Harry Santosa – Millenial Learning Center

Pak Budi, bukan nama sebenarnya, memasukkan anak lelakinya, Umar, yang berusia 6 tahun ke “pesantren”. Kata pesantren diberi tanda kutip karena pesantren masa kini berwujud sekolah berasrama atau boarding school ala barat bahkan tanpa sosok Kyai yang hadir dalam keseharian dan layak diteladani dalam segalanya.

Dalam pandangan pak Budi, anaknya itu nakalnya minta ampun, tidak pernah bisa diam, selalu bergerak, ceriwisnya bikin pusing kepala dstnya. Belum lagi lingkungan di luar rumah yang dianggapnya buruk dan bisa mempengaruhi anaknya.

Di zaman penuh kerusakan begini, maka di pesantren, menurut pak Budi, anaknya akan “terlindungi”, mendapat lingkungan agamis dan pendidikan agama yang baik, jauh lebih baik dari kemampuan agama yang ada pada dirinya. Maka keinginannya sudah bulat untuk memesantrenkan anaknya.

Di belahan Indonesia lainnya, pak Charlie, bukan nama sebenarnya, ingin anaknya menjadi jenius sejak dini. Maka “learning” menjadi tema besar mendidik anak anaknya. Tiada hari tanpa belajar, belajar dan belajar bagi semua anak anaknya.

Rumahnya di sulap menjadi tempat belajar terbaik di muka bumi dengan akses pengetahuan 24 jam sehari. Dalam benaknya, tujuan pendidikan adalah mencetak generasi pembelajar yang tangguh.

Di zaman penuh kompetisi dan tantangan ini maka menjadi cerdas menguasai berbagai pengetahuan dan keterampilan adalah syarat kesuksesan hidup di abad 21. Semua gaya belajar anak anaknya telah terpetakan untuk siap menelan semua pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan abad 21.

Di belahan bumi Indonesia yang lain, pak Dodo, bukan nama sebenarnya, fokus saja pada bakat anak anaknya. Beliau memfasilitasi bakat semua anak anaknya. Pemetaan bakat dan kurikulum berbasis bakat serta pemagangan bakat menjadi pusat perhatiannya.

Dalam benak pak Dodo, jika anaknya hebat dalam bakat maka masa depan anak anaknya akan menjadi terjamin. Di abad 21 ini talenta sangat penting bukan sekedar skill dan knowledge semata.

Tiga contoh di atas barangkali banyak mewakili prototipe para orangtua yang sangat peduli pada pendidikan anak anaknya namun seringkali terjebak untuk menumbuhkan sebagian fitrah saja, padahal semua fitrah harus tumbuh bersamaan dan serasi sesuai tahapannya dan misinya melahirkan insan kamil yang memiliki peran peradaban. Insan kamil adalah representasi manusia yang semua fitrahnya tumbuh paripurna.

Sesungguhnya fitrah adalah benih peradaban, yang dengan itu Allah bekalkan manusia untuk mencapai peran peradaban terbaiknya. Untuk itu, benih ini perlu ditumbuhkan melalui pendidikan berbasis fitrah yang dipandu sistem hidup yang fitri atau Kitabullah.

Tanpa pendidikan berbasis fitrah yang komprehensif meliputi semua fitrah maka fitrah ini bisa tidak tumbuh indah menjadi pohon yang baik (syajarotu thoyyibah) yang berbuah akhlak yang lebat, bahkan bisa tersimpangkan atau terkubur.sebagaimana kita saksikan hari ini bagaimana rentan dan mandulnya generasi muda di seluruh dunia.

Barangkali perlu diingat bahwa fitrah manusia tentu bukan hanya terkait dengan salah satu fitrah saja, tetapi meliputi fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah sosial, fitrah seksualitas, fitrah estetika dstnya, yang kesemuanya mesti tumbuh terpadu dan terintegras sesuai fitrah tahapan perkembangan manusia menuju peran peradaban.

Maka jika ada orangtua atau pendidik yang fokus menumbuhkan fitrah belajar anak anaknya saja namun lalai dengan fitrah lainnya, maka akan berujung pada kemampuan belajar yang hebat namun galau dengan peran dan bisa saja bermasalah pada akhlak, seksualitas dan sosialnya.

Maka jika ada orangtua dan pendidik yang fokus saja pada fitrah bakat namun lupa membangkitkan fitrah lainnya, maka mungkin akan tampil anak anak yang punya peran hebat namun kedodoran akhlaknya, berpeluang menjadi gay dsbnya.

Maka jika ada orangtua dan pendidik yang fokus pada fitrah keimanan anak anaknya tetapi menelantarkan fitrah lainnya, maka bukan tidak mungkin keimanannya kelak akan tergerus ketika tumbuh menjadi pemuda galau tanpa bakat, tidak kreatif karena fitrah belajarnya meredup, cenderung menyimpang orientasi seksualnya karena fitrah seksualitasnya tidak tumbuh utuh sejak dini dsbnya.

Maka fitrah fitrah ini, kesemuanya harus ditumbuhkan secara terintegrasi paripurna dipandu Kitabullah dan ditangan orang orang terikhlash yang ada di muka bumi yaitu para orangtuanya dan pendidik sejatinya.

Juga perlu diingat bahwa manusia punya tujuan penciptaan di muka bumi, maka fitrah manusia di atas juga perlu diinteraksikan dengan bumi atau dimana anak anak kita ditakdirkan tinggal agar menunaikan peran rahmatan lil alamin, fitrah manusia juga perlu diinteraksikan dengan kehidupan dan zaman dimasa mereka ditakdirkan hidup agar menunaikan peran solution maker (bashiro wa nadziro).

Dan kesemuanya itu harus dilingkupi oleh sistem hidup yang fitri agar tujuan penciptaan sebagai Hamba Allah, Khalifah, imaroh dan Imama akan tercapai paripurna.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasispotensi
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s