Harry Santosa
February 1, 2017

Bagaimana jika fitrah anak anak kita terlewat ditumbuhkan pada tahap usia sebelumnya?
Bagaimana jika ada fitrah yang “cidera” akibat tindakan obsesif kita di masa lalu?
Apakah pendidikan fitrah ini hanya berlaku untuk anak anak, bagaimana dengan orang dewasa yang fitrahnya telah menyimpang?

Sesungguhnya sepanjang hidup manusia, momen dan kesempatan kembali ke fitrah selalu ada. Fitrah pada ghalibnya tidak bisa berubah atau rusak, yang ada adalah terkubur, tersamar, tersimpangkan dari sisi penggunanya atau manusianya namun bukan fittahnya itu sendiri.

Fitrah itu tetap begitu. “Tetaplah pada fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tiada perubahan atas fitrah Allah (Laa tabdila likholqillah). ”

Tentu saja menumbuhkan semua aspek fitrah sesuai tahap usia akan jauh lebih mudah daripada melakukan recovery atas fitrah yang sudah terlewat ditumbuhkan atau menyimpang atau “cidera” karena terlalu banyak intervensi lebay di masa lalu. Karenanya menjadi penting dan utama merawat dan menumbuhkan fitrah ini sesuai tahapan usianya.

Yang perlu juga menjadi catatan, mengapa kita perlu membersamai anak dan melakukan observasi sehari demi sehari, karena umumnya banyak kelalaian dalam merawat atau menumbuhkan fitrah ini justru nampak pada fase usia setelahnya.

Misalnya anak yang malas sholat atau sholatnya “mekanistik” pada usia di atas 7 tahun atau menjelang aqilbaligh bahkan setelahnya, ini diakibatkan terlewat menumbuhkan gairah cinta kepada Allah (fitrah keimanan) di bawah usia 7 tahun karena banyak hal seperti terlalu fokus pada mengajarkan bacaan dan hafalan, tidak memahami fitrah perkembangan manusia dsbnya.

Misal lainnya, anak yang bingung bakatnya (fitrah bakat) ketika menjelang bahkan setelah aqilbaligh, ini umumnya diakibatkan terlewat mengamati sifat unik pada usia di bawah 7 tahun dan terlewat memberikan aktifitas yang relevan dengan sifat unik itu di usia 7 – 14 tahun. Bisa juga diakibatkan terlalu lebay melabelkan anak dengan bakat tertentu atau fokus pada prestasi akademis atau memberikan aktifitas yang tidak relevan dstnya.

Demikian juga dengan fitrah lainnya, seperti fitrah seksualitas yang terlewat akan nampak pada perilaku seksual yang menyimpang. Fitrah individualitas yang terlewat atau menyimpang akan nampak dari percsya diri yang buruk atau perilaku sosial yang buruk dstnya.

Kita yang sudah menjadi orangtua pastinya merasakan betapa sulitnya mengembalikan gairah cinta kepada Allah apalagi gairah menyeru manusia kepada Tauhid (fitrah iman), menemukan kembali bakat apalagi mengembalikan peran sejati dalam hidup (fitrah bakat), mengembalikan gairah menjadi ayah atau ibu sejati (fitrah seksualitas) dstnya.

Lalu bagaimana mengembalikan atau merecovery fitrah fitrah yang cidera atau menyimpang?

1. Yakinlah bahwa Allah selalu memberikan jalan untuk mengembalikan fitrah kita sepanjang hidup kita. Islam bahkan secara simbolis punya syariah “kembali ke fitrah” (Iedul Fitri) setiap 1 Syawal, setelah menjalani Pendidikan (Tarbiyah) bernama Ramadhan yang membalikan semua proses kehidupan dari rutinitas kepada kesadaran. Ramadhan adalah bulan Pembakaran (penyadaran) dan Syawal adalah bulan peningkatan (pacuan).

2. Mengulang prosesnya secara alamiah. Misalnya anak yang malas sholat di usia menjelang aqilbaligh, maka diulang proses penumbuhan fitrah keimanannya dengan kembali membangun gairah cintanya kepada Allah dengan keteladanan dan suasana keshalihan yang lebih berkesan dan bermakna, bukan fokus kepada masalahnya. Meng “Homestay” kan (di rumah orang shalih), memberikan pendamping spiritual (Murobby) akan sangat baik.

Misalnya, anak yang bingung bakatnya, maka diulang prosesnya, dengan kembali melacak sifat uniknya kefika kecil, lalu perlahan menjalani aktifitas yang relevan dengan sifat unik ini sehingga bertemu dengan aktifitas yang Enjoy, Easy, Excellent dan Earn. Baru kemudian bicara pengembangan aktifitas produktifnya ini menjadi peran spesifiknya.
Ini berlaku untuk semua aspek fitrah. Pahami framework pendidikan berbasis fitrah (lihat gambar) untuk membantu memudahakan proses ini.

3. Bertawakalah atas hasilnya. Setiap orang berbeda hasil dan progresnya tergantung apa apa yang datang kepadanya, baik hidayah, pengetahuan dan hikmah, orang orang yang mendukung di sekitarnya, derajat keshabaran dan kesyukuran dstnya. Karenanya banyaklah mensucikan diri (tazkiyatunnafs) yaitu menguatkan tekad dan janji janji kepada Allah (mu’ahadah), memperbanyak mendekat kepadaNya (muroqobah), melakukannya dengan penuh imanan (keyakinan/ prinsip) dan ihtisaban (muhasabah/evaluasi), bersungguh sunguh berusaha mengembalikan semua aspek fitrah ini (mujahadah).
Selamat kembali ke Fitrah.

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s