Resume Kajian Pendidikan Berbasis Fitrah
Majelis Dhuha Keluarga Masjid Al-Iman
Ahad 19 Februari 2017
CINTA SEBELUM ISLAM, IMAN SEBELUM AMAL
Ust. Adriano Rusfi

Suatu kali ada orang tua yang mengeluh karena anaknya kabur dengan pacarnya yang non-muslim, padahal anak ini sayang kepada orang tuanya dan rajin shalat. Dari kasus ini kita mengambil hikmah bahwasannya cinta bisa mengalahkan sayang dan takut. Karena cinta itu bersifat buta.

Kepada manusia dibangun motivasi, beda dengan hewan yang dibangun adalah kebiasaan.
Kita kadang salah, anak usia 0-7 :

– Belum bisa diajarkan nilai-nilai keimanan karena jalan fikirannya masih abstrak, padahal justru karena penuh dengan abstrak inilah paling mudah diajarkan

– Sudah diajarkan kemandirian, padahal usia-usia ini pemenuhan hak-haknya untuk bermanja-manja, maka kelak dewasanya akan tumbuh menjadi pribadi mandiri. Manusia adalah makhluk yang paling telat mandirinya dibanding hewan, namun ternyata manusialah yang paling lama bertahan dibanding hewan-hewan yang cepat mandirinya tersebut

– Anak diajarkan berbagi, padahal di usia ini anak harus dipuaskan keegoannya. Anak yg terpenuhi kebutuhan egonya diperiode ini, akan mampu berkata TIDAK pada saat ia dewasa. apalagi dalam Tauhid, yg pertama kali ditanamkan adalah berani berkata TIDAK (Laa Ilaha Illallah). Baru diatas 7 tahun diajarkan aspek-aspek sosial/berbagi.
“Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim).

Karena IMAN itu FITRAH, maka seharusnya lebih mudah me-sholihkan anak kita, dibanding menjadikan ia sebagai Nasrani, Yahudi ataupun Majusi. karena harus mengubah fitrahnya yang sudah bertauhid.

Untuk mengembangkan fitrah keimanan maka:

1. Ada sebuah kata bijak,” Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Oleh karena itu kita harus kenal karekter anak. Semakin kita kenal karakternya maka semakin mudah kita mengajarkan nilai-nilai keimanan.
Biar kan juga anak-anak mengenal dirinya, jangan dipaksakan ini dan itu.

2. Ajarkan Tauhid Uluhiyah
Allah sebagai Robb, sudah ditegaskan kepada manusia sejak masih di alam ruh, Ia bersifat aktif. Kita mau percaya atau tidak, Ia akan tetap sebagai ROBB Sang Pencipta, Sang Pemelihara,Sang Pengatur dll.

Allah sebagai Ilah, inilah yang mesti ditanamkan kepada anak-anak kita. Karena ia bersifat pasif. Allah tidak akan pernah bisa jadi ILAH yang disembah, dita’ati, diharapkan, dsb jika manusia bersikap pasif. Karena itu manusialah yang kemudian menjadi OBYEK dan harus AKTIF dalam menjadikan Allah sebagai ILAH.

*Mendidik keimanan sama dengan mendidik cinta*

Ayat-ayat keimanan lebih dulu turun di periode Makkiyah dibandingkan ayat-ayat pembebanan (taklif syari’at) diperiode Madaniyah. Artinya motivasi untuk mencintai Allah dibangun terlebih dahulu agar siap dan dengan senang hati menjalankan perintah-Nya.

Shalat itu beban, shaum itu beban, tilawah juga beban dst, tapi kalo kita ajarkan CINTA kepada Allah yang menurunkan perintah-perintah tersebut maka akan rela dan termotivasi mengerjakan beban tersebut.

Biarkan anak kita hidup dan tumbuh di lingkungan realitasnya agar imannya dapat tumbuh dan teruji, yakinlah masih lebih banyak yang melindungi keimanannya dibanding yang akan merusaknya.

Karena dibalik keimanan ada Allah, ada fitrah, ada do’a, ada tarbiyah, ada rasul dan sebagainya. Yang bathil akan batal sedangkan yang Haq akan ditahqiq (dikokohkan).
Iman nan Fitri (fitrah) itu akan membuahkan sikap : AKU RIDHA

Kalo anak sudah ridha, maka ia akan menjalankan yang HAQ secara paket dan sekaligus akan meninggalkan yang BATHIL dalam satu paket, dan orang yang Ridha akan dipanggil oleh ALLAH dengan julukan Jiwa yang Tenang (QS Al Fajr : 27-30).

Pendidikan keimanan di usia pra-latih (0-7 tahun) : sangat mudah sekali karena anak masih berimajinasi. Oleh karena itu bangkitkan imajinasi keimanannya dengan berbagai media :
– Keteladanan. Iman itu ditularkan. Anak akan melihat dan ikuti aktivitas2 kita seperti shalat, tilawah dsb. Konon Sayidina Husein bin Ali RA dijuluki As-Sajid (orang yg banyak bersujud/shalat) salah satunya karena dibiarkan bermain di punggung kakeknya (Muhammad saw) pada saat kakeknya tsb sujud. Pada saat berdoa/muroja’ah keraskan membacanya agar anak bisa ikut-ikut membacanya.

– Aktivitas bercerita. Al-qur’an pun didalamnya terdapat banyak kisah untuk mengajarkan nilai-nilai keimanan. Oleh karena itu sebelum tidur biasakan aktivitas story telling (menceritakan cerita) utk usia 0-7, dan story reading (membacakan
cerita) untuk usia diatas 7 tahun agar anak termotivasi membaca buku.

– Dan aktivitas lain seperti bermain, bernyanyi dan menggambar.

Pendidikan keimanan diusia 8-10 tahun adalah dengan pembiasaan dan aktivitas bermain di alam, sedangkan diusia pra-baligh (11-14 tahun) adalah dengan membenturkan dan menguji keimanannya. Di usia ini pendidikan harus didasari sifat TEGA, karena anak sudah akan masuk periode taklif yang artinya ia sudah dihitung sempurna dalam memikul beban syariat.

Dalam pendidikan anak tidak berlaku kaidah : Lebih cepat lebih baik. Namun berlaku kaidah : Semua akan indah pada waktunya. Pertanyaannya bukanlah: Anak sudah mampu atau belum, tetapi : Anak sudah butuh atau belum?

Dalam periode pra-baligh arahkan dan tumbuhkan kreatifitas dan potensinya. Biarkan anak berani berbuat salah, tapi jangan sekali-kali berani berbuat dosa. Hanya di dalam agama islam, salah itu bisa bernilai satu pahala, walaupun jika benar, bernilai dua pahala. Dengan prinsip seperti ini anak akan tumbuh menjadi generasi progresif.

Notulis : Addinul Khalish

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s