Anonim
KORAN SINDO, 09 September 2014

Sudah sekitar 33 tahun saya bekerja dan bergelut di dunia telekomunikasi Indonesia. Selama itu pula saya telah mengalami evolusi sarana telekomunikasi itu.

Dari mulai hanya ada telepon rumah yang tergolong barang mewah hingga kemudian muncul ponsel yang terjangkau banyak orang. Dari ketika tarif telepon seluler begitu mahalnya hingga sekarang demikian murahnya dan dapat dinikmati siapa saja. Dari komputer yang masih berupa word processor yang hanya satu kantor satu unit hingga kini setiap anak sekolah di perkotaan memiliki komputer jinjing sendiri. Meski begitu, saya merasa masih berutang untuk dunia telekomunikasi ini.

Dari lubuk hati terdalam, saya masih ingin ikut memperjuangkan agar setiap orang di negeri ini bisa mengakses internet dan menimba manfaatnya. Saya yakin sepenuhnya, internet memiliki manfaat sangat besar yang sangat mungkin salah satu modal bagi republik ini untuk melakukan lompatan besar guna menyejajarkan diri dengan negara-negara maju. Karena itu, dengan kapasitas yang saya miliki saat ini, saya ingin setidaknya ikut mendorong tersedia layanan akses internet yang tidak hanya canggih, tapi juga berkualitas.

Meski layanan internet memang sudah sangat memasyarakat di Indonesia, hanya sebagian kecil masyarakat yang sudah mampu menimba manfaatnya secara maksimal. Dari segi harga sebetulnya internet sudah terjangkau, malah termasuk salah satu yang termurah di dunia. Namun, sudah menjadi rahasia umum, kualitasnya belum baik, kecepatan kurang memadai, dan kalaupun sudah ada peningkatan, belum merata di semua daerah.

Ada beberapa hal pokok yang perlu dilakukan untuk mewujudkan layanan internet berkualitas yang memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Pertama, menambah frekuensi yang cocok untuk internet. Saat ini masyarakat memanfaatkan internet masih sebatas untuk layanan yang tidak banyak memakan kapasitas. Masih sebatas kirim e-mail dan layanan bersifat teks maupun gambar.

Belum banyak yang mengakses layanan video. Namun, ke depan saya yakin pola konsumsi layanan internet ini akan berubah sebagaimana terjadi di negara-negara lain, layanan video telah banyak diakses, lebih dari 40%-nya. Karena itu, saya yakin kita membutuhkan tambahan frekuensi untuk internet. Frekuensi yang sudah dialokasikan saat ini tidak akan cukup untuk menyediakan layanan yang berkualitas pada masa mendatang.

Tanpa tambahan frekuensi, tidak akan lama lagi kualitas internet kita akan semakin menurun. Selain itu juga perlu didorong penyediaan dan pengembangan infrastruktur internet broadband. Layanan jaringan internet kabel atau fiber optik ini kalah populer dibandingkan jaringan mobile dan masih terbatas di perkotaan. Padahal, secara kualitas, jaringan internet jenis ini lebih baik, lebih cepat dan stabil.

Infrastruktur ini sangat terkait butir berikut yaitu pola akses. Kedua, mengubah pola akses internet masyarakat. Seperti yang telah kita pahami, akses internet bisa dilakukan melalui dua jenis jaringan yaitu nirkabel (mobile internet) dan kabel (broadband internet) . Namun, berbeda dengan di negara-negara maju, di Indonesia akses internet lebih banyak dilakukan melalui jaringan mobile alias menggunakan ponsel.

Kenyataan ini memunculkan ketimpangan yang berarti dan berisiko. Bayangkan saja, jumlah pengguna aktif internet melalui jaringan seluler, alias mengakses melalui ponsel, ini hanya sekitar 3% dari seluruh pengguna layanan seluler. Namun, yang hanya 3% ini menghabiskan 40-50% kapasitas jaringan seluler.

Mengapa bisa begitu? Mereka menggunakan ponsel termasuk untuk mengakses layanan yang membutuhkan kapasitas besar seperti download video. Seharusnya akses untuk layanan internet dengan kapasitas besar, terutama dari perumahan, dilakukan melalui jaringan broadband. Inilah yang terjadi di negara-negara lain.

Selain memiliki kemampuan lebih cepat, jaringan internet rumah yang menggunakan kabel atau fiber optik ini juga lebih stabil sehingga cocok untuk mengunduh/mengunggah konten berkapasitas besar. Namun, harus kita pahami kendala masyarakat untuk bisa menggunakan layanan internet rumah. Selain tarifnya yang masih tergolong tinggi untuk masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, layanan broadband juga masih sebatas tersedia di wilayah perkotaan.

Jika pola penggunaan internet ini bisa disesuaikan antara kebutuhan dan jenis jaringannya yang tepat, beban yang ditanggung jaringan seluler akan berkurang sehingga bisa ditingkatkan kualitasnya. Ketiga, kebijakan pemerintah yang tepat. Saya sangat mengapresiasi usaha pemerintah dalam memeratakan layanan internet hingga ke tingkat perdesaan.

Usaha tersebut patut terus didorong mengingat besarnya kebutuhan atas akses internet pada tahun-tahun ke depan. Kebijakan terkait pemerataan layanan internet ini juga perlu diserasikan dengan kebijakan industri. Dengan demikian, kalangan industri bisa terus memberikan dukungan tanpa kehilangan kesempatan mengambangkan usahanya. Dengan memperhatikan kepentingan pelaku industri untuk tetap bisa bertahan dan berkembang, tarif internet juga tidak perlu gratis.

Cukup bisa terjangkau masyarakat luas. Jikagratis, dampaknya bisa mematikan pelaku usaha. Padahal, pemerintah membutuhkan peran pelaku usaha untuk ikut menyelenggarakan layanan internet berkualitas hingga ke pelosok daerah.

Memelopori Mobile Office

Sekitar lima tahun silam mantan bos saya, salah satu Direktur Indosat Alm Bapak Soemitro Rustam, mengatakan, lalu lintas akan semakin padat dan harga bahan bakar (BBM) semakin mahal. Beliau menyarankan untuk memulai memopulerkan home office yaitu bekerja dari rumah. Ide menarik, namun juga riskan karena dibutuhkan dua hal, internet berkualitas dan karyawan profesional.

Apa yang beliau sampaikan kini menjadi kenyataan. Ketika artikel ini ditulis, hampir semua media massa sedang mengangkat berita kelangkaan BBM dan kemungkinan pemerintah yang baru akan menaikkan harganya. Kemacetan memang menjadi keseharian masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Namun, jika semakin parah dan mulai memengaruhi produktivitas, perlu dicarikan jalan keluar. Mari kita hitung.

Jika rata-rata karyawan harus menghabiskan waktu 1,5 jam di jalan dari rumah untuk menuju kantor dan dengan waktu sama untuk pulang, setidaknya ada tiga jam yang hilang dalam sehari. Padahal itu terjadi di waktu yang produktif. Kami di XL berencana secara bertahap mencoba menerapkan home office tersebut. Secara bergantian karyawan akan mendapatkan kesempatan bekerja dari rumah.

Kami telah melakukan pengamatan dan menghitung waktu keharusan karyawan hadir di kantor. Kami yakin, home office bisa diterapkan tanpa mengurangi kinerja karyawan. Saya bahkan memberikan apresiasi tinggi kepada karyawan XL, yang meski tanpa perlu pengawasan yang berarti, ternyata tetap bekerja dengan dedikasi tinggi. Mereka sangat profesional, modal lain selain internet untuk suksesnya program home office. Saya justru percaya, home office bisa meningkatkan motivasi kerja karyawan.

Mereka tidak perlu capek dan membuang waktu di tengah kemacetan. Mereka bisa bekerja di rumah sambil bersama keluarganya. Saya merasa terkadang lebih produktif ketika tidak berada di kantor karena pikiran lebih terbuka. Untuk menerapkan itu, kami mulai menyiapkan sarana dan prasarananya.

Antara lain koneksi internet bagus, yang memungkinkan karyawan tetap bisa terakses dengan jaringan kantor. Semoga bisa kami terapkan dalam satu atau dua tahun ke depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s