“Guru dan Murid : Pendamping dan Kesetaraan.”

C W Watson, Porfesor SBM, ITB Ementus.
Profesor School Of Anthropology, University Of Kent. Inggris.

(Tulisan ini diambil dari tulisan beliau yang dimuat di harian Tribun Jabar edisi Selasa 24 Januari 2017)

Teman lama saya, Profesor Yus Rusyana memberikan buku yang sangat menarik yang berjudul “Teman Tumbuh, Tman Belajar” dalam seri buku Guru Berani, terbitan True Creative Aid (TCA atau TRUE) di Bogor. Buku ini menceritakan pengalaman anggota tim TRUE mengunjungi beberapa daerah terpencil di Indonesia, termasuk Nias, Poso (Sulawesi) dan Papua, dengan tujuan belajar dari para guru setempat mengenai kearifan lokal, khususnya dalam cara menyampaikan materi pelajaran dan juga dengan tujuan berbagi sumbangan pikiran dan inovasi, semampu tim itu, dalam usaha meningkatkan mutu pengajaran dan pelajaran di daerah-daerah tersebut.

Banyak cerita dalam buku itu yang memberi gambaran pada saya mengenai dunia pendidikan di pelosok-pelosok di Indonesia mulai dari bagaimana masing-masing anggota tim harus menempuh banyak rintangan di perjalanan sebelum tiba di tempat terpencil, sampai ke sambutan ramah tamah yang mereka terima dari masyarakat setempat, dan akhirnya pengalaman kaya raya yang diperoleh mereka dari apa yang mereka amati dalam suasana ruang kelas dan idealisme para guru. Dari penjelasan TRUE itu teranglah betapa guru-guru gigih bekerja dengan penuh semangat agar mengatasi keadaan yang fasilitasnya kadang-kadang kurang memadai. Menurut pengamatan anggota TRUE, yang harus diakui sama penuh semangat dan bersiap kerja keras, terbukti bahwa yang harus diutamakan dalam usaha menjaga dan meningkatkan fasilitas materi melainkan kemampuan, keikhlasan dan kepribadian guru. Karena gurulah yang menentukan suasana di ruang kelas dan berdaya upaya untuk merangsang rasa cari tahu para murid.

Dalam merenung betapa penting peran guru, saya sangat terpesona membaca keterangan anggota tim, Achmad Ferzal, yang bertualang ke Boven Digoel di Papua, tempat pengasingan tahanan politik di zaman Belanda dulu. Salah satu dari hal yang dia jelaskan ialah bagaimana kesetaraan dan pendampingan merupakan kunci sukses untuk masa depan sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Berhubungan dengan keterangan tentang kegiatan TRUE, Ical – demikian panggilannya- menulis metode yang kami lakukan…. kami beri nama metode guru berani. Metode yang lebih banyak kerja mendampingi daripada melatih.

Kemudian dia memberi beberapa contoh mengenai apa yang dimaksudkannya. Sangan berguna sebagai petunjuk pada orang, terutama relawan dari LSM atau pegawai pendidikan yang acapkali berkunjung ke daerah terpencil, dengan hati ikhlas dan jujur tetapi tetap dengan membawa sikap menggurui. Sikap menggurui bahkan sikap melatih sering membuat pada peserta acara merasa kesal karena diperlakukan seperti orang bodoh. Demikian usaha TRUE menitikberatkan pendampingan bukan pelatihan sebagai metode ampuh sangat penting.

Demikian pula kesetaraan. Sebagaimana diceritakan Ical, di Indonesia dalam dunia pendidikan dan di dunia perusahaan dan pemerintahan juga sebenarnya orang terlalu menjaga jarak, jaim (jaga image), karena takut kalau mereka terlalul dekat dengan ‘bawahan’ mereka tidak akan dihormati lagi, orang tidak akan menyegani mereka. Akan tetapi memperlakukan orang lain sebagai setara dengan kita tidak berarti bahwa kita berisiko kehilangan rasa hormat. Kalau kita menganggap orang, baik anak-anak maupun orang dewasa, setara dengan kita artinya kita mengenal mereka sebagai manusia seperti kita, yang perasaan dan keperluan sama dengan perasaan dan keperluan kita : ingin dihargai, ingin dilayani secara sopan, ingin dibantu dan membantu menurut keadaan, ingin diikutsertakan ke dalam kegiatan di mana mereka bakal memberi sumbangan, pendek kata ingin dikasihani. Kalau seandainya hubungan semacam ini dapat dijalin antara murid dan guru, tidak mungkin martabat guru akan direndahkan, malah sebaliknya, akan dihormati lebih tinggi.

Kebetulan persis satu hari sesudah saya membaca pendapat ini, saya sedang iseng-iseng membaca terbitan “Mangle” (nomor 2612 19-25 Januari) yang menceritakan tingkah laku dosen di Universitas Padjajaran, Dr. Teddi Muhtadin. Dijelakan : dina aktivitasna dina widang panalingtikan sastra, Teddi Muhtadin kaasup dosen anu dekeut sareng mahasiswana. Euweuh istilah jaga jarak pikeun Teddi mah. Masih keneh ceuk Riki, sok sanajan teu nyieun jarak jeung mahasiswana, para mahasiswa ieu mindeng diskusi jeung Dr. Teddi henteu jadi ngalunjak atawa cologog, tapi jadi leuwih ajrik.

Ini menjadi satu lagi bukti bahwa dalam dunia pendidikan pada tingkat apapun, kalau kita mau meraih simpati pelajar, langkah pertama untuk mendampingi mereka supaya rasa ingin tahu menimbul dengan sendirinya dan mereka menjadi haus mencari pengetahuan, kita harus menjalin hubungan dekat dengan murid kita. Dan dalam usaha ini, sikap memperlakukan orang setara, akan menunjukkan keikhlasan hati kita.

Pernah sekali di Inggris saya ketemu bekas mahasiswa yang sudah bertahun-tahun tidak saya jumpai. Dia certa begini : I remember, Dr. Watson that you were the only lecturer for whom we always did the reading before we come to class. The reason was because we never wanted to disappoint you, because we knew you had such high expectation of us.

Ucapan mahasiswa ini yang membuka mata saya betapa mahasiswa menghargai metode saya mengajar, merupakan salah satu puncak dalam karier saya sebagai guru. Semoga di Indonesia terdapat banyak guru dan dosen yang sama sedang menerima ucapan terima kasih dari murid atas cara mereka diberlakukan setara oleh pendamping.

http://ngakal.ning.com/…/guru-dan-murid-pendampingan-dan-ke…
#guruberani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s