Harga Diri dan Pemimpin Sejati

Harry Santosa
07 Feb 2017

Lelaki mulia itu tidak gegap gempita berteriak takbir, tetapi tertunduk menangis terharu sampai janggutnya basah oleh air mata. “Fasabbih bi hamdi Robbika wastaghfir”, begitu alQuran mengabadikan tawadlunya Beliau.

Dalam kemenangan besar itu, lisan Lelaki Mulia itu hanya bertasbih, bertahmid dan beristighfar. Padahal itu momen penting dalam perjalanan peran peradabannya selama lebih 20 tahun, yaitu terbukanya Kota Mekkah (Fathu Makkah).

Barangkali umumnya orang menganggap pantas bagi para pemimpin atau penguasa untuk Jumawa di saat kemenangan besar, apalagi ada kekuasaan yang diraih ketika kota penting ditaklukkan, namun tidak bagi Lelaki Mulia itu. Dia tetap seorang yang bersahaja luar dalam.

Bahkan lelaki mulia itu menjaga kehormatan dan harga diri warga Mekkah dan para bangsawan yang dahulu menentangnya, mengusirnya bahkan menyiksa pengikutnya.

Diumumkan, “Siapa yang berlindung di rumah Abu Sufyan maka dia aman” . Padahal Abu Sufyan dan kebanyakan keluarganya adalah bangsawan yang menyusahkan dakwah Lelaki Mulia itu. Harga diri manusia walaupun musuh penentang tetap menjadi prioritas.

Kita sama sama mengenal siapa Lelaki Mulia itu, siapa lagi kalau bukan Muhammad Rasulullah SAW, manusia paling mulia.

Beberapa tahun setelah Rasulullah SAW wafat, tradisi atau budaya rendah hati dan menjaga harga diri orang lain juga diwariskan kepada pelanjutnya. Adalah seorang Sahabatnya yang juga merupakan Lelaki Perkasa yang dicatat sebagai penakluk terbesar sepanjang sejarah selama masa pemerintahannya.

Lelaki Perkasa itu memasuki Kota Yerusalem atas undangan para pemegang kunci kota itu untuk menyerahkan kunci kepada lelaki itu. Tidak ada pesta meriah maupun teriakan dan yel yel kemenangan dari pasukannya yang telah tiba di kota itu lebih dulu.

Rakyat Yerusalem dikejutkan dengan kesederhanaan penampilan lelaki perkasa itu. Tanpa kawalan tentara, hanya seorang pembantu yang bergantian menuntun dan menunggangi seekor unta selama perjalanan. Lelaki itu tidak merasa dirinya besar dan penting sehingga harus membawa pengikut yang banyak.

Barangkali umumnya orang menganggap pantas bagi para pemimpin atau penguasa untuk Jumawa di saat kemenangan besar, apalagi ada kekuasaan yang diraih ketika kota penting ditaklukkan, namun tidak bagi Lelaki Mulia itu. Dia tetap seorang yang bersahaja luar dalam. “Sesungguhnya Islam telah cukup bagiku”

Saat sholat tiba, Beliau memilih sholat di luar Gereja walau ditawarkan Uskup Sophronius untuk sholat di dalam Gereja. Penolakan ini semata mata untuk menjaga harga diri dan kehormatan warga Nasrani dan Pendetanya.serta agar tidak menjadi preseden ummat untuk merubah gereja menjadi masjid di masa depan.

Kita tentu sama sama mengenal siapa lelaki perkasa itu, dialah Umar bin Khattab RA.

Dua cuplik kisah di atas, menggambarkan sosok pemimpin sejati yang paham betul fitrah manusia, paham betul bahwa menyeru kebenaran bukan tentang memusuhi manusia namun justru menjunjung harga diri dan kehormatan manusia. Siapapun manusia, pada fitrahnya ingin dimuliakan harga dirinya.

Secara fitrah, Nurani manusia selalu benar dan menginginkan kebenaran karenanya tidak suka jika dipersalahkan dan dipermalukan walau memang perbuatannya salah. Menjunjung harga diri manusia semakin mendekatkan kita pada keadilan dan semakin mendekatkan mereka pada Islam.

Inilah mengapa Islam begitu cepat menyebar dan terus ada sampai akhir zaman. Fitrah manusia akan bertemu serasi dengan agama dan akhlak yang fitri.

Mari kita didik fitrah anak anak kita dengan sebaik baiknya agar kelak mereka menjadi pemimpin sejati yang memuliakan harga diri manusia dan semesta.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah
#fitrahbasededucation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s