Najelaa Shihab
Inisiator Komunitas Guru Belajar, Dosen Kampus Guru Cikal

Kampus Guru Cikal
Sunday, October 30, 2016

Bukan tidak sengaja Temu Pendidik Nusantara 2016 dibuka pada 28 Oktober, hari Sumpah Pemuda. Saya ingat waktu belajar dan mengajar sejarah, salah satu bayangan melekat tentang Kongres Pemuda 1928 adalah situasi sulit yang tidak memungkinkan bahkan sekedar untuk menyanyikan lagu kebangsaan dengan lirik kata “merdeka”.

Saat ini, tantangan pemuda yang belajar dan mendidik bukan di kata-kata, tetapi dalam mempraktekkan merdeka belajar setiap harinya. Kita bersama sedang melawan miskonsepsi yang selama ini menjadi belenggu proses pengembangan diri guru.
Miskonsepsi 1: Guru hanya akan belajar bila menerima insentif; sertifikat, ranking, nilai atau uang.
>> Kami yakin bahwa belajar adalah kebutuhan alamiah guru. Dorongan belajar muncul karena ingin menemukan solusi masalah yang dihadapi di kelas dan gemar belajar tumbuh karena pengalaman berhasil mencapai tujuan pendidikan.
Miskonsepsi 2: Guru hanya bisa belajar dari pakar dan ahli.
Walaupun sering mengalami metode “diceramahi”, kami membuktikan bahwa guru belajar lebih efektif dari kolaborasi dengan sesama guru. Sumber inspirasi bukan figur yang serba tahu dan sempurna, tapi rekan seperjalanan yang realistis dengan pengalaman nyata, dan praktis, seringkali gagal sebelum berhasil.

Suasana pertemuan Penggerak Komunitas Guru Belajar dari lebih 38 daerah di Indonesia. Guru lebih efektif belajar dari guru yang lain
Miskonsepsi 3: Guru hanya perlu mengikuti resep standar, “how to” bagaimana melakukan sesuatu.
>> Banyak yang percaya hanya ada satu kriteria guru efektif. Padahal pertanyaan utama efektivitas harus dikaitkan dengan konteks. Efektif untuk siapa, di mana? Salah satu tanda pendidik profesional adalah kemampuan adaptif. Kita perlu tahu “kenapa”, agar bisa menyesuaikan apa yang dilakukan dengan kebutuhan murid, orangtua dan lingkungan belajar di tahun ajaran ini dan di hari ini.
Miskonsepsi 4: Pengembangan guru bisa dilakukan instan, dipaksakan dengan target terburu-buru.
>> Kita tahu, bahwa dunia saat ini kelimpahan informasi, pendidikan tidak pernah kekurangan inovasi. Yang selalu kurang adalah waktu mengimplementasikan inovasi. Guru butuh waktu memahami dan memutuskan apakah inovasi ini sesuai, perlu dimodifikasi atau tidak bisa dipakai. Guru butuh proses berefleksi untuk bisa berkreasi.
Miskonsepsi 5: Kompetensi guru adalah soal kemampuan dan pengukuran individu.
>> Saya percaya potensi individu akan berhasil muncul dalam bentuk kompetensi hanya bila ada ekosistem yang mendukung. Tidak ada seorang pendidik pun yang bisa belajar sendirian, kompeten sendirian dan merdeka belajar sendirian.
Temu Pendidik Nusantara- konferensi Komunitas Guru Belajar, membulatkan tekad, bukan sembarang guru yang dibutuhkan untuk reformasi pendidikan, tapi guru YANG MERDEKA BELAJAR. Kita perlu bersuara lebih lantang dan bermakna lebih banyak.
“Semua Murid, Semua Guru”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s