Pemimpin Peradaban vs Pemimpin Karbitan

Harry Santosa – Millenial Learning Center
4 Feb 2017

Selama berabad lamanya, di masa lalu, secara alamiah, para pemimpin sesungguhnya selalu memulai karirnya sebagai local leader.

Sejak muda mereka berjibaku menata dan membangun kaumnya sehingga perlahan memiliki rekam jejak kredibilitas baik moralitas maupun karya solutif bagi kaumnya.

Itulah mengapa para local leader di masa lalu, sekaligus adalah local wisdom, karena mereka menguasai benar kearifan kearifan kaumnya sekaligus realita sosial dan problematikanya.

Begitulah para Sunan dan Kyai dahulu. Mereka sejak muda, merintis dakwah dalam sebuah teritori sekelas desa dengan pesantren sebagai sentra peradaban di desa itu.

Kredibiltas dibangun sejak muda melalui beragam karya solutif bagi warga desa dalam semua aspek, sehingga kemudian secara alamiah para Kyai ini diangkat sebagai pemimpin desa atau local community leader yang sangat genuine peran dan karya solutifnya.

Para Kyai ini bukan saja pemimpin spiritual, tetapi seorang arsitek peradaban desa, yang sejak muda berjibaku bersama warga dalam mendidik dan memberdayakan local advantage seperti pertanian, perikanan dsbnya. Sehingga seiring berjalannya usia, kematangan sebagai pemimpin teruji dan terasah hebat.

Empati, ilmu, amanah bukan cuma dihafal dan dinarasikan. Para Kyai ini adalah kearifan berjalan atau local wisdom hidup itu sendiri.

Begitupula Rasulullah SAW. Sebelum masa Kenabian, Beliau telah digelari alAmin, orang yang terpercaya. Sejak muda Beliau ikut membangun komunitas sehingga dipercaya.

Bahkan sampai turunnya Risalah, orang sekampung Quraisy tetap sangat mempercayainya, hanya ajarannya yang ditolak karena ada benturan dengan ajaran Nenek Moyang. Sampai menjelang hijrah ke madinah, Nabi SAW masih menjadi tempat penitipan barang dan harta kaum Quraisy.

Orang orang Quraisy secara umum adalah orang orang hanif yang mudah menerima Islam, paganisme sendiri baru muncul beberapa puluh tahun sebelum Rasulullah SAW lahir karena ajaran berhala yang dibawa para pedagang pendatang. Ajaran Islam dianggap ingin mengubah tradisi nenek moyang dan sistem berhala maka benturan terutama datang dari kalangan bangsawan.

Dalam 23 tahun berdakwah, Rasulullah SAW hanya fokus mengembalikan kearifan dan kehanifan ajaran Ibrahim AS sambil menata sebuah peradaban baru yang dibangun atas potensi potensi fitrah bangsa Arab dipandu Kitabullah. Selama itu Beliau tidak pernah sibuk membangun pencitraan dirinya, namun dicintai dan mencintai ummatnya dengan ikhlash.

Wahyu atau Nilai nilai Islam yang dibawa itulah yang menjadi local wisdom bagi peradaban barunya yang kelak dibawa keseluruh dunia. Dan sebagaimana para local leader lainnya, dirinyapun menjadi “local wisdom” berjalan atau diistilahkan Khuluquhul Quran – Akhlaq nya adalah alQuran.

Betapa pentingnya para Leader ini untuk lahir secara alamiah dari rahim sebuah desa, sebuah komunitas, nagari, kaum, bangsa, dstnya agar semata mata teruji dan terasah kepemimpinannya, maka Islam tidak merekomendasikan konsep Kerajaan dimana kepemimpinan cuma diwariskan atau diturunkan secara turun temurun. Simfoni indah Siroh Nabi SAW seolah ingin menunjukkan bahwa begitulah seharusnya pemimpin sejati dilahirkan.

Kepemimpinan yang diwariskan secara turun temurun sesungguhnya banyak menimbulkan kemudharatan bagi Ummat.

Memilih pemimpin adalah memiilih orang yang akan menjadi arsitek peradaban agar ummat bisa sustain selama ratusan tahun bahkan ribuan tahun.

Kini muncul sistem Demokrasi, yang dicangkok di negeri Muslim. Para Calon Pemimpin, kepemimpinannya diuji langsung lewat program kerja pada sebuah wilayah. Jelas sebagian besar mereka tidak punya “track record” membangun “peradaban” di wilayah itu, apalagi credibility record (mishdaqiyah) baik moral maupun karya solutif di masyarakat pada wilayah itu. Mereka mungkin punya karya namun dalam profesi atau bidang kehidupan yang lain.

Umumnya mereka digadang gadang oleh Partai Politik yang sistem kaderisasinya juga tidak berbasis pada ukuran karya solutif yang dihasilkan pada masyarakat di daerah terkait, bahkan umumnya bukan putra daerah yang sejak muda dikenal luas dengan karya solutifnya bagi ummat dalam teritori tsb.

Jadi pemimpin ala demokrasi ini, suka atau tidak, mohon maaf, hanya “untung untungan” saja sifatnya. Kalau baik ya alhamdulillah, kalau buruk ya astaghfirullah.

Ukuran latar belakang Pengusaha, Professor, Militer maupun Birokrat jelas tidak menjamin derajat kemampuan Kepemimpinan untuk membangun peradaban di wilayah itu.

Walau hari ini keterlibatan partisipasi publik dimaksimalkan dengan model open government, pengawasan kolektif via sosial media serta partisipasi kemitraan publik, tetap saja untung untungan.

Untunglah para Pemimpin Daerah ini sebenarnya bukan Pemimpin sungguhan, mereka hanyalah petugas negara yang digaji oleh uang rakyat. Jadi yang kita pilih sebagai kepala daerah itu, sebenarnya hanyalah kepala administratif yang mengurusi urusan adminsitrasi dan memfasilitasi pembangunan infrastruktur saja. Kepemimpinan mereka jarang sekali atau bahkan tidak pernah lahir dari rahim kearifan lokalitasnya.

Untuk masa depan, mari kita meloncat lebih maju, dari sekedar terlibat dalam partisipasi publik menuju kepada upaya melahirkan “the real local leader” kita sendiri dari komunitas kita sendiri, dari anak anak generasi peradaban kita sendiri, di setiap desa, di setiap komunitas, di setiap teritori tempat tinggal kita.

Mari kita didik fitrah anak anak kita agar tumbuh paripurna, dengan menginteraksikan potensi fitrah mereka itu dengan potensi keunggulan lokal, potensi alam setempat, kearifan lokal yang ada, serta realitas sosial dan problematika masyarakatnya lalu memandunya dengan Kitabullah.

Kelak akan lahir generasi peradaban baru anak anak kita yang tak lagi menengadahkan tangannya pada “kebaikan hati pusat kekuasaan atau para kepala administratif”.

Mereka, anak anak kita kelak, tahu betul bagaimana membangun peradaban desanya atau daerahnya melalui pendidikan dan pemberdayaan desanya atau daerahnya dalam teritori wilayahnya. Merekalah para Pemimpin Peradaban yang sejati bukan pemimpin karbitan.

Mereka sejak muda telah dipenuhi karya karya solutif bagi masyarakat dalam komunitasnya dan mereka bahagia melakukannya. Mereka jelas tidak membutuhkan pencitraan apalagi dukungan partai politik sekalpun.

Ya karena merekalah yang melanjutkan kepemimpinan para Nabi yang berakhlak mulia, para Kyai yang dicintai warganya karena karyanya dan para Local Community Leader yang arif di sepanjang sejarah.

Merekalah kelak yang akan memunculkan kembali khoiru ummah (the best community model) karena mereka adalah the real best local leader.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s