Harry Santosa – Millenial Learning Center

Sesungguhnya tiap anak lahir dengan membawa fitrah yang indah dan unik, walaupun ada diantara anak anak ini yang disebut orang dengan “berkebutuhan khusus”. Tetaplah fitrah mereka indah dan islam.

Dalam fitrah inilah tersimpan benih bagi bunga bunga peradaban terbaik di masa depan jika ditumbuhkan sesuai fitrahnya itu. Kita hanya perlu meyakini dan mensyukuri fitrah ini.

Yang sering kita temukan justru sesungguhnya adalah “orangtua berkebutuhan khusus”, orangtua yang kurang yakin dan kurang syukur, kurang shabar dan kurang konsisten, kelebihan panik dan kelebihan obsesif, kelebihan pesimis dan kelebihan negatif, kurang rileks dan kurang optimis.

Diantara mereka ada juga yang (maaf) “mati rasa” , tidak sadar dirinya dan tidak tahu diri harus bagaimana.

Ilmu mendidik, termasuk ilmu parenting semestinya adalah ilmu yang sederhana bukan ilmu yang rumit dan njlimet. Bagaimana tidak? Karena orangtua dan anak, sesungguhnya sudah diberikan bekal dan benih kebaikan.

Para Orangtua telah Allah bekalkan dengan begitu banyak hikmah sejak diamanahkannya satu atau lebih khalifah cilik di rumahnya. Begitu juga anak anaknya, telah “well installed” benih kebaikan yaitu fitrah. Bahkan fitrah ini sudah Islam dan lurus, hanif dan jernih. Tidak perlu Islamisasi fitrah.

Jadi apa yang dikhawatirkan para orangtua sesungguhnya adalah bukan kecemasan pada anak anaknya tetapi refleksi kecemasan pada dirinya sendiri.

Kecemasan ini misalnya kecemasan akan ketidakmampuan dirinya sendiri, kecemasan tidak mampu lagi memerankan peran sejatinya sebagai orangtua, kecemasan tidak mampu menangkap hikmah hikmah yang Allah curahkan dengan banyak pada mereka sejak menjadi orangtua dan yang lebih buruk adalah kecemasan tidak mampu menjaga dan merawat serta menumbuhkan fitrah anak anaknya.

Kecemasan ini kemudian direfleksikan kepada anak anak mereka dengan perilaku irasional yaitu dengan menggegas apapun pada anak anaknya. Ingin anak hafal alQuran sejak dini, ingin anak diboarding school sedini mungkin, ingin anak cerdas semua hal sedini mungkin, ingin membentengi anak dengan benteng setinggi dan setebal mungkin, dstnya. Intervensi, manipulasi, sterilisasi menjadi andalan mereka padahal itu sekaligus alat sempurna menghancurkan fitrah anak anaknya.

Mereka lalai pada fitrah anak anaknya, mereka tidak menyadari bahwa tiap anak unik dan memerlukan sentuhan mendidik yang berbeda, mereka lupa bahwa fitrah manusia bisa rusak dan tersimpangkan jika tidak hati hati merawatnya.

Banyak orangtua suka membanding bandingkan anaknya dengan anak keluarga lain, suka terobsesi dengan kesuksesan keluarga lain menurut kacamata sempitnya.

Berhentilah membanding bandingkan, ingat bahwa bisa saja dalam sebuah keluarga, anak mereka nampak cemerlang dengan segudang prestasi sejak anak anak sampai remaja, juara berbagai kompetisi, memiliki banyak hafalan dstnya, namun itu bukan selalu pertanda keberhasilan mendidik.

Kita tidak pernah tahu, apakah kehebatan di keluarga itu lahir karena selaras kesejatian fitrahnya atau pacuan obsesi kedua orangtuanya. Waktu yang akan menjawabnya. Jangan silau!

Yang kita butuhkan sesungguhnya hanyalah keyakinan dan kebersyukuran untuk menumbuhkan apa yang Allah karuniakan pada anak anak kita sendiri dan keluarga kita sendiri.

Kalau sudah begini, sesungguhnya ini masuk domain keimanan, yaitu lemahnya keyakinan pada Allah SWT. Kelemahan iman yang melahirkan lemahnya keberanian, kurangnya ketenangan, menurunnya keoptimisan dan melanturnya konsistensi.

Karenanya semua cerita tentang keberhasilan menumbuhkan fitrah anak lalu menghantarkan mereka menuju peran peradaban yang selaras fitrahnya adalah cerita tentang keimanan yang melahirkan ketenangan dan kebersyukuran.

Maka para orangtua “berkebutuhan khusus” ini butuh untuk kembali kepada fitrahnya, ini adalah cerita tentang bagaimana para orangtua ini kembali kepada Allah sebelum mendidik, kembali kepada kesejatian fitrah peran keayahan dan keibuannya sebelum bertindak gegabah dan ceroboh lebih jauh.

Ribuan seminar dan pelatihan tidak akan merubah sedikitpun perilaku, jika belum meyakini bahwa Allah berperan penuh dalam proses mendidik ini, bahwa Allah telah bekalkan sebaik baiknya fitrah diri dan fitrah anak anaknya.

Berhentilah cemas. Kuatkanlah niat. Jawablah panggilan Allah untuk mendidik anak kita dengan mata, telinga, hati dan tangan kita sendiri. Yakinlah Allah akan memampukan mereka yang terpanggil.

Mendekatlah kepada Allah yang banyak selama masa mendidik anak anak. Agar Allah berikan qoulan sadida, yaitu tutur dan ucapan indah berbobot, fikiran dan gagasan yang bernas dan bermutu, tindakan dan perilaku yang menginspirasi dan layak diteladani.

Mendidik anak sesungguhnya mendidik diri sendiri. Raise our child, raise ourselves.

Inilah kesempatan terbaik. Jika ingin membuat hubungan lebih dekat dan lebih baik dengan Allah, maka mendidiklah anak dengan sedekat dekatnya dan sebaik baiknya. Jika ingin kembali kepada fitrah kita sebagaimana ketika kita dilahirkan maka kembalilah mendidik dan merawat fitrah anak anak kita dengan sungguh sungguh. Kita akan bertemu dengan begitu banyak kesejatian yang indah mempesona.

“Barang siapa menggembirakan hati anaknya, maka pahalanya setara pahala orang yang menangis karena takut kepada Allah”

Kembali untuk mendidik fitrah anak anak kita berarti kembali kepada kesejatian fitrah kita.
Temukan cahaya sejatimu di dalam cahaya sejati anak anakmu.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasispotensi
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s