Mendidik Fitrah Munazalah (Al Quran & As Sunnah)

Harry Santosa – Millenial Learning Center
Januari 25, 2017

Mendidik Fitrah Munazalah (alQuran & AsSunnah)

Ada yang bertanya bagaimana pendidikan berbasis fitrah berinteraksi dengan alQuran dan asSunnah. Bagaimana Kitabullah masuk dalam kurikulum pendidikan berbasis fitrah.

Sebelum menjawab hal ini mari kita dudukan definisi dan posisi fitrah dalam landscape peradaban menurut alQuran.

Ibnul Taymiyah rahimahullah membagi fitrah menjadi dua yaitu fitrah Gharizah dan fitrah Munazalah. Fitrah Gharizah adalah fitrah yang inheren dalam diri manusia sejak lahir. Mengutip pendapat Imam alGhazali, fitrah Gharizah dalam diri manusia ini meliputi aspek fitrah keimanan, fitrah bakat dan kepemimpinan, fitrah belajar dan bernalar, fitrah seksualitas dan cinta, fitrah estetika, fitrah jasmani dstnya.

Sementara fitrah Munazalah yaitu Kitabullah (alQuran dan asSunnah), adalah yang memandu fitrah Gharizah sehingga tumbuh sempurna. Karenanya banyak Ulama yang menyebut Islam sebagai agama yang fitri karena bersesuaian dengan fitrah manusia, dan banyak ulama yang menyebut fitrah sebagai kesiapan menerima Islam.

Rasulullah SAW adalah manusia mulia yang fitrahnya tumbuh sempurna sehingga ketika Wahyu turun maka bertemulah dengan serasi dan selaras keduanya. Karenanya kemudian akhlaq atau adab Rasulullah SAW adalah alQuran.

Maka dalam pendidikan, jelas bahwa fitrah Gharizah atau fitrah manusia ini, dalam semua aspeknya, sebagaimana disebutkan di atas, jelas harus tumbuh dan berinteraksi dengan fitrah Munazalah sejak hari pertama pendidikan dimulai. Tentu dalam interaksi pendidikan yang sifatnya nature (penumbuhan yang alamiah atau tarbiyah) maupun nurture (penanaman nilai atau ta’dib).

Fitrah Munazalah atau Kitabullah, dalam tinjauan Peradaban adalah yang memandu semua potensi peradaban, yaitu
1. Fitrah dalam diri manusia atau fitrah Gharizah,
2. Fitrah yang melekat pada dimensi tempat atau Alam yaitu belahan bumi dimana manusia itu ditempatkan,
3. Fitrah yang melekat pada dimensi waktu atau Kehidupan dan Zaman, yaitu umur ketika manusia dihidupkan pada sebuah kehidupan, masyarakat dan zaman.

Maka dalam pendidikan peradaban atau pendidikan berbasis fitrah, bukan hanya bicara Fitrah manusia namun juga semua bekal peradaban yaitu Fitrah Alam, Fitrah Zaman dan Kehidupan serta Fitrah Munazalah lalu interaksi dari keempatnya sepanjang proses kehidupannya atau pendidikannya.

Dan pendidikan yang berorientasi menegakkan peradaban sejatinya adalah pendidikan yang sejak hari pertama mampu menginteraksikan keempat fitrah potensi peradaban ini sehingga tumbuh paripurna menjadi peran peran peradaban terbaik.

Maka dalam proses pendidikan tidak ada cerita seseorang mengisi kepalanya banyak banyak dengan pengetahuan lalu setelah penuh baru berinteraksi dengan alam, kehidupan untuk memberi manfaat. Namun interaksi penuh dimulai sejak awal.

Fitrah Munazalah (alQuran dan asSunnah) harus berinteraksi penuh dengan fitrah manusia melalui beragam kegiatan dan peristiwa sehari hari di alam dan di kehidupan nyata sehingga melahirkan pengalaman mendalam, menstrukturkan nalar, membentuk sikap, adab dan pengkondisian kejiwaan dalam menghadapi realita dan kondisi nyata, menguji keimanan dstnya.

Sistem Perskolahan Modern yang ditularkan Kolonialisasi membuat kita berfikir bahwa alQuran dan asSunnah dikumpulkan dulu di kepala baru kemudian diinteraksikan pada kehidupan ketika dewasa. Sungguh bukan demikian.

Lihatlah bagaimana pendidikan ala Rasulullah SAW, bagaimana wahyu turun satu demi satu mengiringi sebuah peristiwa atau case tertentu dalam kehidupan sejak hari pertama wahyu turun. Lihatlah bagaimana fitrah para Sahabat tumbuh hebat dalam kesadaran yang kuat.

Wahyu yang turun atas peristiwa adalah sebuah proses pendidikan Robbaniyah yang luarbiasa. Ini adalah proses tarbiyah yang menumbuhkan fitrah sekaligus proses ta’dib yang menanamkan Kitab dan Hikmah atau adab. Ini memberikan pengalaman hebat yang berkesan, mengkonstruksi pemikiran dan nalar, membentuk pensikapan dan membangun suasana kejiwaan atas sebuah peristiwa untuk kemudian berani melahirkan solusi dalam kehidhpan.

Begitulah sejatinya pendidikan alQuran dan asSunnah, bukan sekedar ilmu pengenalan tetapi ilmu pengakuan (Ma’rifah) dan dibuktikan dengan amal nyata atau solusi nyata pada diri dan kehidupan.

Pendidikan Islam semisal Pesantren di zaman dahulu adalah pusat peradaban dimana Kyai, Santri dan warga bahu membahu berkebun, berladang, berdagang dll dalam rangka membangun peradaban dengan mengimplementasikan alQuran dan asSunnah serta Kitab klasik langsung dalam kehidupan sehari hari.

Betapa indahnya ketika Ayat Qouliyah bertemu dengan Ayat Kauniah. Fitrah manusia berinteraksi hebat dan manfaat dengan fitrah alam, fitrah kehidupan dan fitrah Munazalah (Kitabullah) sejak hari pertama pendidikan dimulai.

Pendidikan Islam bukanlah seperti kuil tempat para pendeta tenggelam dalam semedinya, asik membaca Kitab dan Silat, berdiri megah di tengah desa berupa gedung megah berpagar tinggi terpisah dari jiwa masyarakatnya (fitrah kehidupan), terpisah dari keharmonian alamnya (fitrah alam) bahkan terpisah dari jiwa para santrinya (fitrah manusia).

Kita akan gagal paham bila memandang pendidikan Islam adalah pendidikan yang mengisi kepala penuh penuh dengan pengetahuan Islam lalu terjun ke masyarakat ketika sudah penuh.

Pendidkan Islam justru menginteraksikan semua fitrah manusia, fitrah alam, fitrah kehidupan dan fitrah Munazalah sejak hari pertama pendidikan dimulai. Karena pendidikan sejatinya adalah membangun peradaban bukan sekedar mencetak orang pandai dan shalih.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

fitrah01fitrah02fitrah03fitrah04

Advertisements