Iwan Pranoto

Satu anak, harus naik sampan ke pulau lain untuk bersekolah. JUga kadang hrs tak sekolah, krn menemani ayahnya mencari ikan di laut.

Anak lain, harus berjalan 1 atau 2 malam lewat hutan belantara dan tebing terjal tanpa bekal makan untuk ke sekolah.

Anak lain lagi, diantar pakai Alphard berpendingin AC ke sekolah.

Satu sekolah, di pulau kecil tak memiliki guru yang lengkap. Fasilitas WC dan kamar mandi tak ada.

Sekolah lain, di perbukitan terjal dg1 guru mengajar Sejarah smp Kimia, dari TK sampai SMA. Guru itu juga hrs menyediakan makanan utk anak.

Sekolah lain lagi, guru tiap matpel khusus serta berpendidikan S2. Fasilitas laboratorium berperangkat lengkap. Ruang kelas berAC.

Lalu di minggu2 ini, anak-anak ini dan sekolah-sekolah ini semuanya dianggap sama. Ujian untuk mereka seragam sama persis, utk standardisasi.

Setiap anak harus memperoleh pengetahuan dan keterampilan yg sama, tak mau tahu bagaimana keadaan lingkungan dan sekolahnya.

Anak yg bersekolah berjalan di hutan 2 malam harus mencapai kecakapan sama dg yg bersekolah diantar Alphard.

Demi mahluk bernama STANDAR, anak di manapun dg lingkungan seperti apapun harus memperoleh kecakapan yg sama, dlm waktu yg sama.

Anak seperti layaknya barang buatan pabrik distandardisasi. Konon katanya pabrik dan industri membutuhkan pekerja yang seragam kecakapannya.

Karena pabrik membutuhkan tenaga kerja yg andal, maka anak harus distandardisasi, diseragamkan.

Entah anak itu dari masyarakat Asmat atau dari perkotaan, harus mencapai kecakapan yg sama dg waktu yg sama.

BUkan saja itu, anak dr pulau2 terpencil, anak dr hutan pedalaman, dan anak dari perkotaan menggunakan buku ajar yg sama. Again, STANDAR.

Bgmn kecakapan memahat patung dari anak2 Asmat? Bgmn kecakapan menari dari anak2 Bali? Tak ambil pusing, itu tak penting.

Bagaimana kecakapan anak di Maluku mencari ikan? Bagaimana kecakapan anak di Minangkabau mengaji? Itu tak penting, demi STANDARDISASI.

Di saat sekarang, saat dunia industri justru membutuhkan pekerja kreatif, yg unik dan berbeda, anak2 kita justru sdg dijadikan biasa.

Kehidupan bernegara dan dunia industri membutuhkan warga yg pemikirannya menerobos kebiasaan, sedang pendidikan sedang menyeragamkan.

Kebijakan standardisasi bukankah seharusnya dikenakan pada layanan pendidikannya? Perpustakaan hrs punya brp buku, brp guru, brp TU.

Standardisasi anak itu “mendehumanisasi” atau menganggap anak sebagai barang pabrik.

Sudah 15 tahun, anak distandardisasi, bukankah saatnya sekarang berhenti sejenak, merenungkan relevansinya dan efek sampingnya?

Satu anak kakinya luka, satu lagi anak lututnya diperban, satu anak lagi sehat, lalu disuruh lari 100m, dan anak ketiga start 20 m di depan.

Ketiganya diminta mencapai garis finish dengan waktu yg sama. Demi STANDARDISASI.

Mari berhenti sejenak, mari merenungkan kebijakan pendidikan yang masih meyakini anak harus distandardisasi.

Mari berharap anak bertumbuh beragam. Satu cakap menari, satu cakap memrogram komputer, satu cakap berenang, satu cakap memahat patung.

Persekolahan hrs menumbuhkan sekaligus merayakan keragaman kecakapan dan pemikiran anak. Persekolahan hrs menjauhkan dr standardisasi anak.

Akhirnya, hr ini realistisnya, kita bersama hrs cari akal bgmn menyembuhkan anak2 kita dari efek proses standardisasi di pendidikan ini.

Jk Big Brother ngotot menstandardisasi anak, cari siasat agar anak melupakan proses dehumanisasi itu & lalu mengembangkan keunikan dirinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s