Merdeka Belajar: Anak dan Kelak Demokrasi Kita

Kampus Guru Cikal
December 7, 2016

Merdeka Belajar: Anak dan Kelak Demokrasi Kita
Najelaa Shihab – Pendidik

Beberapa minggu belakangan, banyak peristiwa yang bisa menjadi pelajaran bagi anak tentang demokrasi. Anak membangun ke-Indonesia-annya dengan mengamati dan mempraktikkan yang terjadi. Hari ini, kita sebetulnya berkesempatan menumbuhkan cinta demokrasi saat mengajarkan literasi media digital serta mencontohkan pemahaman agama. Ini bekal anak menjadi pengelola informasi kritis, pendidik keluarga positif, pemeluk agama moderat dan warganegara berdaya di hari mendatang. Anak berpartisipasi aktif dalam apa yang terjadi di dunia ini, walaupun orang dewasa di sekitarnya sering tidak sadar akan kehadirannya, sering lupa bahwa anak menjadi korban tidak hanya sekedar secara fisik tapi yang lebih beresiko secara mental.

Sayangnya, pendidikan kita, bukan pendidikan berbasis pemahaman makna. Percakapan tentang topik sulit, belum menjadi bagian proses sehari-hari. Darimana saya tahu informasi ini bukan saja tidak salah tapi juga berimbang? Apa Islam, siapa Muslim, apa perbedaannya? Bagaimana contoh perilaku warganegara yang taat hukum, mematuhi ketentuan yang ditegakkan penguasa atau justru menggerakkan perlawanan pada kemapanan? Ini contoh pertanyaan penting, bukan saja dalam perumusan kurikulum nasional, tetapi seharusnya mengisi ruang kelas dan keluarga sejak dini. Anak perlu belajar bahwa konflik dan dilema bukan saja tidak bisa dihindari, namun perlu dialami. Tidak semua guru dan orangtua kompeten membahas demokrasi. Di sisi lain, anak terus terpapar pada rentetan pesan dan eskalasi konflik di media maupun ruang publik terkait pertanyaan essensial. Tak heran banyak yang gagap menjawab. Karena kita menyederhanakan pendidikan demokrasi menjadi sekedar sensor informasi dengan algoritma teknologi, atau upacara bendera tanpa makna di jam sekolah.

Pendidikan kita belum naik kelas, masih berfokus pada “belajar tentang” bukan “belajar dari”. Anak dianggap obyek yang dijejali pengetahuan sesuai standar. Ditakuti dan diimingi nilai ujian. Anak jarang mendapat kesempatan berdaya, berlatih menyelesaikan masalah nyata. Hafalan di kelas agama seolah tak berkait dengan praktik budaya sekolah yang diskriminatif. Cerita moral yang dibacakan di rumah jauh berbeda dengan tayangan dari jalanan yang penuh kekerasan. Orang dewasa di sekitar anak, melupakan hak mereka untuk terlindungi dari informasi sesat dan kepentingan sesaat. Alih-alih menjadi teladan toleransi dan persatuan, kita malah menguatkan rasa takut dan ekstremitas. Alih-alih menjadi pemilih rasional, kita diam atau mendukung kandidat seolah tanpa kekurangan.

Pesta demokrasi, mestinya mendorong kita semua, dalam berbagai peran, berkontribusi untuk pendidikan pemilih pemula. Kalau tidak tahun ini, beberapa tahun kedepan, anak kita akan menjadi pelaku penting, bukan sekedar penonton demokrasi. Yang kita tumbuhkan hari ini, menjadi buah yang kita tuai tak lama lagi. Pastikan kita tidak mengorbankan lebih banyak anak, menyuburkan ekosistem beracun yang menghambat munculnya pahlawan demokrasi masa depan

Semua Murid Semua Guru

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s