Harry Santosa
February 10, 2017

Ada sebuah teguran bagi kita semua dalam mendidik generasi, “buat apa kita ajarkan anak Taklif Syar’i, namun tidak kita siapkan mereka untuk Mukalaf (kemampuan memikul beban syariah, dari menyeru kepada Tauhid, Ibadah, sampai kepada Nafkah, Jihad dan Menikah) ketika AqilBaligh tiba”.

Ya, umumnya kita sangat concern mengajarkan berbagai kewajiban agama kepada anak anak kita ketika usia 7 -12 tahun bahkan lebih dini, namun kita tidak menyiapkannya pada usia 12 – 15 tahun untuk menjadi pemuda sejati (arrijaal) yang mandiri, punya peran peradaban spesifik yang memberi manfaat bagi ummat dan memiliki kemampuan untuk mengemban syariah itu sendiri dalam makna yang lebih luas sejak berusia 15 tahun.

Kita lihat sepanjang sejarah peradaban Islam, sejak zaman Rasulullah SAW, dari generasi ke generasi selalu muncul para pemuda belasan tahun yang sudah memiliki peran peradaban yang dibutuhkan ummat dan zamannya, yang menebar rahmat dan manfaat.

Lihatlah Usamah bin Zaid RA, telah dinikahkan Nabi SAW di usia 15 tahun dan telah ditunjuk menjadi panglima perang di usia 16 tahun. Lihatlah Imam Syafi’i telah menjadi mahasiswa di usia 11 tahun dan menjadi mufti di usia 16 tahun. Lihatlah Alkhawarizmi telah menjadi pakar matematika di usia 10 tahun dan menjadi guru besar matematika di usia 18 tahun, lihatlah Muhammad alFatih telah memulai ekspedisi penaklukan Konstantinopel sejak usia 16 tahun dan menaklukannya di usia 21 tahun.

Hal ini berlangsung terus sampai abad 20, lihatlah Hasan al Banna di Mesir, Abul A’la Maududi di Pakistan, Muhammad Natsir di Indonesia dll mereka telah memulai debut peran peradabannya ketika berusia belasan tahun.

Mereka bukan Generasi yang hanya pandai dan hafal ilmu agama, namun mereka telah memiliki peran peradaban terbaik untuk menyeru Tauhidullah sesuai peran spesifik yang mereka pilih secara sadar dan dibutuhkan ummat pada zamannya ketika berusia 15- 19 tahun.

Abad ini, generasi seperti di atas tidak lahir kembali. Ummat mengekor habis habisan kepada sistem persekolahan barat, yang diakui oleh peradaban barat mereka sendiri sebagai sistem yang merusak fitrah manusia, sistem yang melakukan pembocahan (infantization) yang melambatkan kemandirian dan kedewasaan sampai usia 25-26 tahun, sistem yang hanya mengantarkan generasi muda Muslim untuk menjadi kuli dan pekerja yang mengais ngais upah di kota kota besar, sistem yang menyibukkan anak anak kita pada persaingan semu yang tak menuju kemana mana (race to no where) tanpa peran peradaban yang jelas.

Maka munculah generasi yang “tidak beradab” pada Allah, pada dirinya, pada keluarganya, pada desanya, pada alamnya, pada zamannya, pada masyarakat dan ummatnya dstnya. Mereka tercerabut dari akar agamanya, akar dirinya, akar keluarganya, akar masyarakat dan ummatnya.

Dari mana Kita memulai kembali melahirkan Generasi AqilBaligh?

Di Indonesia, sesungguhnya para Ulama dahulu telah meninggalkan sistem pendidikan yang luarbiasa. Sebelum sistem pendidikan kolonial dicangkokan di bumi nusantara, para Ulama telah mentradisikan model pendidikan berbasis Masjid atau berbasis Jamaah, seperti Model Pendidikan Surau dan Merantau, Meunasah, Dayah, Rangkang, Langgar, Pesantren dll yang kesemuanya berbasis jamaah atau komunitas dengan pusat pembinaan di Masjid.

Maka mari kita mulai kembalikan peran Masjid sebagai sentra untuk melahirkan generasi AqilBaligh, generasi yang memiliki peran peradaban terbaik, generasi mandiri dan mampu menjadi mukalaf yang mampu mengemban syariah dengan baik, generais yang menebar rahmat dan manfaat bagi ummat pada usia belasan tahun.

Generasi yang tidak memiliki peran peradaban ketika aqilbaligh karena tidak tumbuh aspek fitrahnya, ibarat sungai yang tidak mengalir, menjadi sarang hama penyakit dan sampah yang menebar wabah dan keburukan.

Masjid walau dipenuhi anak anak TPA, namun kering dan sepi dari pembinaan anak anak muda untuk persiapan AqilBaligh. Masjid seolah bukan pusat mempersiapkan anak anak kita menjadi pemuda yang Mukalaf, yang memiliki peran peradaban yang dibutuhkan ummat ketika AqilBaligh tiba.

Masjid kini hanya tempat belajar agama secara terbatas, terlepas dan tidak relevan dengan realitas sosial dan problematika masyarakat sekitar, terlepas dari potensi lingkungan dan alam sekitar, terlepas dari proses mendidik generasi peradaban untuk melahirkan para pemuda sebagai pemeran peradaban dengan kepemimpinan dan karya solutif bagi ummat.

Jika demikian maka Masjid akan sulit diharapkan untuk menjadi pusat dan agen perubahan, terutama jika tidak ada proses mendidik pemuda di dalamnya yang mengantarkan mereka pada peran peran terbaik peradaban.

Kurikulum Pendidikan Generasi AqilBaligh

Berikut adalah prinsip dan asumsi asumsi untuk mendidik generasi AqilBaligh yang menjadi landasan penyusunan Kurikulum Pendidikan generasi AqilBaligh.

(Bersambung)

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikamberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s