Renungan Pendidikan #79

Harry Santosa
January 20, 2016

Dalam sebuah talkshow di televisi, seorang menteri pendidikan dihadirkan bersama dengan seorang ibu yang “tidak menyekolahkan” anak anaknya, namun berhasil membawa anak anak nya “sukses” dalam usia belasan tahun.

Harap dipahami bahwa “tidak menyekolahkan” bukan berarti tidak terdidik dan tidak
punya kurikulum pendidikan. Jelas punya namun kurikulum pendidikan rumahan ini fokus pada potensi unik anak anaknya dengan orientasi memberi manfaat bagi dirinya dan sekitarnya.

Kurikulum rumahan bukan murahan dalam kualitas, namun fakta kini semakin membuktikan bahwa kurikulum rumahan apalagi bersama komunitas mampu memberikan banyak manfaat yang jelas daripada kurikulum nasional berharga ratusan triliun dengan pacuan dan arah yang tidak kemana mana juga.

Bagi sang Ibu itu, “sukses” dalam usia belasan tentu saja maksudnya bukan dalam medali medali olimpiade maupun nilai akademis, yang menjadi berhala bagi banyak orang padahal tanpa karya dan tidak relevan dengan kehidupan.

Namun sukses yang dimaksud, sebagaimana dipaparkan oleh sang ibu dalam siaran TV
itu, adalah memberi manfaat sebanyak banyaknya bagi banyak orang. Justru inilah tujuan pendidikan sejati yang diakui pada masa lalu, pada masa kini dan pada masa depan..

Di acara itu, Pak Menteri nampak kecut, gesturnya sangat tidak nyaman. Beliau tahu betul bahwa sesungguhnya rumahlah sentra pendidikan terbaik sepanjang masa sejak zaman Nabi Adam AS. Namun mau apa dikata, beliau menjabat sebagai menteri persekolahan nasional yang harus menunjukkan bahwa kurikulum persekolahan nasional adalah yang terunggul.

Lihatlah Beliau meragukan para orangtua mampu merancang kurikulum yang baik dengan mengatakan bahwa kurikulum sekolah telah dibuat selama dua ratus tahun dan teruji, para orangtua harus berhati hati membuat kurikulumnya sendiri.

Padahal, sesungguhnya kitalah para orangtua yang harus meragukan kurikulum mahal nasional berusia dua ratus tahun itu dan bernilai ratusan triliun itu.

Kita semua bukan cuma meragukan kurikulum persekolahan nasional, namun menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kurikulum nasional justru lebih kacau, selalu berganti, bermasalah pada konten lolos sensor, membelenggu kreatifitas guru dan siswa, gagal membentuk karakter, lalai terhadap potensi keunikan anak, tidak punya ukuran dan arah yang jelas kecuali jumlah kelulusan dan lama waktu bersekolah dsbnya.

Kementerian sebagaimana birokrasi lainnya, sudah sangat sibuk mengurusi dirinya, bagaimana bisa mengurusi anak anak kita dengan baik dan telaten satu demi satu. Jadi harap maklum, bahkan para pembuat kurikulum nasional sendiripun senantiasa meragukan kurikulum buatannya.

Tanpa perlu riset mendalam, kita segera tahu, bagaimana mungkin sebuah kurikulum nasional yang seragam dipakai untuk mendidik 56 juta siswa yang Allah ciptakan berbeda, tinggal di tempat berbeda, hidup di zaman yang berbeda di seluruh Indonesia? Bagaimana 2 juta guru, bisa dididik agar setelaten dan seikhlash para orangtua kandung?

Sejujurnya kita hanya perlu guru yang telaten dan ikhlash. Dengan pengetahuan yang tersebar di dunia maya dan di tangan orang orang hebat, maka mohon maaf, yang diperlukan dari seorang guru bukanlah menguasai segala pengetahuan, tetapi yang bisa telaten dan ikhlash menjadi jembatan bagi segala aktifitas dan minat siswanya satu persatu kepada sumber pengetahuan baik dunia maya maupun para maestro di bidangnya.

Kita ragu guru mampu telaten, fokus dan ikhlash. Justru para orangtua beserta komunitasnya punya kemampuan yang lebih banyak dalam hal ini, bahkan jauh lebih telaten, fokus dan ikhlash bila menyadari peran mendidiknya yang diamanahkan oleh Allah SWT.

Semestinya, bagi negara, lebih baik mendidik para orangtua agar sadar dan mampu mendidik anak anak mereka sebaik baiknya dengan akses kepada pengetahuan seluas luasnya daripada mendidik para guru dan membuat kurikulum detail seragam. Cukuplah negara memfasilitasi para orangtua untuk pendidikan usia dini dan dasar, lalu negara fokus pada perguruan tinggi dan riset.

Lalu terakhir Pak Menteri mengatakan bahwa kita ingin anak anak Indonesia menjadi pembelajar yang tangguh. Jadi inikah tujuan pendidikan sesungguhnya?

Perlu dicatat bahwa sekolah sekolah di Indonesia bahkan di dunia, umumnya berhenti sampai “Learning to Know” dan “Learning to do Examination”. That’s all. Memang ada sekolah yang memberikan akses seluasnya bagi siswa untuk memahami fenomena alam, buku yang beragam dsbnya, tetapi ingat bahwa “learning” tidak berhenti pada itu, harus menjadi peran dan manfaat bagi sekitarmya. Tujuan pendidikan harus selaras dengan tujuan penciptaan manusia itu sendiri, yaitu rahmatan lil alamin dan bashiro wa nadziro, memberi rahmat dan menebar manfaat.

Sebagaimana maksud “learning” seperti dikemukakan oleh Dellors, et.al, (1996) dalam naskah Learning: The Treasure Within adalah meliputi: Learning to know (belajar untuk tahu), Learning to do (belajar untuk bisa melakukan), Learning to live together (belajar untuk hidup bersama), Learning to be (belajar untuk menjadi).

Dalam perspektif pendidikan berbasis fitrah, “learning” adalah sebagian saja dari fitrah, yaitu fitrah belajar dan bernalar manusia yang sudah ada sejak lahir. Masih ada fitrah lainnya yang harus ditumbuhkan dalam pendidikan bukan hanya tentang belajar, tetapi fitrah bakat, fitrah seksualitas, fitrah sosial, fitrah estetika, fitrah iman dstnya.

Sejujurnya rumah dan jamaahlah, orangtua dan komunitaslah yang mampu melakukannya lebih tajam dan maksimal apabila dimampukan dan diberi kesempatan tentu saja.
Maka wahai para orangtua, jadilah para arsitek pendidikan bagi anak anak kita sendiri, jadilah arsitek peradaban bagi masa depan generasi ummat ini.

Jangan mau cuma jadi pelanggan dan penitip masa depan anak anak kita pada lembaga dan birokrat yang tidak pernah mengenal anak anak kita sebaik kita, tidak pernah tahu apa yang anak anak kita rasakan dan fikirkan.

Mari kita buktikan bahwa kurikulum pendidikan rumahan bukan menghasilkan generasi murahan yang cuma menjajakan ijasah dengan kedewasaan dan akhlak yang jauh tertinggal sebagaimana dihasilkan kurikulum yang konon sudah berusia 200 tahun itu.

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#pendidikanberbasispotensi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s