap hari benak anak disuplai dengan ide-ide yang menggairahkannya ke arah positif, karakter dan perilaku anak pun menjadi luhur.

Nah, kita tahu bahwa tidak semua hidangan bergizi. Ada pula makanan sampah yang nilai gizinya sudah rusak, habis, bahkan beracun atau berbahaya bagi tubuh. Begitu juga tidak semua buku mengandung ide yang berharga. Buku-buku yang mengandung ide berharga nan inspiratif menyehatkan pikiran, itulah living books. Buku-buku picisan yang sekedar kenyang, sekedar enak, tapi sebetulnya rendah nilai gizi, menumpulkan atau bahkan merusak pikiran, itulah twaddle.

Adakah Ide yang “Hidup”?

Kuncinya ada pada kata living, hidup. Living books adalah buku yang mengandung ide-ide “hidup”. Ide atau gagasan, menurut Charlotte, seperti kuman yang punya daya hidup. Sekali bersarang, kuman itu bisa berkembang biak dengan sendirinya, melipatgandakan diri dalam bentuk kembangan ide-ide baru.

Pernahkah kita membaca satu buku, lalu ketika usai, kita tak bisa berhenti memikirkannya? Atau kita jadi terinspirasi melakukan sesuatu karenanya? Atau tiba-tiba di waktu yang lain, isi buku itu tiba-tiba saja muncul di kepala kita, mengaitkan diri dengan ide-ide lainnya, membentuk pendapat kita? Itulah tanda ide-ide dalam buku itu hidup dalam pikiran kita.

Demikianlah maksud Charlotte tentang living books. Buku-buku berkaliber living books mengandung ide-ide luhur yang menggerakkan anak untuk mengingat, merenungkan, atau memvisualisasikannya. Ide-ide itu mengeram dalam benak anak lama setelah buku selesai dibaca, membuatnya tergugah, membentuk kepribadiannya secara positif.

Mengenali Living Books

Living books bisa dikenali dari kalimat-kalimat yang bernas serta bahasanya yang indah-berkesan, meski tidak harus berbunga-bunga. Gaya bertuturnya biasanya naratif (berkisah). Jika disertai ilustrasi, maka ilustrasi itu pun dikerjakan secara sungguh-sungguh, berkarakter.

Buku-buku seperti ini selalu ditulis oleh pengarang berdedikasi yang kompeten pada bidangnya dan menulis dengan jiwanya – sebagian dari jiwa itu tertinggal di halaman-halaman bukunya. Meskipun bicara tentang nilai dan sikap moral, si penulis tidak cerewet menggurui. Alih-alih mendikte pemahaman pembaca, ia memberikan ruang bagi mereka untuk membuat penafsiran sendiri.

Buku anak yang tergolong living books ditulis dengan asumsi bahwa anak itu cerdas. Penulisnya tidak pernah meremehkan si pembaca cilik dengan hanya memakai kata-kata mudah, kalimat-kalimat yang sesederhana mungkin. Tak heran, meskipun ditulis untuk anak, pembaca dewasa tetap ikut terpikat.

Twaddle kebalikannya: dangkal atau garing atau vulgar, tidak membangun karakter, dan seringkali diciptakan semata-mata untuk kepentingan komersiil-pragmatis dari pengarang atau penerbitnya. Setetes ide dibicarakan bertele-tele menjadi segalon kata-kata. Bahasanya tidak berselera. Uraiannya sok tahu dan sok bijak, segala-gala pesan moralnya selalu disimpulkan sendiri lalu dilolohkan ke pikiran anak. Charlotte benci sekali dengan bacaan-bacaan yang merendahkan kapasitas intelektual dan moral anak (talking down to children) yang demikian.

Sungguh sayang bahwa anak-anak kita sekarang banyak dibanjiri oleh twaddle seperti ini yang seringkali adalah versi rombakan (abridged) dari karya-karya klasik yang tergolong living books. Sekali-sekali, bandingkanlah cerita orisinil Winnie the Pooh (A.A. Milne), Little Mermaid (HC Andersen), Peter Pan (James M. Barrie), atau Pinnochio (Carlo Collodi) dengan penulisan ulangnya dalam versi Disney, Anda akan tahu bedanya antara living books dan twaddle.

Mengapa Harus Living Books?

Semua saran teknis-praktis dalam metode CM selalu dilandasi oleh alasan filosofis. Begitu pula soal pemilihan buku. Charlotte Mason punya pemikiran mendasar tentang pentingnya menyajikan sedapat mungkin hanya buku-buku bermutu bagi anak, dan menjauhkan sedapat mungkin segala buku-buku picisan darinya.

Pilar ketiga dari filosofi pendidikan CM adalah Education is a life. “Pendidikan adalah kehidupan dan kehidupan jiwa terpelihara oleh asupan gagasan-gagasan. Tugas orangtua adalah memelihara kehidupan jiwa anaknya dengan gagasan sebagaimana ia memelihara kehidupan jasmaninya dengan makanan.” (Parents and Children, hlm. 39)

Mengapa Charlotte menekankan soal ‘kehidupan jiwa’? Sebab, kita acap lupa bahwa “manusia bukan hidup dari roti saja”. Orangtua umumnya sigap mencukupi kebutuhan materiil anak: kita menghidangkan makanan berlimpah setiap hari, mendandaninya dengan baju-baju indah, menyediakan rumah yang nyaman, dan merespons permintaannya untuk dibelikan ini atau itu.

Kita acap lupa, anak sebagai pribadi utuh bukan hanya tersusun atas materi, namun juga roh. Kita sering abai, yang perlu dicukupi kebutuhannya bukan badannya saja, tapi juga pikirannya. Kalau kemudian masyarakat dipenuhi oleh orang-orang dewasa berbadan sehat dan kuat yang, sayangnya, berpikiran kerdil dan sakit, itu adalah konsekuensi dari pengabaian kita terhadap kehidupan jiwa.

Asupan bagi badan adalah makanan, asupan bagi pikiran adalah ide atau gagasan. Perhatikanlah anak-anak kita itu dengan jeli, maka kita akan dapati bahwa mereka selalu lapar dan haus akan pengetahuan. Pikiran mereka mencari ide-ide untuk direnungkan, persis seperti tubuhnya meminta makanan untuk dicerna.

Asupan ide dari living books anak perlukan supaya benaknya bisa bertumbuh. Ya, sama seperti tubuh, benak juga ingin bertumbuh. Bertumbuh berarti membesar dan meluas. Bertumbuh berarti secara bertahap mencapai taraf ukuran dan kemampuan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Tantangan bagi Para Pendidik

Ya, ada tantangan besar bagi para pendidik, yakni memberi makan bergizi kepada benak anak! Charlotte percaya, setiap anak punya potensi luar biasa. Pikiran mereka ibarat tanah yang subur, siap ditaburi ide-ide berharga. Tinggal sekarang, ide macam apa yang mau kita sajikan bagi mereka dalam proses pendidikan?

“Jika tujuan pengajaran adalah untuk memperkaya anak dengan ide-ide, maka setiap proses belajar-mengajar yang tidak berhasil menambahkan pada perbendaharaan anak satu pun imaji mental yang baru, kegiatan itu telah gagal mencapai sasaran. … Setiap pagi yang anak lewati tanpa menerima satu ide baru adalah pagi yang terbuang percuma, betapa pun seriusnya siswa kecil kita itu dipaksa memelototi buku-bukunya.” (Home Education, hlm. 173)

Dari puluhan tahun menjadi guru, Charlotte melihat dampak negatif ketika ketika sehari-hari bagi para siswa hanya tersedia “buku-buku teks menyedihkan, ringkasan fakta-fakta, yang harus dia hafalkan dan sebutkan saat ujian … berbagai pengetahuan yang sudah dijadikan bubur, dicernakan oleh gurunya dengan barangkali hanya beberapa tetes ide hidup yang tersisa dari satu galon pelajaran.” (School Education, hlm. 170)

Sajian twaddle yang minim atau malah hampa ide seperti ini justru menghambat pertumbuhan pikiran. Seolah-olah “anak-anak itu meminta roti dan kita memberi mereka batu, segala macam informasi fakta dan peristiwa yang tak menggugah pikiran mereka, dan akhirnya hanya mereka buang bulat-bulat tanpa dicerna (di atas kertas ujian?).” (A Philosophy of Education, hlm. 26) Diet twaddle membuat pertumbuhan mereka terhambat, pikiran mereka menjadi kerdil.

Living books memberi benak anak kesempatan untuk berkenalan dengan pemikiran dan karya-karya terbaik dalam sejarah manusia. Lewat buku-buku bermutu itu, ia bercakap-cakap dengan para penyusun peradabanlewat tulisan – percakapan batin yang akan meninggalkan inspirasi abadi dalam dirinya. Kita berhutang untuk menyuplai setiap anak dengan buku-buku semacam itu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s