Bendri Jaisyurrahman

by : bendri jaisyurrahman (twitter/IG : @ajobendri)

Apa modal dasar untuk bisa menjadi lelaki pendekar? Jawabannya adalah setia terhadap janji. Ini adalah pondasi sekaligus akar yang menopang sosok lelaki pendekar, peduli anak dan keluarga. Hanya lelaki yang setia terhadap janjilah, yang mampu menjalani kehidupan rumah tangga dengan lurus dan mulus. Ia tak mudah tergoda kepada wanita yang merayu-rayunya meski si wanita secantik finalis putri Indonesia. Karena ia terikat janji untuk tak jelalatan matanya saat sudah berumah tangga. Di saat emosi, ia menahan tangannya kepada istri. Kalaupun mau memukul, itu ditujukan kepada nyamuk bahlul yang iseng nempel di pipi istri tercinta. Tak sampai membuat istri cedera. Lagi-lagi karena ia terikat janji. Janji untuk memuliakan istri.

Anak merengek minta digendong padahal lagi rempong, segera mungkin ia penuhi pinta anak meski badan agak sempoyong. Sebab jika anak sudah enggan menempel ke ayahnya terutama bagi anak wanita, ia tumbuh jadi remaja yang gampang diperangkap lelaki buaya. Semua lagi-lagi karena janji. Janji dalam ikatan suci bahwa nikah bukan sekedar bisa menghamili istri, namun ikut bersama mengasuh buah hati. Agar ia menjadi lelaki pertama yang dicintai oleh anaknya sendiri.

Bermula dari kalimat akad yang terucap di awal nikah maka ia terikat perjanjian yang disebut mitsaqon ghaliza, perjanjian yang kokoh. Bukan sembarang janji. Sebab saksi utamanya adalah Allah. Selain pernikahan, ada dua perjanjian lagi yang disebut mitsaqon ghaliza dalam alquran. Yakni perjanjian antara Allah dengan Nabi (Al Ahzab : 7) dan perjanjian antara Allah dengan Bani Israil atau Yahudi (An Nisa : 154).

Perjanjian antara Allah dengan Nabi adalah contoh perjanjian yang ditepati. Tak ada satupun nabi yang berkhianat akan janjinya kepada Ilahi. Meski ujian bertubi-tubi, tak sekalipun nabi memilih cuti atau desersi. Dakwah must go on. Terus berkibar meski tak dapat respon. Nabi terus menjalankan misinya sebagai penyampai risalah kebenaran. Apa yang keluar dari lisan mereka adalah petunjuk yang bersumber dari Tuhan. Tak ada satupun yang direkayasa atau dipalsukan. Sebab nabi adalah sebaik-baiknya lelaki penegak janji.

Sementara perjanjian antara yahudi dengan Allah adalah contoh perjanjian yang dikhianati. Yahudi dengan sikap culasnya mengakal-akali kitab suci. Dalil diambil jika sesuai dengan keinginan. Jika bertentangan, maka dalil diabaikan. Bahkan demi memuaskan syahwatnya mereka tega membunuh nabi yang mulia. Bagi mereka, agama dipakai untuk kepuasan syahwat semata. Inilah contoh pengingkaran terhadap janji. Kalah oleh nafsu dan birahi.

Disinilah menariknya, menikah bagi lelaki menjadi sebuah persimpangan yang menentukan statusnya kemudian. Jika lelaki setia akan janjinya, ia telah meniru jejak nabi yang mulia. Jika ia mudah berkhianat, jadilah ia laksana yahudi terlaknat. Hidupnya jauh dari rahmat. Kesuksesan yang diraih di luar, semuanya semu. Karena hakikatnya ia sosok sang penipu.

Maka, bekal awal seorang lelaki agar menjadi sosok pendekar yakni berlatih untuk setia terhadap janji. Cukupkah itu? Tentu tidak. Ia harus memulainya terlebih dahulu dengan berani untuk berjanji alias membuat komitmen. Jikalau ada lelaki yang katanya baik namun tak berani untuk komitmen, itu tanda ia tidak gentleman. Syahwat hanya mau dipuaskan lewat pacaran. Diajak nikah ia berkilah dan ogah-ogahan. Mau bersenang-senang tanpa ikatan. Ini menunjukkan ia lelaki pengecut. Mau enaknya aja. Ketemu penghulu langsung ciut.

Kebaikan apapun yang dilakukan oleh seorang lelaki belumlah sempurna jika ia tak mau berkomitmen. Contohnya paman nabi, Abu Thalib. Kebaikannya tak diragukan. Ia menjadi penolong nabi di garda depan. Saat nabi dibully, ia yang menjadi penawar hati. Saat nabi hendak disiksa, ia siap membela. Namun semua amalannya itu pupus sudah sebab sampai akhir hayatnya ia tak mengucap syahadah. Kalimat yang menunjukkan keberanian untuk setia terhadap aturan Allah dan nabinya.

Sama persis dengan orang pacaran. Sebaik apapun ia memperlakukan pacarnya, tak ada gunanya. Bahkan berdosa. Sebab ia tak berani mengucap janji setia di hadapan wali lewat akad nikah. Ngakunya gunung kan didaki, tapi berjalan menuju gedung KUA aja ngeri. Bilangnya mau sebrangi lautan, menghadap mertua untuk melamar eh udah ketakutan. Masih percaya ama lelaki model beginian?

Jadi, dua kata kuncinya untuk bisa menjadi lelaki pendekar : berani dan setia. Berani untuk berkomitmen kemudian setia menjalankannya. Inilah lelaki pendekar idaman kaum hawa. Kelak ia akan menjadi sosok yang peduli terhadap anak dan keluarga.

Dari sirah nabi Muhammad, mari kita belajar. Di usianya yang beranjak dewasa, beliau telah nampak karakter pendekar. Diawali dengan bergabung dalam sebuah organisasi penegak hukum di kota Mekkah. Hilful fudhul namanya. Disini beberapa pemuka masyarakat berjanji setia, untuk menegakkan konstitusi bagi siapa saja. Nabi Muhammad yang masih muda saat itu, ikut terlibat meski sebatas baru simpatisan dan pengamat. Beliau mencemplungkan diri ke dalam organisasi demi menjadi bagian dari lelaki penegak janji. Saat ada orang dizholimi, tak tinggal diam. Langsung bertindak tidak cuma mengecam. Hingga sejarah mencatat, Rasulullah turut terlibat membebaskan seorang wanita yang diculik oleh Bani Najjaj.

Sungguh inilah contoh teladan bagi siapa saja yang mau jadi lelaki idaman. Sejak muda, aktif dalam organisasi pembela kebenaran. Bukan sekedar gagah-gagahan. Makanya, organisasi yang diikuti bukan yang sembarangan. Bukan kumpul untuk hura-hura sambil sesekali pamer harta. Itu grup lelaki apa kumpulan sosialita? Lelaki pendekar sejak awal memilih gabung ke organisasi yang benar. Fokus kepada yang memperjuangkan kebenaran. Disinilah ia terlatih dua hal sekaligus : keberanian dan kesetiaan.

Berani untuk siap dibully karena dianggap sok suci. Dan setia untuk tidak melenceng dari aturan organisasi. Jika ada lelaki yang gabung dan aktif di organisasi ini, katakan kepadanya, “You are da Real MVP”. Ini lelaki yang kelak akan jadi penyelamat negeri. Kalau sama negeri aja peduli, apalagi sama anak dan istri.

Dari sekarang, semua bekal menjadi lelaki pendekar harus disiapkan. Tinggalkan kebiasaan yang merendahkan sifat kelaki-lakian. Hari-hari hanya diisi dengan bersolek. Ujung-ujungnya jadi lelaki ngondek. Memperhatikan penampilan sah-sah aja. Tapi perbaikan kualitas diri jauh lebih utama. Sebab memaksakan diri untuk memperbagus wajah, malah bikin susah. Alih-alih menjadi lelaki bertampang pangeran arab, begitu wanita melihatnya malah komentar, “Arab bersabar! Ini ujian”. Nah gak enak kan?

Ingat, untuk bisa menjadi lelaki pendekar harus melalui rangkaian ujian yang entah kapan bakal kelar. Gabung dan aktif di organisasi pembela kebenaran salah satunya. Capek? Emang iya. Tapi disinilah indahnya. Dirinya terlatih jadi sosok yang luar biasa. Saat lelaki lain ketemu wanita idamannya, kemudian sibuk merangkai puisi untuk merayunya jadi pacar. Ia dengan jantan datangi sang wali sambil bawa martabak telor untuk melamar. Ini baru lelaki pendekar! (bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s