Merdeka belajar: Belajar dari Anak Saat Menyusui

Oleh Najelaa Shihab, Pendidik
Kampus Guru Cikal, Nov 5, 2016

Saya percaya, anak bukan sumber masalah, tapi sumber inspirasi. Bukan objek, tetapi subjek yang bahkan sejak bayi pun, bisa menjadi sekutu utama dalam perjalanan belajar keluarga. Saya paham, ini bukan pernyataan sederhana untuk dipraktikkan, tidak semua orang mau dan mampu belajar bersama anak.

Menyusui mengajarkan saya cara mendengarkan anak. Ketiga anak saya lahir dengan temperamen bawaan berbeda: ada yang lebih aktif bergerak, ada yang lebih ekspresif dengan apa yang dirasakan, ada yang lebih mudah menyesuaikan diri dengan rutinitas. Dengan latihan bersikap sensitif terhadap keunikan mereka sejak bayi, saya belajar bahwa anak perlu berdaya dan tidak bisa dikontrol total oleh orangtua. Lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak mengobservasi daripada menginterogasi. Pelajaran ini biasanya muncul terlambat di orangtua, saat anak mulai tidak mempan dinasihati, tidak takut pada hukuman, dan tidak bisa disuap dengan hadiah.
Menyusui, mengajarkan saya bahwa anak terlahir dengan kemampuan untuk “mengatakan” kapan ia lapar, menunjukkan kapan ia kenyang, kapan ia butuh dekapan. Latihan berespons dengan tepat terhadap kebutuhan anak, menjadi tantangan yang luar biasa sulit, tapi sangat bermanfaat. Tidak ada alat bantu lain–botol yang habis, takaran cc volume, serta perangkat lain yang bisa lebih diandalkan. Yang ada hanya dorongan mencoba 101 cara–dari pelekatan yang tepat, posisi menyusui yang nyaman, sampai menyapih dengan cinta–yang jawabannya tidak ditentukan oleh buku pintar atau profesional, tapi oleh sang anak dan interaksi kita dengannya.
Menyusui melatih saya untuk menjadi orangtua yang bersikap seperti petani yang berperan menumbuhkan, bukan pemahat yang bertugas untuk mencetak. Belajar bahwa anak lahir dengan bibit yang unik dan bahwa tugas saya adalah menyediakan tanah yang subur, memberikan pupuk dan air saat dibutuhkan. Menjadi matahari yang bersinar tanpa pamrih.
Praktik hubungan reflektif dan disiplin positif dalam pengasuhan yang ibarat maraton, dimulai lebih awal dengan menyusui. Kebiasaan ini mestinya lebih mudah diteruskan sampai anak mandiri makan, bermain, bersekolah, dan seterusnya. Sekali lagi, ibu yang menyusui, sangat beruntung.
Semoga refleksi ini memulai percakapan menyenangkan di keluarga, tentang bayi-bayi dan anak-anak luar biasa yang memberi kesempatan kita–orangtuanya–untuk belajar lebih baik setiap hari.❤❤❤
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s