Merdeka Belajar: Serupa Tapi Tak Sama Pendidikan Kita

Najelaa Shihab (Pendidik)

Kampus Guru Cikal·

Saturday, January 7, 2017

Kadang bosan mendengar kata perubahan pendidikan. Pentingnya pendidikan yang lebih baik sudah diwacanakan dan diusahakan lama.
Perubahan pendidikan tidak pernah berawal dari perubahan besar sistem, tapi justru dari perubahan-perubahan kecil yang terjadi di setiap kelas dan sekolah setiap hari.
“We should not build one great system for schools, we should build great schools that make up a system.”
Saya percaya perubahan pendidikan dimulai dari hal sederhana yang dipilih dipraktikan guru dan Kepala Sekolah. Kita perlu pandai membedakan cara, karena banyak pilihan paradigma yang seolah mirip, padahal mengantar ke tujuan bertentangan.
Pertama, MEMBEDAKAN antara PEMAHAMAN dengan PENGETAHUAN.
Seringkali tujuan belajar-mengajar hanya sekedar banyak tahu, pintar mengulang banyak informasi saat ujian. Padahal kompetensi masa depan adalah paham mendalam. Orang yang paham, punya sikap yang mendukung, dan keterampilan yang cukup sehingga bisa bertindak tepat. Analogi yang biasa digunakan adalah buah alpukat, orang yang tahu banyak hal sekedar mengenal permukaan kulitnya, tapi belum tentu mengenal isinya atau inti bijinya.
Dari pelajaran sejarah, hampir semua murid hafal bahwa Perang Diponegoro terjadi tahun 1825-1830. Sebagian murid punya informasi menarik tentang sorban dan kuda Diponegoro, namun jarang murid yang memahami bahwa dalam tiap konflik ada perspektif berbeda (misalnya, apa pandangan Belanda tentang perang ini), jarang juga yang memahami kaitan latar belakang kehidupan pribadi Diponegoro dengan apa yang diperjuangkan. Untuk sampai pada pemahaman inti, tahu fakta saja tidak cukup.
Hanya bila tujuan belajar jelas, semua anak dan guru akan mampu menjawab mengapa dia perlu belajar atau mengajar topik tertentu dan apa manfaatnya untuk hidupnya.
Kedua, MEMBEDAKAN antara PENDEKATAN INDIVIDUAL BERPUSAT PADA SISWA dengan PENDEKATAN STANDAR BERPUSAT PADA GURU.
Diferensiasi, memenuhi kebutuhan masing-masing murid sangat berbeda dengan membuat murid memenuhi kebutuhan (target kerja) guru. Berpusat pada siswa identik dengan menumbuhkan, memahami bahwa bibit tiap anak pasti tidak persis sama. Guru perlu mampu menyesuaikan porsi air, matahari, pupuk dan pembasmian hama sesuai kondisi anak. Berpusat pada guru identik dengan mencetak, menghasilkan “produk” yang seragam.
Guru mengontrol, murid terpaksa mengikuti karena takut semata bukan karena cinta. Kualitas pendidikan ditentukan kualitas interaksi antar manusia di lingkungannya, bukan dengan benda mati seperti buku, ruang atau alat ukur.
Ketiga, MEMBEDAKAN antara TANTANGAN dengan BEBAN.
Tanpa tantangan tidak ada proses belajar. Tantangan disesuaikan dengan kesiapan, dipilih dengan sistematis dalam percakapan bersama. Sementara beban dipaksakan dari luar diri, tanpa kejelasan dan bagi yang dibebani. Alasan memberikan beban biasanya hanya agar terbiasa dengan kesengsaraan, padahal rasa berdaya dan pengalaman sukses justru modal utama keberhasilan.
Bayangkan perjalanan menaiki gunung yang tinggi, tujuannya tentu agar murid bisa mendaki barengan sambil membuat rencana dan mengevaluasi keberhasilan dirinya. Kita tidak ingin anak keberatan ransel dan menolak mencoba karena melihat tingginya gunung tak mungkin tercapai. Juga tidak ingin anak sering berhenti, ngambek berkemah di tengah jalan, karena tidak punya suara dalam proses pendakian.
Keempat, MEMBEDAKAN antara PROSES PERKEMBANGAN UTUH dengan SEGREGASI TAHAPAN.
Bandingkan proses belajar yang bagaikan tangga menuju ke atas, anak tangga dilewati dengan satu cara dan urutan. Seringkali ada anak yang sampai kapanpun akan selalu lebih tertinggal. Belajar dan berkarya lebih mirip permainan “jungle gym” di taman. Ada waktu melompat ke kanan, ada kalanya bergelantungan atau memutar balik sebelum naik lagi menuju tujuan. Nilai ujian di akhir periode tidak cukup. Bagaikan peta di google map, anak butuh umpan balik beragam dan berkelanjutan dalam perjalanan.
Mengubah pendidikan memang berarti mengubah dunia kita. Tapi dunia juga sudah menunjukkan bahwa reformasi pendidikan negara butuh minimal 50 tahun, berbeda misalnya dengan inovasi teknologi yang sejak ide sampai di tangan kita hanya butuh 1.5 tahun.
Buat saya, ini hanya satu artinya, kita para pendidik, harus mulai hari ini.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s