Anak Di”Bully”

Harry Santosa
January 27,2017

Seorang adik kelas di SMA, sekarang jadi artis pemusik sukses terkenal, pernah bercerita bahwa dia dulu suka dibully bahkan pernah “diseret dan digebukin” di “warung” belakang sekolah. Itu warung memang warung kebanggaan para pembully yang merasa menjadi elite dan merasa dirinya penguasa sekolah. Anak anak sok bandel juga disitu “ngetem” nya.

Karenanya, artis itu sebel banget kalau adik adik SMA nya datang ke tempatnya untuk menagih “sumbangan alumni”. Dia dengan sewot bilang, “Wong saya ga bangga kok sekolah di situ”.

Sepotong cerita di atas mungkin membawa kita melayang layang ke masa di SMA, bisa jadi ada cerita yang sama. Kisah di atas bisa mengalirkan banyak analisa dan imajinasi di kepala kita, apalagi bagi mereka yang anaknya juga mengalami pembullyan.

Teman seangkatan saya di SMA belum lama juga curhat, anaknya mogok sekolah karena di bully. Usianya padahal sudah 15 tahun. Empati punya empati, teman saya bercerita bahwa anaknya itu super sensitif, moody atau istilah sekarang “baperan”.

Hmm kesimpulan cepatnya bahwa ternyata memang karakteristik personality seperti “seniman” yang melow, sensitif, baperan dsbnya umumnya sangat rentan dibully.

Sebenarnya “sifat seniman” itu “gue banget”, hanya saja dulu saya masih lumayan rasional, jadi mensiasati dengan masuk Club Tae Kwondo lalu otomatis menjadi Sie Keamanan di OSIS, nah selesai masalahnya. Siapa sih yang berani membully Sie Keamanan? Wong orang orang di sie keamanan ini yang suka membully kok. 😉

Ada nasehat bagus untuk para penjahat, bahwa persembunyian terbaik adalah di kantor polisi. Nasehat yang sama untuk para polisi, bahwa persembunyian terbaik ada di kantor penjahat. Just kidding!

Ayah Bunda yang baik,

Tentu analisa di atas, bahwa karakteristik seniman mudah di bully, sebenarnya hanya temuan awal, kita harus menggali lebih jauh lagi, lebih empati dan mengakar tentunya.

Dalam banyak kasus Bully yang terjadi, umumnya para penasehat langsung meloncat ke solusi tanpa menggali akar masalahnya lebih empati, misalnya mereka menasehati bahwa anak yang dibully disuruh berani melawan, orangtua mendatangi sekolah untuk mendorong sekolah membuat aturan ketat atau orangtua pembully disidang dan si pembully diancam dikeluarkan dstnya.

Solusi seperti di atas akan menimbulkan masalah baru lagi. Jadi teringat PT KAI, beberapa tahun lalu penumpang KRL Jabodetabek terkenal sangat hobby duduk di atas atap kereta.

Lalu PT KAI fokus dan sibuk pada masalahnya. Solusinya tidak mengakar, mereka menugaskan Polisi Khusus untuk menghalau mereka yang duduk di atas atap kereta, memasang kawat berduri di atas peron, untuk menutup celah para pemanjat atap kereta, memberi sangsi dan hukuman keras bagi yang tertangkap dstnya.

Walhasil para penganut Sekte Atap Kereta makin berani, tidak ada yang jera dengan hukuman. Jangankan hukuman, bahkan kematian para alumninya karena tersambar listrik, terowongan maupun billboard tidak juga membuat mereka jera.

Belakangan PT KAI tidak lagi disibukkan dengan masalahnya, tetapi fokus pada kebutuhan pelanggan. Ooo… ternyata pelanggan menginginkan kereta yang bersih, nyaman, aman, tepat waktu, sejuk ber AC dll termasuk stasiunnya.

Ketika PT KAI fokus pada potensinya dan kebutuhan pengguna, lihatlah hari ini, para penumpang emoh di atap kereta, lha wong di dalam sejuk, nyaman, bersih, tepat waktu dan murah pula.

PT KAI telah kembali kepada “fitrah”nya sebagai transportasi massal yang ramah, cepat, nyaman, aman, bersih, tepat waktu, maka kemudian selesailah semuanya.

Ayah bunda yang baik,

Ketika segala sesuatu kembali kepada fitrahnya maka akan kembali damai dan harmoni.
Kaidahnya “Masalahmu bukan di luar sana tetapi ada di dalam kepalamu dan diseputar dirimu”
“Fokuslah pada potensinya bukan pada masalahnya”

Sesungguhnya anak anak yang rentan atau mudah dibully atau anak yang suka membully, memiliki

1. Sifat Unik tertentu yang menyebabkan mudah dibully atau mudah membully. Ingat bahwa sifat unik ini merupakan kelemahan sekaligus kekuatannya. Anak yang memang memiliki sifat super sensitif atau empati yang sangat tinggi umumnya mudah di bully. Sebaliknya anak yang punya sifat unik mendominasi orang lain atau suka memimpin umumnya sangat mudah membully.
–> Berikan peran yang menyalurkan sifat unik ini menjadi aktifitas produktif

2. Masalah supply maskulinitas dan feminitas dari orangtuanya. Kekurangan supply Ego dari ayah atau Supply Empaty dari ibu menyebabkan masalah pada ketidak seimbangan ego dan empati. Walaupun ada anak yang sejak kecil punya sifat unik sangat ego, atau sangat empati, mereka tidak akan mudah dibully atau menjadi pembully jika mendapat supply ego yang cukup dari Ayah dan supply empaty yang cukup dari ibunya selama masa anak anaknya.
–> Berikan sosok Ayah dan sosok Ibu yang memberikan supply seimbang

3. Ego Sentris atau Fitrah Individualitas yang tak tumbuh baik ketika berusia di bawah 7 tahun juga menyebabkan ananda kelak menjadi peragu dan mudah dibully.
–> Beri pengakuan dan tanggungjawab secara bertahap untuk mengembalikan eksistensi dirinya

Jadi kembalilah kepada fitrah, maka InsyaAllah semuanya akan kembali cerah. Fokuslah pada cahaya, kelak kegelapan kan sirna.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s