Harry Santosa – Millenial Learning Center

Peradaban manusia kini mirip peternakan raksasa yang rentan berbagai penyakit fisik, fikiran maupun kejiwaan. Dalam kandang raksasa yang diciptakan modernisme, dimana semua ternak bergerak, berfikir dan merasa secara seragam sebagaimana setting sang perancang dan pembuat kandang, maka penyakit fisik, fikiran maupun kejiwaan apapun cepat menyebar.

Teori konspirasi seperti ini amat mudah dilihat, kita umumnya tidak berdaya. Konspirasi sudah tidak penting lagi dibicarakan, karena keluarga dan komunitas, rumah dan jamaah telah lumpuh dan kecanduan sistem. Misalnya ide dan seruan untuk mendidik anak sendiri dianggap aneh, idea merancang kurikulum keluarga diragukan, idea untuk menemukan misi keluarga dianggap tidak penting, idea membangun pendidikan berbasis komunitas dianggap cuma teori dstnya.

Orang berteriak tentang ketahanan keluarga dan kota layak anak, sementara peternakan peradaban ada di depan hidung kita dan kita pelanggan setianya. Lihatlah bagaimana keluarga keluarga bertahan apalagi berdaulat jika anak anak mereka seharian dirampas sistem persekolahan modern? Bagaimana para orangtua menjadikan rumahnya layak fitrah anak, jika waktu waktu mereka habis untuk mengais upah, menempuh kemacetan para suburban pinggiran kota besar yang harus berjibaku sejak gelap buta ketika anak masih tidur sampai malam buta ketika anak sudah tidur?

Para ternak peradaban modern ini benar benar amat tergantung kepada industri, sejak makanan, gaya hidup, pengetahuan sampai pendidikan. Dalam peternakan, sesungguhnya tidak pernah dikenal adanya keluarga, yang ada hanya bermakan dan bereproduksi. Keluarga ternak adalah konsumen semata. Jika yang mereka konsumsi ada penyakit, maka sakitlah semuanya. Ayah Ibu adalah konsumen produk industri, mengais bekerja di industri, anak anakpun konsumen pendidikan, dititipi di lembaga pendidikan bernama industri persekolahan yang menyeragamkan apapun.

Dalam keseragaman peternakan peradaban yang mencerabut potensi keunikan keunikan individu dan keluarga seperti ini, maka lahirlah para ayah buta dan bisu yang tidak tahu jalan apa yang harus ditempuh keluarganya, lalu gagap bernarasi besar di depan keluarganya. Lahir juga para bunda yang tangan dan kakinya lumpuh dan mandul yang lebih suka membeli makanan instan untuk anak anaknya, malas merancang kurikulum pendidikan tiap anak anaknya dan selalu butuh hiburan.

Dari rahim peternakan ini lahirlah anak anak yang fitrahnya bergeser perlahan dari ciptaan yang sempurna menjadi asfala safilin, ciptaan yang terendah dan terburuk yang bisa dicapai di muka bumi. Ini misi Adam Smith, bapak revolusi industri, yang mengkompartemen manusia menjadi sekrup dan baut industri tanpa punya pilihan merdeka sebagai manusia, sampai derajat kebodohan yang paling mungkin dicapai manusia.

Kemudian mulailah para orangtua dikejutkan dan dikhawatirkan dengan betapa rentannya anak anak mereka digilas zaman, dihantam pemikiran, dicokok perilaku yang jauh dari fitrahnya apalagi syariahNya.
Dengan mudah anak anak kita berkata bahwa homoseksual itu fitrah manusia, pornografi dan seks bebas adalah kebutuhan anak muda, narkoba adalah gaya hidup, liberalisme adalah fikiran modern masa depan, agama adalah penyebab perang yang harus dilepaskan dalam kehidupan, elitisme dan arogansi adalah keharusan dstnya.

Reaksi panik malah menambah runyam. Sebagian orangtua mengirim anaknya sejak dini ke pesantren, memaksakan konten agama sejak dini, memproteksi dan mensterilisasi anak berlebihan, dsbnya. Justru ini menambah hampanya keluarga, menambah jauhnya keberadaan sosok ayah ibu yang dibutuhkan anak anaknya untuk merawat dan menumbuhkan fitrah mereka.

Para penyebar LGBT dan paham kemanusiaan sesat ini dengan pongah dan berani mengkampanyekan kerusakan moralitas dan seksualitas sesat itu karena mereka tahu betapa lemah, rapuh dan rentannya rumah dan komunitas kita. Mereka mentertawakan kedunguan kita yang tidak paham bagaimana mendidik fitrah anak anak kita.

Mereka tahu betul kita hanyalah orangtua palsu dan keluarga ilusi mendidik yang cuma pandai mencari penitipan anak dan memburu sekolah favorit. Justru para penjaja homoseks dan kerusakan ini jauh lebih paham bagaimana menyimpangkan fitrah anak anak kita daripada kita merawat dan menumbuhkan fitrah anak anak kita.

Wahai para AyahBunda, kembalilah ke fitrah kita sebagai pendidik fitrah anak anak kita. Kita jadikan rumah dan komunitas kita sebagai rumah dan komunitas layak fitrah dan akhlak. Mari bergandeng tangan bersama mewujudkannya dimulai dari kesadaran untuk kembali kepada fitrah kita, lalu rancanglah kurikulum pendidikan fitrah dan akhlak bagi anak anak kita sendiri. Mari hijrah dari peternakan peradaban kepada peran peradaban mulia sebagaimana yang Allah kehendaki untuk kita jalani – menjadi rahmat dan menebar manfaat sebanyak banyaknya.
Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

Advertisements