Film Iqro dan Pendidikan Islam di Indonesia

Harry Santosa – Millenial Learning Center
3 Feb 2017

Pertengahan tahun 1980an, dunia Islam di Indonesia, demam konsep Ulil Albab (istilah ini diambil dari QS 3:190-191). Sampai ada pesantren yang diberinama Ulil Albab di Bogor yang didirikan oleh beberapa cendekiawan Muslim.

Kesadaran melahirkan sosok cendekiawan Muslim yang “berotak Jerman dan berhati Mekah” sedikit banyak dipicu oleh kebanggan atas munculnya sosok BJ Habibie tahun 1980an dengan program teknologi strategisnya dan ICMI.

Di luar negeri, tak kalah ramai, isu “Islamization knowledge” (Islamisasi Pengetahuan) juga menjadi tema yang dibahas di kalangan cendekiawan muslim. Walau sampai hari ini masih belum tuntas bagaimana bentuk Islamisasi Pengetahuan. Pakar yang banyak mendalami ini semisal Prof Dr Naquib Alattas, Prof Dr Ismail alFaruqi dsbnya.

Munculnya buku AlQuran, Bible dan Sains karya Maurice Bucaile seorang ahli bedah, Mualaf Perancis, semakin menguatkan konsep ini. Belum lagi diperolehnya hadiah Nobel oleh Prof Abdussalaam, seorang Profesor dari Pakistan yang mengimplementasikan konsep Tauhid pada hukum Fisika, dan ini juga terjadi pada kisaran tahun yang sama.

Keinginan besar Ummat Islam ketika itu untuk memunculkan tokoh tokoh Cendekiwan Muslim, berwujud pada model pendidikan yang didirikan. Di Indonesia, model pendidikan ini berslogan “Imtaq Iptek”, memadukan iman taqwa dan ilmu pengetahuan teknologi.

Ini semua di atas, nampaknya menjadi tonggak kelahiran model pendidikan Islam Terpadu seperti Masjid Salman di Bandung tahun 80an dan kemudian diikuti oleh Nurul Fikri di Depok tahun 90an awal.

Nurul Fikri ini menjadi kiblat sekolah sekolah Islam terpadu pada hari ini. Sekolah Islam Terpadu (SIT) kini terafiliasi dalam Jaringan SIT. Terpadu yang dimaksud sesungguhnya memadukan alQuran dan Sains, yang sampai hari ini masih berwujud akumulasi akademis umum dan akademis Islam.

Masjid Salman Bandung dengan semangat Techno dan Islamnya para mahasiswa dan alumni ITB, telah menjadi lompatan pendidikan islam di Indonesia.

Bahkan, bang Lendo Novo, konseptor Sekolah Alam memulai perenungannya dari konsep yang sama dengan beberapa penyempurnaan pada tahun 90an akhir. Kini Sekolah Alam tergabung dalam Jaringan Sekolah Alam Nusantara.

Kini, tak terasa, sudah hampir dua dekade model pendidikan yang memadukan Islam dan Sains mendominasi jagad pendidikan Islam di Indonesia, terutama untuk kalangan menengah.

Beberapa model pendidikan Islam yang lama seperti Pendidikan ala Muhammadiyah dan NU tentu masih bertahan. Beberapa model pendidikan yang baru juga lahir, seperti Kuttab yang mengklaim digali dari Siroh maupun Sejarah Islam dan fokus pada alQuran dan Adab. Yang terakhir ini nampak kurang berminat atau tidak fokus pada Sains (ayat Kauniyah).

Tulisan ini tidak bermaksud mengkritisi, namun memandang konsep pendidikan Islam ala Salman dari persepektif pendidikan Peradaban atau pendidikan berbasis fitrah.

Film Iqro’ dalam Tinjauan Pendidikan berbasis Fitrah

Film Iqro’ yang diproduksi Salman, tahun 2017, semakin menunjukkan kekonsistensian model pendidikan Ulil Albab yang digagas Salman Bandung, yaitu memadukan Islam dan Sains atau Imtaq dan Iptek. Mengaji (AlQuran) dan Mengkaji (Sains) menjadi tema sentral di film ini.

Tokoh di dalam film ini, Aqila, berusia Sekolah Dasar, kisaran usia 7-10 tahun. Sejalan dengan film ini, bahwa gairah fitrah belajar dan bernalar mengalami puncaknya pada usia 7-10 tahun. Anak di usia ini sangat kritis dan umumnya merupakan pembelajar yang tangguh.

Namun sebagaimana kebanyakan keluarga Muslim maupun model pendidikan Muslim pada hari ini, mendorong gairah anak untuk fitrah belajar dan bernalarnya, tidak dibarengi mendorong gairah anak untuk fitrah keimanan dan fitrah lainnya. Meskipun ada pula yang sebaliknya, mendorong Fitrah Keimanan namun mengabaikan fitrah belajar dan bernalarnya.

Inilah barangkali yang ditangkap oleh sang Kakek, bahwa fitrah belajar dan bernalar Aqila yang menggebu gebu harus disertai tumbuhnya fitrah lainnya terutama fitrah keimanan.

Karenanya Aqila diminta mengaji atau mempelajari alQuran lebih dahulu untuk menyeimbangkan gairahnya pada pembacaan ayat Kauniyah (Sains) dan gairahnya pada pembacaan ayat Qouliyah (AlQuran). Dengan perkataan lain menyelaraskan fitrah keimanan dengan fitrah belajar dan bernalar.

Usia 7-10 tahun adalah masa emas bagi fitrah belajar dan bernalar, karenanya secara fitrah keimanan, pendidikan fase usia 7-10 tahun (usia SD), adalah mendorong nalar (nazhor) memahami keteraturan hukum Allah di alam semesta agar Tauhid Mulkiyatullah, bahwa Allah sebagai Sang Pembuat Hukum (Hakiman) dan Allah sebagai Zat yang diberi Loyalitas Tunggal (Waliyan) bertemu dengan kemampuan belajar dan bernalar anak yang mulai memahami hukum gerak di alam semesta.

Karenanya interaksi terbaik bagi Fitrah Belajar dan Bernalar adalah dengan “belajar dan bernalar bersama alam” secara langsung sebagaimana Ulil Albab adalah orang yang senantiasa memikirkan ayat ayat Allah di alam semesta pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam.

Sebagai catatan bahwa dalam pandangan Siklus Peradaban, secara empiris, kehebatan Intelektual baru muncul setelah kebangkitan spiritual. Itulah mengapa fitrah keimanan ini baik secara personal maupun komunal sebaiknya tumbuh lebih dulu dan kemudian menjadi titik tumpu yang kelak mewarnai semuanya. Dalam prakteknya tentu semua aspek fitrah harus tumbuh bersamaan.

Ulil Albab hanyalah sebuah peran yang lahir karena tumbuhnya Fitrah Keimanan dan Fitrah Belajar Bernalar dengan hebat. Namun di masa kini muncul kesadaran bahwa peran Ulil Albab bukanlah segalanya, ada setidaknya 8 aspek fitrah internal manusia yang perlu ditumbuhkan dan 3 aspek fitrah eksternal yang perlu diinteraksikan.

Misalnya, apa jadinya jika “berotak Jerman dan berhati Mekkah” namun tidak jelas bakatnya atau tidak punya peran spesifik sesuai bakatnya dalam bidang kehidupan. Menjadi Ulil Albab adalah peran universal sebagai akibat dari fitrah belajar dan bernalar yang tumbuh hebat. Namun peran spesifik peradaban harus dimiliki anak anak kita.

Apapula jadinya jika fitrah individualitas dan sosialiasnya tidak tumbuh, tentu akan bermasalah dalam peran Imam dan Makmum dalam kerja berJamaah. Belum lagi jika fitrah seksualitasnya tidak tumbuh, maka kelak akan melalaikan peran keayahan atau keibuannya.

Pendidikan tidak cukup melahirkan Human Thinking dan Human Doing, namun sebaiknya menghasilkan Human Being, yaitu manusia seutuhnya yang semua aspek fitrahnya tumbuh paripurna.sehingga menjadi peran peran terbaik peradaban dengan adab mulia.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s