Kampus Guru Cikal
Thursday, November 24, 2016
Najelaa Shihab, Inisiator Komunitas Guru Belajar, Dosen Kampus Guru Cikal .

Pengalaman di komunitas guru belajar menunjukkan bahwa perjalanan menuju merdeka belajar ini tidak mudah

Meneguhkan komitmen adalah modal awal merdeka belajar, apa tujuan kita sebagai pendidik. Setiap dari kita yang setiap hari bergiat di pendidikan, sadar sulitnya konsisten pada tujuan di saat begitu banyak tugas administrasi dan birokrasi menyita begitu banyak waktu. Dalam diskusi dengan teman-teman guru belajar dari Ambon beberapa minggu lalu saya belajar bahwa dalam perjuangan ini, kita harus bisa membedakan cara dengan tujuan. Rangking, akreditasi, ujian, seleksi adalah cara yang saat ini seringkali menjadi tujuan dan prioritas utama diatas tujuan pendidikan nasional dan misi pribadi kita masing-masing saat memilih menjadi pendidik.

Guru yang merdeka belajar adalah guru yang mandiri. Mandiri adalah proses yang kita gerakkan. Mandiri dalam arti sesungguhnya adalah memegang kendali. Dalam percakapan dengan guru belajar dari Sukabumi, saya terhenyak oleh masih banyaknya praktek manipulasi yang terjadi saat berbicara tentang pengembangan guru; uang, kepentingan dan jabatan – mengotori semangat belajar. Tingkat pelibatan publik di Indonesia sebetulnya cukup tinggi, secara umum data menunjukkan tingkat keterlibatan di negara berkembang memang lebih baik dibanding negara maju. Namun, saat kita melihat tahapan pelibatan publik, lebih banyak guru yang kemudian berhenti sampai di tingkat konsultasi atau kemitraan, belum sampai ke tingkat berdaya dan mengendalikan. Padahal perubahan nyata membutuhkan tingkat keterlibatan tertinggi.

Pendidik yang merdeka belajar terus melakukan refleksi. Refleksi ini mudah dikatakan, namun sulit dilakukan. Berbincang dengan teman guru belajar di Wonosobo, saya sadar betapa refleksi itu sebuah proses yang sangat tidak nyaman dan penuh resiko. Sebagian dari kita menolak membuka mata dan melihat cermin, dengan seratus alasan, masyarakat belum siap, orangtua tidak mendukung, murid tidak paham, dan seterusnya. Transparansi dan akuntabilitas pendidik disederhanakan sampai kehilangan maknanya sekedar skor dan mengisi form. Refleksi selesai dengan selesainya tugas administrasi, tanpa percakapan yang bermakna dan mendorong kita untuk berubah.

Komitmen, mandiri, refleksi. Tiga kata, tiga dimensi merdeka belajar, namun kompleksitas pendidikan yang sangat interdisiplin, membuatnya tidak mudah diwujudkan. Saya ingat betul, Donna Shahlal, salah seorang pakar pendidikan membandingkan betapa sederhananya proses mengirimkan pesawat Apollo ke bulan yang dilakukan NASA di tahun 1970-an dibandingkan dengan reformasi pendidikan yang dilangsungkan di Amerika Serikat di rentang waktu yang sama. Upaya mengubah ekosistem pendidikan butuh dana lebih besar, melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan dan membutuhkan waktu lebih panjang terkadang tanpa bukti nyata keberhasilan

Tak heran pendidikan selalu dikatakan penting, tapi tidak pernah menjadi prioritas. Tak heran sebagian dari kita frustasi. Tak heran sebagian memilih keluar dari sistem, memilih “exit” bukan “voice”. Tapi guru di komunitas guru belajar yakin bahwa satu-satunya cara untuk mewujudkan merdeka belajar adalah memilih berdaya dengan bersuara lebih keras.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s