Oleh Bendri jaisyurrahman (twitter/IG : @ajobendri)

“Pelaut ulung tidak dilahirkan dari ombak laut yang tenang”

Ya, ini nasehat berikutnya buat lelaki pendekar. Jangan mimpi menjadi jagoan jika hidup terlalu nyaman. Ibarat gula, hidup yang terlalu manis akan mengakibatkan penyakit kronis. Nama penyakitnya ‘stroke jiwa’. Yakni jiwa yang mudah patah, lari dari masalah. Cenderung FLIGHT bukan FIGHT. Tidak siap menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapan.

Sekiranya ia menjadi suami, tentulah ia tipikal lelaki yang cengeng. Debt collector datang menagih utang, istri dijadikan tameng. Mentang-mentang istri mantan atlet taekwondo, ia tega membiarkan istri menghadapi algojo. Pun saat menjadi ayah. Gempa terjadi di rumah saat bersama keluarga, ia lari tunggang langgang selamatkan dirinya seorang saja. Anak dan istri dibiarkan bertahan selamatkan nyawa. Selfish. Bukan karena terbiasa selfie saat pemotretan, tapi emang udah tabiatnya kabur dari medan pertarungan.

Semua akibat ia tak dipersiapkan menjadi lelaki pendekar sedari awal. Saat muda, tak menyukai tantangan. Sembunyi di zona nyaman. Semangat kawin tak sebanding dengan jiwa petualangan. Mau enak tapi tak siap melalui duri dan onak. Dipikirnya kalau nikah selamanya bulan madu, padahal ada masa dimana pernikahan diuji dengan racun dan empedu.

Ini tentu bukan untuk nakut-nakutin. Lagipula lelaki pendekar itu gak gampang ditakut-takutin. Fearless. Setiap resiko siap dijalani. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Berani menikah, siap hadapi segala masalah yang muncul setelahnya. Dan itu semua nampak dari perjalanan hidupnya. Telah matang oleh banyak pengalaman. Episode hidupnya adalah kisah petualangan. Inilah jalan juang lelaki pendekar. Hingga mengantarkannya menjadi pribadi pendekarable. Siap menjadi lelaki pendekar, peduli anak dan keluarga.

My Trip Is My Adventure

Sejenak kembali tengok kisah sang nabi. Model utama sosok lelaki pendekar. Dibesarkan di sebuah suku yang terbiasa jalan-jalan, yakni suku Quraisy. Bahkan ini adalah sebuah tradisi turun temurun, dimana mereka suka travelling tak kenal musim. Baik musim panas maupun musim dingin. Terbiasa bergerak mencari petualangan ke berbagai negeri.

Tak heran, Rasulullah muda pun telah menjadi sosok traveller. Di usia yang terbilang belia yakni 10 tahun sudah menempuh perjalanan jauh ke negeri Syam dengan berjalan kaki hingga ribuan kilometer mendampingi sang paman. Lebih dahsyat dari kafilah Ciamis yang berjalan kaki hingga menjadi motor penggerak dalam Aksi Bela Islam. Rasul muda sudah terbiasa melakukan itu.

Dan efek dari travelling melatih Rasul menjadi pribadi yang tangguh. Siap melewati berbagai kesulitan. Terlatih mencari solusi di tengah masalah yang dihadapi. Dan yang utama, seorang petualang adalah pribadi yang mandiri. Ia bukan layaknya pelancong atau turis yang semuanya serba dilayani dan disediakan. Saat fasilitas kurang nyaman, ia baperan. Curhat di sosial media minta dukungan. Sungguh teramat beda antara petualang dengan turis sebagaimana juga beda antara pejuang dan oportunis.

Kebiasaan travelling sedari muda bagi seorang lelaki memberi pengaruh dalam membangun rumah tangga. Ia menjadi kapten yang tangguh bagi keluarganya. Tidak mudah berkeluh kesah atas kekurangan pasangan. Baginya, pernikahan adalah perjuangan. Bukan sekedar bersenang-senang. Ia berjuang membawa seluruh anggota keluarga untuk kumpul bersama di surga. Berjuang mengalahkan ego yang kerap abaikan perasaan istri. Berjuang untuk tidak mengikuti perangkap setan saat konflik rumah tangga terjadi. Sebelum menikah ia dipersilahkan memilih pasangan ‘karena’. Namun setelah menikah ia berusaha mencintainya ‘walaupun’. Ya, ‘walaupun’. Sebuah kata yang menunjukkan ketangguhan, buah dari pendidikan selama travelling atau jalan-jalan. Walaupun banyak hambatan, perjalanan ini harus sampai tujuan. Tidak surut dan pantang pulang.

Magang ‘Perang’

Sebakda nabi Muhammad muda ditempa kebiasaan untuk melakukan perjalanan jauh lagi melelahkan, ternyata ‘training’ baginya belum usai. Allah mendidiknya siap menjadi lelaki sejati melalui peperangan yang terjadi di kaumnya. Perang Fijar. Dimulai dari konflik yang terjadi antara Bani Kinanah dengan Kabilah Qais. Dalam situasi tersebut, Rasul muda tak tinggal diam, terlebih kabur menghindar. Beliau ikut serta meski statusnya hanya ‘magang’. Rasul bertugas memunguti anak panah untuk diberikan kepada pamannya.

Inilah tarbiyah Allah kepada lelaki pendekar sejati : “dimagangkan dalam situasi perang”. Pengalaman sebagai pengamat atau observer memberikan gambaran akan kehidupan yang mungkin terjadi di masa depan. Perang di masa itu adalah keniscayaan. Bagian dari kehidupan yang kerap dilalui saat dewasa. Dan Rasul tidak terkaget-kaget saat situasi tersebut benar-benar terjadi. Siap memasuki kehidupan orang dewasa yang penuh tantangan. Bahkan unggul di masanya.

Lelaki pendekar menjadi juara karena punya pengalaman yang penuh heroik di masa muda. Ia bukan orang yang hanya berkutat dengan segudang teori tapi minim aplikasi. Ia jadikan hari-harinya penuh dengan aktifitas layaknya orang dewasa, meski usia masih muda. Mulai dari berdagang, aktif dalam aksi keummatan, terlibat dalam kegiatan sosial, rapat-rapat penuh diskusi bersama orang hebat, sebagai bagian dari pematangan jiwa agar siap sepenuhnya menjadi dewasa.

Inilah proses pendewasaan yang harus dilalui lelaki pendekar. Wujudnya nampak dalam sikap. Meski belia namun bersikap dewasa. Bukan sekedar bisa beradegan dewasa. Di saat rekan sejawat sibuk puaskan syahwat, ia berjuang tuk torehkan sejarah hebat. Berpikir dan bertindak melampaui usia biologisnya. Meski masih menjadi figuran dalam panggung kehidupan, sejatinya ia telah menjalani banyak lakon dan peran. Bekal untuknya agar mumpuni saat diminta menjadi pemeran utama. Yup, pernikahan adalah panggungnya kelak. Dan ‘qowwam’ adalah peran utama yang kelak akan disandangnya.

Masa training yang panjang dengan waktu yang lama adalah keniscayaan yang harus dilalui lelaki pendekar. Pantang menyerah. Terlebih tergoda untuk masuk perangkap zona nyaman. Memilih turun panggung dan puaskan diri di depan layar guna bermain game. Alhasil, berkeluarga kelak dijalaninya dengan main-main. Padahal ini rumah tangga bung, bukan ular tangga. Mumpung masih muda, bukan jadi alasan berleha-leha. Perbanyak karya tanpa harus masuk partai golongan karya. Rumit? Memang, namanya juga rumah tangga. Kalau mau sederhana, itu rumah makan (bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s